Santri Ponpes Krapyak Yogya Olah Sampah Jadi Solar, Biogas, hingga Kursi

27 September 2025 14:21 WIB
ยท
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Santri Ponpes Krapyak Yogya Olah Sampah Jadi Solar, Biogas, hingga Kursi
"Nek Ora Gelem Ngeresiki Ojo Ngeregeti" yang berarti "jika tak mau membersihkan jangan mengotori" jadi pondasi para santri ketika mendirikan Krapyak Peduli Sampah.
kumparanNEWS
Tembok di Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum, Bantul, DI Yogyakarta, Sabtu (27/9/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Tembok di Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum, Bantul, DI Yogyakarta, Sabtu (27/9/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Kalimat "Nek Ora Gelem Ngeresiki Ojo Ngeregeti" sebuah petuah dari KH Ali Maksum terpampang di dinding lokasi pengolahan sampah milik Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum yang berada di Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Petuah bermakna "jika tak mau membersihkan jangan mengotori" jadi pondasi para santri ketika mendirikan Krapyak Peduli Sampah.
Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum, Bantul, DI Yogyakarta, Sabtu (27/9/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Sebuah wadah yang terbentuk 12 Juli 2023 silam, ketika darurat sampah melanda Yogyakarta dan sekitarnya.
"Krapyak Peduli Sampah adalah sebuah inisiatif mulia yang lahir dari semangat menjaga lingkungan para santri Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta," kata Direktur Krapyak Peduli Sampah, Andika Muhammad Nuur.
Direktur Krapyak Peduli Sampah, Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogya, Andika Muhammad Nuur, Sabtu (27/9). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Kala 2023, TPA Piyungan kerap tutup akibat darurat sampah. Sementara untuk tetap bisa membuang sampah yang per harinya mencapai 2 ton, ponpes harus mengeluarkan Rp 12 juta per bulan karena menggunakan jasa swasta.
Andika bilang lahirnya Krapyak Peduli Sampah atas ridho para pengasuh pondok serta dukungan para kyai dan nyai. Siapa sangka pondok yang dahulu harus mengeluarkan jutaan rupiah untuk membuang sampah kini justru bisa dapat untung dari sampah.

Kurangi Sampah jadi 100 Kilogram

Santri Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum mengolah sampah, Sabtu (27/9/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Pertama kali terbentuk, Krapyak Peduli Sampah fokus pada mengurangi volume sampah dari 2 ton menjadi 100 kilogram sampah per hari.
"Apa kebijakannya? Kok bisa kita 2 ton jadi 100 kilogram per hari," jelasnya.
Kebijakan pertama, para kyai dan nyai mendidik para santri untuk disiplin memilah sampah. Ini turut mengamalkan petuah KH Ali Maksum, salah satu pendiri ponpes.
"Bagaimana mendidik santri agar bisa memilah sampah," katanya.
Di ponpes ini total ada lebih dari 2 ribu santri lebih. Butuh sekitar tiga bulan untuk membudayakan mereka disiplin memilah sampah.
Santri Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum, Bantul, DI Yogyakarta olah sampah jadi solar, biogas, kursi hingga paving block, Sabtu (27/9/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Ponpes memiliki 20-30 macam pemilahan sampah. Di antaranya plastik transparan, plastik kresek, plastik keras, mika, botol plastik, botol kaca, gelas plastik, alumunium, besi, styrofoam, tisu, kertas putih, kaleng, kertas minyak, alat mandi, baju bekas, sandal, karton, kardus, hingga sampah organik dan lain sebagainya.
Santri yang disiplin memilah sampah akan mendapat penghargaan berupa uang. Tetapi mereka yang tak disiplin juga mendapat hukuman. Hukumannya adalah sampahnya tak kunjung diambil oleh petugas.
Kebijakan kedua ada mengurangi produksi sampah plastik di kantin. Dahulu beli makanan pasti dibungkus plastik kini diganti dengan piring.
"Beli gorengan satu dikasih plastik dulu ada. Kan boros (sampah) sekali. Beli es pakai plastik. Semenjak memulai program ini semua pakai piring. Itu sangat berpengaruh pada volume sampah," katanya.
Minimarket milik ponpes juga turut berkontribusi menyukseskan program ini. Misal yang dulu masih menjual sampo saset diubah hanya menjual sampo botolan. Botol ini jauh lebih bermanfaat dan mudah diolah.
"Prinsip kami sampah tidak ada. Sampah ada ketika campuran organik dan anorganik. Itu dicampur namanya sampah. Nasi dan kertas dicampur itu sampah. Kalau dipilah semua itu namanya komoditas," bebernya.

Sampah Jadi Biogas untuk Masak

Santri Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum memasak menggunakan biogas, Sabtu (27/9/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Memegang prinsip "sampah hari ini selesai hari ini" Krapyak Peduli Sampah lalu mengolah 100 kilogram sampah per hari yang masih dihasilkan santri.
Sampah organik diolah dengan biodigester adalah reaktor. Ia teknologi pengolah limbah organik untuk menghasilkan biogas dan pupuk cair atau padat melalui proses fermentasi anaerobik. Biogas yang dihasilkan digunakan untuk menghidupkan kompor yang bisa digunakan santri untuk memasak sehari-hari.
"Biogas untuk memasak. Yang kedua (pupuk) padat digunakan untuk media tanam. Yang cair untuk pupuk organik," bebernya.
Selain itu santri juga membuat biopori, mini biopori, ternak maggot untuk pakan ikan dan ayam. Telur yang dihasilkan ayam kemudian dikonsumsi para santri. Sementara maggot juga dijual ke masyarakat.
"Kita juga punya peternakan ikan. Di sini ada perkebunan organik juga. Air dari ikan tidak kita buang kita buat untuk siraman tanaman. Ternak ayam kita juga punya ayam petelur untuk anak-anak santri juga," bebernya.
"Pengolahan ini juga sangat jauh dari kompleks pesantren jadi tidak akan berpengaruh pada penyakit dan kenyamanan," katanya.
Pupuk juga digunakan untuk menyuburkan tanaman yang santri tanam. Hasil panenan juga akan kembali ke santri.

Buat Solar dari Sampah Plastik

Santri Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum menunjukkan solar hasil olahan sampah, Sabtu (27/9/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Solar yang digunakan untuk menghidupkan mesin biodigester juga diproduksi sendiri dari plastik dan minyak jelantah yang disuling menjadi bahan bakar solar.
"Ini solar terbuat dari sampah plastik. Semua sampah plastik yang sudah dikumpulin kita bawa dan sampai sini kita masukkan ke alat terus kita bakar kita dinginkan dan jadi BBM. Saat ini masih bahan bakar mentah. Kita saring hasilnya bersih," kata Fajrul santri yang bertugas membuat solar.
Sebelum ada alat ini santri harus beli solar untuk menghidupkan biodigester. Dengan inovasi ini tak ada lagi biaya yang dikeluarkan untuk mengolah sampah.
"Ini nol rupiah. Kita buat alat (pembuat solar ini) dana dari ngelola sampah," kata Fajrul.

Sampah Anorganik jadi Kursi

Santri Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum mengolah sampah, Sabtu (27/9/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Andika menjelaskan sampah anorganik lain seperti botol-botol dibuat menjadi ecobrick yang disusun menjadi kursi. Karya ini juga telah dibeli oleh Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogya.
"Ini hanya modal paling mentok Rp 30 ribu untuk sarung (kursi) dan kaki. Kita jual Rp 250 ribu," kata Andika.
Selain itu sampah plastik dibuat menjadi paving block. Paving itu menurut Andika berkualitas dan akan dipasang di pondok.
Ada pula kaligrafi hingga sandal dari limbah plastik multilayer. Lalu media tanam dari bekas pembalut dan tisu.
"Tidak ada (sampah) yang tidak bermanfaat (baik organik maupun anorganik)," jelasnya.

Pernah Untung Rp 10 Juta Per Bulan

Santri Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum mengolah sampah, Sabtu (27/9/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Kini ponpes tak mengeluarkan uang sama sekali untuk mengelola sampah.
"Kita nol rupiah dan bahkan pernah omzet itu per bulan Rp 10 juta. Pernah omzet segitu dari menjual rongsok. Dari jual kaya gini (kursi dari sampah), kita juga buat thrifting. Ada kaus yang tidak terpakai kita cuci bersih kita jual kembali," jelasnya.
Ilmu pengolahan sampah ini didapat santri dari belajar otodidak di internet, hasil coba-coba, serta belajar dari yang ahli seperti ke Lurah Panggungharjo zaman dahulu yakni Wahyudi Anggoro Hadi, yang selama ini konsen pada lingkungan dan pengolahan sampah.

Sampah Bisa Selesai di Ponpes

Santri Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum memasukkan sampah organik ke mesin biodigester, Sabtu (27/9/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Andika bilang ponpes juga mempersilakan warga membuang sampah gratis di sini selama sampah tersebut sudah dipilah. Warga yang punya ternak juga diperbolehkan mengambil pakan di sini.
Selama ini banyak pondok pesantren maupun instansi yang belajar pengelolaan sampah di sini.
"Kami jadi salah satu koordinator pengolahan sampah pondok-pondok di Yogyakarta yang dibawahi RMI PWNU," katanya.
Menurut Andika jika pola seperti ini bisa diterapkan oleh ponpes di Indonesia atau setidaknya di DIY maka perlahan persoalan sampah teratasi.
"Sangat bisa dan sangat memungkinkan hal itu. Maggot itu berapa ton sampah bisa. Plastik kita buat cuan juga bisa. Sangat-sangat mungkin," bebernya.
Para santri di sini juga diminta jadi agen perubahan ketika telah kembali ke kampungnya atau berprofesi di berbagai bidang pekerjaan di masyarakat.
Trending Now