Santri yang Di-bully di Pesantren Lamongan Dapat Pendampingan Psikologi

6 November 2025 14:51 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Santri yang Di-bully di Pesantren Lamongan Dapat Pendampingan Psikologi
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memberikan pendampingan psikologis terhadap FAR (14) yang jadi korban perundungan di pesantren di Lamongan.
kumparanNEWS
Sebuah layar ponsel menampilkan cuplikan dugaan perundungan kepada FAR (14) oleh temannya saat di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Lamongan. Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah layar ponsel menampilkan cuplikan dugaan perundungan kepada FAR (14) oleh temannya saat di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Lamongan. Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memberi pendampingan psikologis terhadap FAR (14) remaja asal Wonorejo, Surabaya, yang menjadi korban perundungan dari teman sekamarnya di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Lamongan.
Kepala DP3APPKB Surabaya, Ida Widayati, mengatakan FAR mengalami trauma akibat insiden yang dialaminya itu.
"(Kasus) yang berkaitan kasus Ponpes Lamongan, korban sudah kita dampingi. Dari Senin kemarin," kata Ida saat dikonfirmasi, Kamis (6/11).
Ida menyampaikan, FAR kini tak mau melanjutkan pendidikannya di ponpes tersebut. Sebab, ia merasa sering mengalami perundungan di sana.
"Kondisi korban trauma dan enggak mau lagi (kembali) ke pesantren. Pemicunya pelaku sering mencuri baju-baju korban," ucapnya.
Ida mengatakan, dari informasi yang didapat, pihak keluarga korban telah melakukan proses mediasi. Namun, keluarga FAR meminta proses hukum tetap berjalan.
"Karena proses hukumnya di Polres Lamongan, maka pendampingan hukumnya dilakukan oleh UPTD PPA Provinsi Jatim," katanya.
"Infonya hari ini dilakukan proses mediasi di Polres Lamongan. Tapi ibu korban menginginkan proses hukumnya berlanjut," imbuhnya.
Winda Nurjannah (32), ibu dari FAR (14), bocah pria yang diduga dirundung oleh temannya saat di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Lamongan. Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan
Sebelumnya, orang tua korban, Winda Nurjannah (32), menceritakan putranya tersebut telah mengalami perundungan oleh temannya sejak kelas 7 atau sekitar dua bulan sejak masuk ponpes, tepatnya bulan September 2024. Namun, selama ini korban tidak menceritakan apa yang ia alami ke orang tuanya.
"Pemicunya anaknya itu (RR) memang tukang (bully) di teman-temannya, itu juga anak saya itu banyak korban-korban lainnya," ujar Winda saat ditemui di rumahnya, Rabu (5/11).
"(FAR dibully) cemen, banci gitulah olok-olokannya itu. Enggak berani, suka bilangin ke orang tua, suka ngadu ke guru gitu. Terus anak saya ini enggak kerasan. Tiap bulan itu sakit anak saya. Paru-paru, sampai kena paru-paru," tambahnya.

Baju Diambil Terus

Selama di pondok, barang-barang milik FAR seringkali diambil oleh pelaku, salah satunya pakaian korban. FAR mencoba menegur terduga pelaku, namun malah dianiaya oleh terduga pelaku.
"Bajunya dan barang-barangnya itu seringkali hilang. Jadi saya ngomong kalau misalnya hilang, tak belikan lagi nak, enggak apa-apa. Kalau berapa baju enggak ngitungin ya soalnya itu banyak, ya tas, ya sepatu, tapi saya ya enggak menuduh satu orang sih cuma saya ini tahunya yang satu itu kemarin ngambil baju itu. Di jemurannya dia dan sering kali kayak ngerjain gitu loh maksudnya," ucapnya.
Hingga puncaknya pada tanggal 7 Oktober 2025, FAR mengetahui bajunya yang hilang ada di jemuran RR. FAR menegur RR tapi malah mengelak dan mengolok-olok korban hingga terjadi pertengkaran.
"Kebetulan waktu itu ada di jemuran si RR ini. Anak saya enggak niat berantem, enggak niat berkelahi. Anak saya hanya tanya, 'ini bajuku kenapa kamu ambilin terus?' Sering kan dikerjain gitu loh. Malah membabi buta kayak itu tadi, malah nantang, malah ngolok-ngolok yang banci, kamu itu takut. Aku itu enggak sengaja," ujarnya.

Pengeroyokan Terekam CCTV

Winda pun berusaha mencari tahu penyebab anaknya mengalami lebam dengan meminta rekaman CCTV saat kejadian. Hingga pada tanggal 9 Oktober 2025, Winda diberikan rekaman CCTV oleh pihak pondok dan terlihat anaknya dianiaya oleh dua orang.
"(Di rekaman CCTV, FAR) dibanting, dicekik, ditonjok itu bagian mata, kepala, hidung, sampai mimisan loh anak saya itu," ucapnya.
Trending Now