Satgas Rehabilitasi Bencana Sumatera: 25 Desa Hilang Akibat Banjir dan Longsor

8 Januari 2026 18:41 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Satgas Rehabilitasi Bencana Sumatera: 25 Desa Hilang Akibat Banjir dan Longsor
Ketua Satgas rehabilitasi pascabencana Sumatera, Tito Karnavian mengatakan, hingga saat ini tercatat ada 25 desa yang hilang akibat diterjang banjir dan longsor.
kumparanNEWS
Mendagri Tito Karnavian memimpin Rapat Koordinasi Pendataan Kerusakan Rumah, Fasilitas Umum, dan Jumlah Pengungsi Terbaru Pascabencana di Wilayah Sumatera yang digelar secara virtual dari Jakarta, Selasa (6/1/2026). Foto: Kemendagri RI
zoom-in-whitePerbesar
Mendagri Tito Karnavian memimpin Rapat Koordinasi Pendataan Kerusakan Rumah, Fasilitas Umum, dan Jumlah Pengungsi Terbaru Pascabencana di Wilayah Sumatera yang digelar secara virtual dari Jakarta, Selasa (6/1/2026). Foto: Kemendagri RI
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus Ketua Satgas rehabilitasi pascabencana Sumatera, Tito Karnavian mengatakan, hingga saat ini tercatat ada 25 desa yang hilang akibat diterjang banjir dan longsor.
25 Desa yang hilang tersebut terdiri dari 17 desa di Provinsi Aceh dan 8 desa di Sumatera Utara.
โ€œAceh menyampaikan juga ada kampung yang lain yang hilang. Tadinya 13, menjadi 17. Ini akan kita cross check lagi. Apakah hilang betul karena terbawa banjir, longsor, ataukah terisolasi,โ€ kata Tito di Kantor Kemendagri, Kamis (8/1).
"Di Sumut masih tetap sama, 8. Jadi ada 25 kira-kira jumlah desa yang hilang per hari ini," tambahnya.
Tito mengungkapkan, pemerintah terus berupaya untuk mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Salah satunya adalah dengan pembangunan hunian tetap (huntap).
Kondisi usai banjir bandang dan longsor di Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Foto: Bakom RI
Ia menyebutkan, masyarakat yang memilih membangun hunian secara mandiri, pemerintah akan memberikan bantuan uang sebesar yang dialokasikan untuk pembangunan huntap.
Adapun huntap ini diperuntukkan bagi masyarakat yang huniannya masuk kategori rusak berat.
"Bisa saja yang bersangkutan tidak ingin relokasi tapi dia pindah ke tempat yang dia pilih sendiri. Kalau yang dipilih sendiri, otomatis dia akan diberikan biaya indeksnya kalau membangun sendiri ya Rp 60 juta diberikan,โ€ ujarnya.
Anak-anak melintas di samping rumahnya yang rusak akibat kayu gelondongan yang terbawa oleh banjir dan tanah longsor di Desa Toweren Uken, Lut Tawar, Aceh Tengah, Aceh, Jumat (2//1/2026). Foto: ANTARA FOTO/Irwansyah Putra
Tito menyebut lokasi desa yang hilang ini memang secara geologis adalah daerah rawan bencana. Maka dari itu, pemerintah tidak menyarankan agar warga kembali membangun tempat tinggal di area yang sebelumnya hilang.
"Kan hilangnya itu bisa saja terjadi longsor atau terjadi banjir bandang ya, kemudian sudah kering. Tapi kalau kembali ke situ lagi, mungkin kalau ada kejadian lagi, mudah-mudahan nggak, bisa rawan lagi," pungkasnya.
Trending Now