Sengketa Korsel-Google Maps karena Masalah Kirim Data Peta

14 November 2025 13:08 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sengketa Korsel-Google Maps karena Masalah Kirim Data Peta
Google telah berbulan-bulan meminta izin mengekspor data peta Korsel supaya Google Maps bisa beroperasi penuh. Namun, Korsel menunda keputusan pemberian izin ekspor data.
kumparanNEWS
Ilustrasi ikon aplikasi Google Maps di smartphone. Foto: REUTERS Dado Ruvic
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ikon aplikasi Google Maps di smartphone. Foto: REUTERS Dado Ruvic
Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, dan Transportasi Korsel kembali menunda keputusan terkait permintaan izin Google untuk mengekspor data peta. Keputusan akhir akan dibuat setelah Google menyerahkan dokumen tambahan.
Dikutip dari Reuters, Jumat (14/11), pemerintah mengatakan Institut Informasi Geografis Nasional (NGII) akan memberi Google waktu 60 hari kerja hingga 5 Februari 2026 untuk menyerahkan dokumen tambahan sebelum membuat keputusan.
Korsel sebelumnya menolak permintaan izin menggunakan data peta di server luar negeri dari Google pada 2016 dan 2017 dengan alasan keamanan.
"Kami selama berbulan-bulan telah aktif bekerja sama dengan pemerintah Korea dan berkomitmen untuk bekerja sama dengan mereka demi membantu semua pengguna, baik di Korea dan global, mendapatkan keuntungan dari Google Maps," kata Google dalam pernyataan yang dikirim ke Reuters.
Google pada September lalu menyatakan akan mematuhi permintaan Korsel terkait keamanan untuk memastikan bahwa informasi koordinat wilayah dalam negeri tidak ditampilkan kepada pengguna mana pun, baik di dalam maupun di luar Korsel. Google juga setuju untuk mengaburkan gambar fasilitas keamanan.
Namun, pemerintah Korsel pada Selasa (11/11) mengatakan Google masih belum mengajukan permohonan terbaru terkait hal ini. Pemerintah mengatakan pernyataan Google tidak konsisten dan pengajuannya mempersulit peninjauan.
Google sedang mengajukan persetujuan untuk mengekspor data peta skala 1:5.000 Korsel, setara dengan 50 meter per sentimeter. Menurut Google, itu adalah skala yang sama yang digunakan layanan peta domestik yang disediakan Kakao Corp 035720.KS dan Naver 035420.KS.
Google saat ini beroperasi dengan data skala 1:5.000 dan 1:25.000 di Korsel, dan mengatakan data skala 1:25.000 tidak cukup untuk mendukung navigasi yang andal.

Kenapa Google Maps Tidak Akurat di Korsel?

Ilustrasi bus di Seoul, Korea Selatan. Foto: Tupungato/Shutterstock
Warga Korsel dan wisatawan asing yang datang ke Korsel menggunakan layanan Naver Map atau Kakao Map untuk navigasi sehari-hari. Google Maps memang bisa digunakan, tapi tidak bisa menunjukkan navigasi secara akurat dan informasi terkait transportasi umum sangat terbatas.
Dikutip dari Newsweek, upaya Google untuk meningkatkan layanan Google Maps di Korsel telah dimulai sejak 2010-an. Menurut Google, peta skala 1:5.000 jauh lebih akurat dibandingkan peta skala 1:25.000. Google berargumen peta skala 1:5.000 merupakan standar dan penting untuk navigasi modern.
Namun, Korsel rupanya mengklasifikasikan data peta tersebut sebagai aset keamanan nasional dan melarang data itu diekspor ke server luar negeri tanpa persetujuan pemerintah.
"Secara global, tidak ada negara yang membutuhkan persetujuan pemerintah untuk memproses peta dasar (dengan skala) 1:5.000," kata direktur komunikasi global di Google Korea, Yoo Young-seok, dikutip dari The Korea Times.
Yoo menegaskan bahwa peta dengan skala 1:5.000 adalah peta dasar nasional yang disetujui NGII dan telah digunakan oleh layanan peta dalam negeri.
Pemerintah Korsel pada 2016 pernah mengajukan proposal agar Google membangun data center lokal untuk menghindari data dieskpor ke server luar negeri. Namun, perwakilan Google di Korsel mengatakan proposal itu bukan solusi yang layak.
"Memiliki pusat data di sini (Korsel) bukanlah masalah besar, tapi kami menghadapi keterbatasan teknologi yang mengharuskan kami memproses data di luar negeri," kata
"Kami akan membentu sistem respons untuk meningkatkan komunikasi dengan pemerintah Korea dan segera mengatasi kekhawatiran mereka," lanjutnya.
Trending Now