Senyar, Badai Paling Mematikan di Asia Tenggara 2025: Lebih 600 Orang Tewas
1 Desember 2025 13:26 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
Senyar, Badai Paling Mematikan di Asia Tenggara 2025: Lebih 600 Orang Tewas
Senyar, badai dahsyat yang terjadi di daerah tropis yang lazim disebut siklon, menjadi badai paling mematikan di Asia Tenggara tahun ini. Lebih 600 orang tewas di 3 negara, utamanya di Indonesia.kumparanNEWS

Senyar, badai dahsyat yang terjadi di daerah tropis yang lazim disebut siklon, menjadi badai paling mematikan di Asia Tenggara tahun ini. Lebih 600 orang tewas di tiga negara, utamanya di Indonesia dan Thailand.
Senyar juga dinyatakan siklon tropis pertama yang terbentuk di Selat Malaka yang sempit, padahal biasanya siklon tropis terbentuk di lautan luas yang hangat.
Senyar juga terbentuk terlalu dekat dengan garis Khatulistiwa. Padahal menurut rumus normal yang dianut selama ini, siklon tropis tidak dapat terbentuk di sekitar garis Khatulistiwa sehingga sering dinyatakan Indonesia aman dari siklon.
Sebelum terbentuk sebagai siklon tropis Senyar, sistem badai ini lebih dulu merupakan bibit siklon tropis bernama 95B. BMKG mendeteksi lahirnya bibit itu pada 21 November.
Ketika masih menjadi bibit, calon siklon Senyar ini telah memicu cuaca tak bersahabat di Sumatera bagian utara, Thailand bagian selatan dan Malaysia yang berbatasan dengan Thailand. Thailand dan Malaysia lebih dulu dilaporkan terkena banjir dahsyat dibanding Sumatera.
Senyar Artinya Singa
Hingga akhirnya, pada 26 November pagi, bibit tersebut resmi berkembang menjadi siklon tropis dan dinamakan βSenyarβ.
Nama βSenyarβ diberikan oleh India Meteorological Department (IMD) β sebagai otoritas yang bertanggung jawab untuk wilayah Samudera Hindia bagian utara.
Menurut media India, nama Senyar diberikan berdasarkan daftar nama yang diusulkan oleh anggota panel penamaan siklon di wilayah tersebut β dalam hal ini usulan berasal dari Uni Emirat Arab (UEA). βSenyarβ berarti βsingaβ.β
Senyar lalu mengamuk di Sumatera, memicu banjir, banjir bandang, dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Korban jiwa hingga Minggu (30/11) malam mencapai 442, dan korban hilang 400-an.
Sedangkan di Thailand, korban tewas mencapai 170-an dan masih banyak yang hilang. Sementara di Malaysia, mengutip Reuters, korban tewas 3 orang.
Senyar juga melakukan pendaratan (landfall) di Aceh β dan setelah melemah juga mendarat di kawasan Malaysia. Landfall adalah momen ketika pusat badai bergerak melintasi garis pantai dan masuk ke daratan. Landfall adalah fase yang paling berbahaya dan merusak.
Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem bahkan menyebut daerahnya seperti terkena "tsunami kedua" karena efek Senyar ini. Tsunami hebat terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004 dan menewaskan ratusan ribu orang.
Pada 28 November 2025, Senyar melemah dan namanya menjadi Ex-Siklon Tropis Senyar.
Setelah itu mantan Senyar terus melemah, mengarah ke lautan luas di Laut China Selatan, bagian dari Samudera Pasifik Barat Laut. Sempat ada kekhawatiran mantan Senyar akan menguat kembali menjadi badai dahsyat di lautan yang menjadi wewenang otoritas Jepang itu. Jika menguat lagi, namanya ada kemungkinan berubah menjadi Topan Nokaen. Namun, kekhawatiran tersebut hingga kini tak terjadi.
Meski intensitas Senyar saat ini telah punah, tetap memberi dampak tak langsung berupa hujan deras di Sumatera hingga awal Desember.
Lebih Dahsyat Dibanding Seroja
BMKG menyatakan, Senyar lebih dahsyat dibandingkan Siklon Tropis Seroja pada April 2021 yang mengamuk di NTT. Kala itu Seroja menewaskan 183 warga dan puluhan lainnya hilang.
Seroja β nama sumbangan BMKG Indonesia karena terbentuk di wilayah tanggung jawab mereka β juga menewaskan 42 orang di Timor Leste dan 1 orang di Australia.
Pada 2024, Asia Tenggara juga terkena badai dahsyat yang dinamai Topan Yagi. Korbannya antara 844 hingga 1.009 orang. Topan yang dinamai oleh otoritas Jepang ini melanda Myanmar, Filipina, dan Vietnam.
