"Serangan" Sampah di Pantai Kuta saat Musim Hujan Tiba, Pedestrian Rusak

14 November 2025 18:10 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
"Serangan" Sampah di Pantai Kuta saat Musim Hujan Tiba, Pedestrian Rusak
Pantai Kuta di Kabupaten Badung, Bali, diserang sampah, Jumat (14/11). Tumpukan sampah berserak di pinggir dan tengah pantai.
kumparanNEWS
Suasana Pantai Kuta di musim hujan yang dipenuhi sampah dan jalur pedestarian rusak. Foto: Denita BR Matondang/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana Pantai Kuta di musim hujan yang dipenuhi sampah dan jalur pedestarian rusak. Foto: Denita BR Matondang/kumparan
Pantai Kuta di Kabupaten Badung, Bali, "diserang" sampah, Jumat (14/11). Tumpukan sampah berserak di pinggir dan tengah pantai.
Seorang pedagang bernama Yasril (46 tahun), yang sudah berjualan sejak tahun 1998, mengaku Pantai Kuta memang setiap musim hujan diserang sampah kiriman dari laut. Sampah yang paling banyak berjenis plastik dan ranting-ranting kayu.
"Sampah kiriman mulai datang seminggu ini. Biasanya sampah paling banyak kalau puncak musim hujan itu Januari ke Februari, kita sih sudah biasa gini," katanya saat ditemui di lokasi.
Suasana Pantai Kuta di musim hujan yang dipenuhi sampah dan jalur pedestarian rusak. Foto: Denita BR Matondang/kumparan
Para pedagang, warga, komunitas, dan wisatawan asing biasanya bergotong royong mengumpulkan sampah. Sampah-sampah itu nantinya akan dibawa oleh petugas Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk dibuang ke TPA.
"Siapa saja boleh membersihkan. Namun kami pedagang wajib bergotong royong biar nggak malu dan wisatawan nggak terganggu. Pagi-pagi kami kumpulkan sampah ke tengah nanti siang ke sore ekskavator DLHK mengangkut," katanya.
Suasana Pantai Kuta di musim hujan yang dipenuhi sampah dan jalur pedestarian rusak. Foto: Denita BR Matondang/kumparan
Tak hanya diserang sampah, apabila cuaca ekstrem pada puncak musim hujan, ribuan ikan mati juga terdampar di Pantai Kuta. Bau bangkai menyelimuti wilayah pantai.
"Januari itu biasanya juga ada ribuan mati ikan terdampar. Itu bau bikin kita tak selera makan," katanya.
Suasana Pantai Kuta di musim hujan yang dipenuhi sampah dan jalur pedestarian rusak. Foto: Denita BR Matondang/kumparan
Pedagang lain bernama Cenni (56 tahun), yang juga sudah berjualan sejak tahun 1998, mengatakan, jalur pedestrian juga rusak akibat abrasi dan banjir rob. Banjir rob terjadi pada Minggu (9/11) lalu.
Pantauan kumparan, beton-beton lepas dari jalur pedestrian. Sejumlah bean bag chair tampak diletakkan sebagai tanda jalur pedestrian rusak, tak bisa dilintasi.
Pedagang membuat pagar bambu mencegah gundukan pasir semakin tergerus dan tangga memudahkan akses jalan ke arah pantai bagi pengunjung.
"Abrasi ya ada juga air pasang ombak besar airnya sampai ke dekat pagar," katanya.
Cenni mengatakan pedagang dan wisatawan sebenarnya terganggu dengan jalur pedestrian rusak. Dia berharap pemerintah segera memperbaiki agar pedagang, warga dan wisatawan bisa leluasa berjalan.
"Memang agak susah jalan dan mengganggu kenyamanan saat berjalan, harapannya segera diperbaiki saja," katanya.
Kondisi jalur pejalan kaki mengalami kerusakan di Pantai Kuta, Badung, Bali, Rabu (12/11/2025). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO
Sementara itu, salah satu wisatawan bernama Seriang (34 tahun) mengaku tak menyangka Pantai Kuta dipenuhi sampah dan jalur pedestrian rusak. Baginya, imajinasi dan realita tentang keindahan Pantai Kuta berbanding terbalik.
"Ini baru pertama kali ke Pantai Kuta. Ini kan ikon wisata Bali ya katanya sunset terindah di Pantai Kuta tapi ternyata ada sampah dan jalur pedestrian rusak. Gak nyangka sih. Semoga ditata lebih baik sih," katanya.
Kondisi jalur pejalan kaki mengalami kerusakan di Pantai Kuta, Badung, Bali, Rabu (12/11/2025). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO
Terpisah Kadis PUPR Kabupaten Badung, Agung Rama mengatakan, pihaknya saat ini masih menunggu pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) mengisi pasir dan memasang breakwater di sekitar pantai bagian selatan Bali.
Dia belum tahu kapan pengisian pasir dan pemasangan breakwater selesai. Tindakan awal yang dilakukan adalah melepas dan mengumpulkan beton.
"Bukan hancur ya, tapi lepas. Itu mutlak karena arus gelombang yang sangat tinggi di mana-masa bulan ini. Jadi langkah mitigasi kita merapikan dulu sambil menunggu kegiatan BWS mengisi pasir dan memasang breakwater selesai. Setelah itu baru kita memasang dan menata kembali," katanya.
Suasana Pantai Kuta di musim hujan yang dipenuhi sampah dan jalur pedestarian rusak. Foto: Denita BR Matondang/kumparan
Panjang jalur pedestrian yang rusak sekitar 75 meter. Jalur pedesterian ini baru dipasang sekitar tahun 2023 lalu. Agung tak mau disebut rusaknya jalur pedestrian ini menganggu kenyaman wisatawan.
"Menganggu sih enggak ya. Ini kan ga mungkin orang jatuh jalan di pasir. Kedua, kalau kita pasang tinggi rob lepas lagi. Kalau cidera di pasir tidak seperti dibayangkan jatuh orang dari motor. Jadi kita rapikan dulu betonnya kita ambil secara bertahap," katanya.
Trending Now