Siswa SMA di Lebak Ungkap Alasan Mogok Sekolah Massal
15 Oktober 2025 19:43 WIB
ยท
waktu baca 5 menit
Siswa SMA di Lebak Ungkap Alasan Mogok Sekolah Massal
Para siswa mengungkap alasan menggelar aksi mogok sekolah usai insiden kepsek tampar siswa yang merokok.kumparanNEWS

Siswa SMAN 1 Cimarga mengungkap alasan melakukan aksi protes mogok sekolah usai penamparan yang dilakukan Kepala SMAN 1 Cimarga Nonaktif Dini Pitria kepada siswa kelas XII, Indra Lutfiana Putra (17 tahun), karena kedapatan merokok di sekolah.
Aksi mogok sekolah itu terjadi pada 12-13 September 2025. Selama itu kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring.
Menurut para siswa, aksi mogok sekolah itu bukan sikap membela tindakan merokok yang dilakukan Indra. Siswa kelas XII berinisial A (17) mengatakan hal itu dilakukan sebagai bentuk protes atas kekerasan verbal yang dilakukan Dini kepada siswa.
"Kemarin kita tuh bukan membela perokok, kita tidak membenarkan ada yang merokok. Dan kita ini istilahnya puncak kegeraman siswa-siswi karena kita tuh mendam apa yang sering beliau (Dini Pitria) lakukan, kekerasan verbal yang ngga bisa terjaga omongannya yang kurang enak didengar," kata A ditemui di SMAN 1 Cimarga, Rabu (15/10).
"Jadi itu tuh puncak semuanya yang kita pendam, jadi kita lakukan protes itu," tambahnya.
Hal senada disampaikan siswa kelas XI, B (16). Menurutnya, perilaku Dini membuat situasi sekolah tidak nyaman karena sering marah secara tiba-tiba, bahkan kerap melontarkan kata-kata kasar kepada siswa.
"Sering, bukan kekerasan fisik, hanya verbal dari mulut. Kalau fisik baru kemarin, kalau verbal sering banget. Kadang kami terganggu, misalnya lagi belajar tiba-tiba dia datang terus marah-marah ga jelas, kita tuh lagi belajar disuruh keluar mungut sampah, kan mengganggu KBM namanya, kan bisa mungutin sampah itu selesai KBM," ungkap B.
Inisiatif Gelar Protes
B menuturkan aksi protes mogok sekolah muncul setelah Dini mengumpulkan siswa usai peristiwa penamparan. Dalam momen itu para siswa ditantang untuk keluar dari sekolah bila tidak mau ikuti perintahnya.
"Setelah kejadian itu (penamparan) di hari Jumat, itu bukan demo, itu spontan kita dikumpulkan oleh Ibu Kepsek, disuruh kumpul di lapangan, kata dia semua siswa harus kumpul di lapangan. Terus dia bilang 'kalau ga mau ikut aturan silakan keluar'," terang B.
Rencana mogok sekolah disampaikan antar siswa dari mulut ke mulut. B mengaku tidak menyangka semua siswa setuju melakukannya.
"Nah, di situlah inisiatif kita keluar, kita mau protes, kita mogok sekolah, kita bilang dari mulut ke mulut ke semua siswa, eh, ternyata beneran sama sekali ga ada yang datang sekolah hari Senin, cuma lewat dari mulut ke mulut aja," imbuhnya.
Aksi protes para siswa SMAN 1 Cimarga dengan mogok sekolah membuat heboh media sosial. Hingga muncul narasi bila ratusan siswa tersebut seolah membela seorang perokok.
Menanggapi itu, B mengaku merasa sedih atas narasi yang membuat nama baik sekolahnya menjadi tercoreng. Padahal menurutnya, hal itu dilakukan sebagai ekspresi para siswa guna menolak segala bentuk kekerasan baik verbal maupun fisik di lingkungan sekolah.
"Prihatin sih karena sekolah masuk berita nasional atas kekerasan Ibu Kepsek kepada rekan saya. Malu lah, nama sekolah udah tercoreng. Itu bentuk protes supaya tidak ada kekerasan, bukan membela perokok, kita sadar teman kita salah karena merokok," ucapnya.
Meski begitu, B menilai tindakan Dini sebagai kepala sekolah berlebihan.
"Kan bisa dibicarakan baik-baik, tinggal tarik ke ruang BK, kalau sudah melampaui batas nakalnya ya tinggal dikeluarkan dari sekolah, tidak harus main tangan," katanya.
Duduk Perkara Kasus
Siswa kelas XII SMAN 1 Cimarga, Lebak, Banten, bernama Indra Lutfiana Putra (17), diduga ditampar oleh kepala sekolahnya, Dini Fitria, karena kedapatan merokok di lingkungan sekolah pada Jumat (10/10).
Akibat peristiwa ini seluruh siswa SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, mogok sekolah pada Senin (13/10). Aksi mogok ini merupakan bentuk protes atas tindakan kepala sekolah.
Indra mengaku ditampar Dini karena kedapatan merokok di lingkungan sekolah saat kegiatan Jumat Bersih pada hari Jumat (10/10) lalu.
Menurutnya, saat itu dirinya ditegur karena kepergok kepala sekolah tengah asyik nongkrong sambil merokok di sebuah warung yang ada di lingkungan SMAN 1 Cimarga.
"Saya kaget waktu ketemu Kepsek, rokok langsung saya buang, tapi disuruh nyari lagi sama Kepsek. Enggak ketemu (puntung rokoknya), lalu kepsek bilang saya bohong," kata Indra, Senin (13/10).
Indra mengatakan, saat itu dia dituding berbohong sehingga membuat kepala sekolah naik pitam dan melakukan kekerasan serta melontarkan kata-kata kasar terhadap dirinya.
"Terus beliau marah, nendang saya di punggung, terus nampol saya di pipi kanan. Kepsek juga bilang g*bl*k, a*j*ng, terus nyuruh saya nyari lagi rokoknya, padahal udah enggak ada," ujarnya.
Tak berhenti sampai di situ, menurut Indra, dia terus mendapatkan kata-kata kasar dari kepala sekolah setelah digiring ke ruang guru. Bahkan kata-kata kasar kepala sekolah dilontarkan terhadap dirinya, di hadapan guru-guru lainnya.
"Beliau masih marah-marah, bilang enggak menghargai dan katanya baru pertama kali marah sampai seperti itu," kata Indra.
Penjelasan Kepsek
Sementara itu, Kepala Sekolah SMAN 1 Cimarga Dini Fitria tak menampik telah menampar Indra. Namun menurutnya, tamparan yang diberikan pun hanya pelan karena emosi siswanya telah berbohong.
"Saya kecewa bukan karena dia merokok, tapi karena tidak jujur. Saya spontan menegur dengan keras, bahkan sempat memukul pelan karena menahan emosi. Tapi saya tegaskan tidak ada pemukulan keras," kata Dini.
"Saya tidak menendang, hanya menepuk bagian punggung. Itu pun karena emosi spontan, tidak ada luka atau bekas apa pun," sambungnya.
Dini beralasan, perbuatannya itu dilakukan karena siswa tersebut mencoba melarikan diri usai terpergok olehnya sedang merokok di sebuah warung di sekitar sekolah.
"Saya lihat dari jarak 20-30 meter ada asap rokok di tangan itu. Saya panggil dengan suara keras, karena jaraknya cukup jauh, anak itu langsung lari," ujarnya.
Dini mengatakan akan lebih berhati-hati dalam menjaga komunikasi antar guru, siswa dan orang tua siswa agar bisa membentuk karakter siswa yang lebih baik di masa mendatang.
"Kami di sekolah berupaya membentuk karakter anak, bukan merusak. Kalau ada kekeliruan dalam cara saya menegur, tentu akan saya evaluasi," tutupnya.
