Strategi BGN Kejar Target MBG: Kebut Bangun 4.700 SPPG hingga Akhir Tahun

20 Oktober 2025 7:30 WIB
·
waktu baca 3 menit
clock
Diperbarui 17 November 2025 17:49 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Strategi BGN Kejar Target MBG: Kebut Bangun 4.700 SPPG hingga Akhir Tahun
Badan Gizi Nasional (BGN) terus mempercepat pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mengejar target penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga akhir tahun.
kumparanNEWS
Petugas menyiapkan makanan di SPPG Jakarta Barat, Senin (6/1/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Petugas menyiapkan makanan di SPPG Jakarta Barat, Senin (6/1/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Badan Gizi Nasional (BGN) terus mempercepat pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mengejar target penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga akhir tahun. Kepala BGN, Prof. Dadan Hindayana, mengungkapkan tiga faktor yang menjadi kunci keberhasilan program tersebut, yakni anggaran, sumber daya manusia (SDM), dan infrastruktur.
“Jadi gini, ada tiga kunci makan bergizi ya yang selalu saya sebutkan. Satu, anggaran, dua, SDM, ketiga, infrastruktur. Anggaran dari awal salah satu faktor yang tidak pernah jadi masalah ya. Itu sudah clear dari awal,” kata Prof. Dadan.
Namun, menurutnya, tantangan sempat muncul pada aspek SDM. Hingga Juli lalu, jumlah Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia yang menjadi Kepala SPPG masih terbatas.
“Kita mengalami stagnasi di SDM karena SPPG ini identik dengan Kepala SPPG. Kepala SPPG ini identik dengan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia. Dan sampai bulan Juli itu kita hanya memiliki 1.994 sarjana penggerak pembangunan Indonesia sehingga jumlah SPPG yang bisa dibentuk sampai bulan Juli kan terbatas,” jelasnya.
Meski begitu, BGN melakukan sejumlah langkah percepatan melalui program baru.
“Alhamdulillah pada akhir Juli kita sudah bisa membentuk 2.391 SPPG dan melayani 7 juta (anak),” ujarnya.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana. Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Setelah proses pendidikan bagi 30 ribu Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia rampung pada 12 Juli, faktor SDM tak lagi menjadi hambatan. Kini, BGN fokus pada percepatan pembangunan infrastruktur SPPG.
“Infrastruktur ini awalnya kita ingin membangun berbasis APBN. Tapi dalam kenyataannya kan tidak secepat yang kita bayangkan dan juga mungkin uang negara akan besar sekali dibutuhkan,” kata Dadan.
Menurutnya, dukungan masyarakat menjadi kunci percepatan pembangunan.
“Sekarang alhamdulillah kontribusi masyarakat, gairah masyarakat sangat besar sehingga saat ini kita sampai hari ini sudah bisa menghasilkan 12.075 SPPG sampai hari ini ya, melayani 36,2 juta (anak),” tuturnya.
BGN mencatat, setiap hari terdapat sekitar 150–200 SPPG baru yang lolos verifikasi.
“Kontribusi mitra cukup besar dan mereka sekarang sudah mendaftar di portal mitra kita, mitra.bgn.go.id, dan sudah ada sekitar 27.000 yang mendaftar. Kita tinggal percepatan verifikasi,” ungkapnya.
Untuk mempercepat proses validasi, BGN menempatkan hampir 100 orang verifikator di satu ruangan dan mengirim tim lapangan untuk survei kesiapan fasilitas.
“Dalam 2 setengah bulan terakhir itu kita sudah bisa menghasilkan kurang lebih hampir 9.700 SPPG,” ujar Dadan.
Suasana proses pengolahan MBG di SPPG Kramat Jati Tengah 1, Jakarta Timur, Selasa (30/9/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Ia optimistis target pembangunan SPPG hingga akhir tahun akan tercapai.
“Saya yakin di akhir Oktober kita sudah bisa menghasilkan 15.000 satuan pelayanan pemenuhan gizi dan di akhir November itu kita kemungkinan besar sudah memiliki kurang lebih 20.000. Dan di Desember kita perkirakan akan sudah memiliki 21.000-22.000 satuan pelayanan pemenuhan gizi,” katanya.
Dengan jumlah tersebut, BGN memperkirakan program MBG bisa melayani 66 hingga 70 juta penerima manfaat pada akhir 2025.
Selain itu, BGN juga menargetkan pembangunan tambahan 4.700 SPPG di daerah terpencil dalam dua bulan ke depan.
“Kalau 4.700 kita bisa bangun dalam waktu 1 setengah bulan, 2 bulan ini, itu ada tambahan penerima manfaat kurang lebih 5 juta di daerah terpencil. Jadi antara 70 sampai 75 sampai 77 juta (anak) mungkin sudah bisa kita layani ya tahun ini,” tutur Dadan.
Trending Now