Tak Ingin Ada Orang Kelaparan, Masjid di Sleman Bikin Program 'Bantuan Makan'
7 November 2025 18:18 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Tak Ingin Ada Orang Kelaparan, Masjid di Sleman Bikin Program 'Bantuan Makan'
Program ini bertujuan agar tak ada orang yang kelaparan. 6 bulan sudah program ini berjalan.kumparanNEWS

Berawal dari informasi di media sosial soal orang meninggal dunia karena kelaparan, Masjid Nurul Ashri di Deresan, Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman membuat program 'Bantuan Makan'.
Program ini bertujuan agar tak ada orang yang kelaparan. 6 bulan sudah program ini berjalan.
"Sudah berjalan 6 bulanan. Program ini berawal dari berita bapak ojek yang diberitakan meninggal karena kelaparan walaupun akhirnya kami mengklarifikasi. Berawal dari situ dan berita sebelum-sebelumnya (kasus yang mirip soal orang kelaparan)," kata perwakilan divisi program Masjid Nurul Ashri Sunyoto melalui sambungan telepon, Jumat (7/11).
Sunyoto mengatakan di masyarakat banyak orang yang menahan rasa lapar tapi takut dan malu untuk menyampaikan kondisinya secara terbuka. Padahal, jiwanya terancam.
Program ini dibuat dengan menjaga privasi orang yang butuh dibantu. Bantuan diberikan dengan cara dikirim sehingga penerima bantuan tak terekspos privasinya.
"Bantuan bersifat privasi. Yang kita ambil (diposting) di IG itu ceritanya. Mulai data pribadi, nama alamat segala macam kami sensor semua," katanya.
Dengan sistem ini diharapkan orang yang membutuhkan bantuan tetap berani menyampaikan kesulitannya.
Orang yang butuh bantuan dapat mengontak melalui pesan Instagram maupun nomor telepon yang tertera di media sosial Masjid Nurul Ashri.
Bantuan makanan yang diberikan pun bervariasi sesuai kebutuhan. Mulai dari bahan makanan hingga makanan matang.
"Menyesuaikan ada yang dapat makanan jadi, ada yang dapatnya bahan makanan. Tergantung keterangan yang disampaikan penerima manfaatnya," bebernya.
Sunyoto mencontohkan kasus ada penerima bantuan yang menceritakan suaminya baru gajian beberapa hari mendatang. Maka bantuan yang paling cocok adalah bahan makanan.
"Kalau dari tanggal sekian sampai tanggal sekian paling cocok dikirimkan bahan. Kalau ada mahasiswa yang tidak biasa memasak kami kirimkan bahan makanan jadi saat pengajuan," katanya.
"Tapi kalau ada di sekitar kita selain dikirimkan makanan jadi kita arahkan datang ke masjid sore hari. Setiap sore kan ada kajian dan di sini ada konsumsi," bebernya.
Bahan makanan ini berisi beras premium 5 kilogram, telur 10 biji, minyak, hingga mi instan untuk kebutuhan darurat.
Bantuan yang disalurkan ini merupakan sedekah dari jemaah.
Kirim Hingga Luar Daerah
Setiap hari selalu ada orang yang meminta bantuan makanan. Bahkan beberapa kali masjid membantu hingga luar pulau.
"Paling jauh itu Kalimantan, Sumatera," bebernya.
Bantuan di luar pulau ini pun sama mekanismenya. Masjid menggunakan jasa kurir untuk memesankan bahan makanan baik dari layanan pesan makanan daring maupun pemesanan di minimarket waralaba.
"Dipesankan dari sini dan kita tidak ketemu langsung. Soalnya kalau mengharuskan kita ketemu sama saja kelamaan," katanya.
Bermacam Kisah
Dari program ini ada berbagai macam kisah menurut Sunyoto. Pernah ada orang baru pertama merantau ke Yogyakarta. Baru dapat kerja di masa percobaan sementara uang saku habis.
Termasuk pula kisah tiga orang anak yang membutuhkan bantuan karena ditinggal orang tuanya merantau.
"Ada audiens yang DM ke kami. Ternyata orang tuanya yang sedang mencari pekerjaan di Kalimantan ternyata juga dibantu untuk dipulangkan. Keadaan pun tidak berbeda jauh dengan anak-anaknya," bebernya.
Apakah Jadi Ketergantungan?
Sunyoto mengatakan di awal sempat ada orang yang bergantung dengan bantuan ini. Masjid kemudian membuat aturan bisa minta bantuan lagi di interval satu bulan.
"(Minta bantuan) setiap sepekan sekali tidak. Karena di sisi lain kita juga mendidik agar tidak merasa nyaman dengan fasilitas tersebut tapi bagaimana digunakan saat keadaan darurat saja," katanya.
