Tanah Amblas Mirip Sinkhole di Ketol, Ancam Jalan Vital Aceh Tengah–Bener Meriah

14 Januari 2026 13:02 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tanah Amblas Mirip Sinkhole di Ketol, Ancam Jalan Vital Aceh Tengah–Bener Meriah
Tanah amblas di Pondok Balik makin meluas, mengancam jalan penghubung Aceh Tengah-Bener Meriah.
kumparanNEWS
Potret tanah amblas di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah yang kian mendekati badan jalan lintas Blang Mancung-Simpang Balik yang menghubungkan Aceh Tengah dengan Bener Meriah. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Potret tanah amblas di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah yang kian mendekati badan jalan lintas Blang Mancung-Simpang Balik yang menghubungkan Aceh Tengah dengan Bener Meriah. Foto: Dok. Istimewa
Tanah amblas mirip sinkhole terjadi di Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Luasan tanah amblas ini terus meluas dan mengancam badan jalan lintas Blang Mancung–Simpang Balik. Jalur tersebut merupakan akses vital yang menghubungkan Kabupaten Aceh Tengah dengan Kabupaten Bener Meriah.
Hingga Selasa (13/1), pergerakan tanah dilaporkan semakin mendekati Jalan Buter–Pondok Balik, jalan kabupaten yang menghubungkan Blang Mancung dengan Simpang Balik. Jalan ini menjadi urat nadi transportasi masyarakat, khususnya untuk mobilitas warga dan distribusi hasil pertanian.
Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tengah, Andalika, mengatakan longsoran di lokasi tersebut bukan fenomena baru. Ia menjelaskan pergerakan tanah telah terpantau sejak 2002 dan semakin membesar pascagempa Gayo pada 2013.
“Pada 2026 ini, pergerakan tanah kembali meningkat. Jalur jalan yang ada sebelumnya sudah pernah direlokasi dan sekarang kembali terancam,” kata Andalika kepada wartawan, Rabu (14/1).
Menurut Andalika, lubang longsoran kini sudah sangat dekat dengan badan jalan utama dan berpotensi terus melebar, terutama saat curah hujan tinggi. Kondisi ini dinilai berbahaya bagi pengguna jalan.
“Untuk kondisi terkini, kami sudah memasang police line di lokasi rawan dan setiap hari mengimbau masyarakat agar berhati-hati saat melintas,” ujarnya.
BPBD Aceh Tengah meminta masyarakat tidak melintas terlalu ke pinggir jalan dan menghindari kawasan tersebut saat cuaca ekstrem. Selain itu, jalur alternatif juga telah disiapkan apabila akses utama terpaksa ditutup demi keselamatan.
“Untuk sementara masih ada jalur alternatif yang bisa digunakan. Kami terus memantau dan menyampaikan perkembangan kondisi di lapangan setiap hari,” kata Andalika.
Potret tanah amblas di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah yang kian mendekati badan jalan lintas Blang Mancung-Simpang Balik yang menghubungkan Aceh Tengah dengan Bener Meriah. Foto: Dok. Istimewa
Berdasarkan kajian ESDM Aceh, longsoran di Kampung Bah merupakan jenis pergerakan tanah lambat (slow moving landslide), bukan amblesan tanah tiba-tiba (sinkhole). Material tanah di lokasi tersebut didominasi endapan vulkanik yang mudah jenuh air dan rawan bergerak.
Karakter tanah tersebut mudah menghantarkan air, tidak stabil, serta sangat rentan bergerak.
Selain struktur tanah, curah hujan tinggi di wilayah pegunungan, kemiringan lereng yang curam, serta keberadaan retakan lama yang menjadi jalur masuk air hujan, turut mempercepat pergerakan tanah. Visualisasi lapangan bahkan menunjukkan bidang gelincir longsoran mendekati sudut tegak lurus.
Data ESDM Aceh menunjukkan, hingga 2025 luasan longsoran telah mencapai lebih dari 27 ribu meter persegi dan terus mendekati jalan lintas Blang Mancung–Simpang Balik.
Wilayah tersebut dikategorikan sebagai zona tinggi rawan pergerakan tanah dan memerlukan penanganan berkelanjutan.
Saat ini, BPBD Aceh Tengah telah berkoordinasi dengan Dinas PUPR dan Dinas ESDM untuk penanganan teknis, termasuk rencana relokasi trase jalan. Masyarakat diminta mematuhi rambu peringatan dan garis pengaman yang telah dipasang demi mencegah terjadinya kecelakaan.
Trending Now