Thailand Skeptis Pemilu Myanmar Digelar Bebas dan Kredibel

26 November 2025 13:23 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Thailand Skeptis Pemilu Myanmar Digelar Bebas dan Kredibel
Pemilu Myanmar pertama pasca kudeta militer akan digelar pada Desember mendatang. Namun, Thailand tidak yakin pemilu akan berjalan bebas dan kredibel.
kumparanNEWS
Sejumlah pendukung partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) memegang balon merah saat kampanye pemilu di Yangon, Myanmar, (8/9). Foto: Shwe Paw Mya Tin/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah pendukung partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) memegang balon merah saat kampanye pemilu di Yangon, Myanmar, (8/9). Foto: Shwe Paw Mya Tin/REUTERS
Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow mengatakan pemilu Myanmar yang akan digelar bulan depan tidak akan bebas dan kredibel. Ini akan menjadi pemilu pertama di Myanmar pasca kudeta militer pada 2021 lalu.
Junta militer Myanmar menyebut pemilu nanti akan menjadi kesempatan rekonsiliasi. Namun, baik Aung San Suu Kyi maupun Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang telah dibubarkan tidak akan ambil bagian dalam pemilu.
Pemilu tidak akan digelar di wilayah yang tidak dikuasai militer atau sekutunya. Menurut analis, langkah itu dilakukan sebagai taktik untuk menyamarkan keberlanjutan pemerintahan militer.
"Kami menginginkan pemilu yang bebas dan kredibel, tapi itu tidak akan terjadi, kami tahu itu," kata Sihasak, dikutip dari AFP, Rabu (26/11).
"Kami tidak akan mengakui pemilu itu," lanjutnya.
Meski demikian, Sihasak mengatakan pemilu itu dapat menjadi batu loncatan menuju reformasi. Ia kemudian menyinggung pemilu 2010 saat Jenderal Thein Sein terpilih menjadi presiden dalam pemilu yang disebutnya tidak sempurna. Usai terpilih jadi presiden, Thein Sein membebaskan Aung San Suu Kyi yang berdampak pada kemenangan besar NLD pada pemilu 2015.
Penasihat Negara Myanmar, Aung San Suu Kyi. Foto: Athit Perawongmetha/REUTERS
"Mungkin pemilu yang tak sempurna juga bisa jadi kesempatan yang baik untuk mengembalikan stabilitas dan demokrasi negara," katanya.
Thailand menampung jutaan warga yang kabur karena konflik Myanmar atau meninggalkan Myanmar untuk mencari pekerjaan.
Sihasak kemudian mendesak otoritas Myanmar membebaskan Aung San Suu Kyi atas dasar kemanusiaan.
"Sudah waktunya dia dibebaskan. Kadang kita harus mengatakan sesuatu yang memang benar untuk dikatakan," ungkapnya.
"Dia sudah terlalu lama ditahan. Kita tidak tahu bagaimana kondisi kesehatannya di usianya yang sekarang, sehingga saya harap mereka segera melakukannya," pungkasnya.
Tahap pertama pemilu Myanmar akan dimulai pada 28 Desember, sementara tahap kedua dimulai pada 11 Januari. Namun, putaran selanjutnya dan tanggal pengumuman hasilnya belum diumumkan.
Trending Now