Tito Minta Pemda Waspada Bencana, Terutama di Jawa-Bali
18 November 2025 17:50 WIB
·
waktu baca 3 menit
Tito Minta Pemda Waspada Bencana, Terutama di Jawa-Bali
Tito mengingatkan daerah untuk mewaspadai adanya bencana hidrometeorologi, seperti banjir hingga tanah longsor jelang akhir tahun.kumparanNEWS

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengingatkan semua daerah untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir hingga tanah longsor. Tito menyebut, kawasan Jawa dan Bali jadi salah satu yang masuk dalam kerawanan tinggi.
“Kalau November, Desember, Januari ini diperkirakan daerah selatan, yaitu mulai dari Bengkulu, Sumatera bagian Selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, selatannya Maluku sampai selatannya Papua, diperkirakan curah hujan tinggi," kata Tito usai rapat koordinasi lintas kementerian di Kantor Kemendagri, Jakarta Pusat, Selasa (18/11).
"Nah, yang kami perluas di samping mengingatkan kepada teman-teman di daerah tadi, yang perlu mendapatkan atensi khusus adalah Jawa dan Bali,” tutur dia.
Tito mengatakan, Jawa dan Bali memiliki jumlah penduduk yang besar di banding daerah lainnya. Jangan sampai, bencana terjadi di lokasi padat penduduk.
“Kenapa? Karena penduduknya besar. Kalau terjadi longsor di tanah kosong, enggak apa-apa. Tapi kalau terjadi longsor di daerah pemukiman, itu rawan,” lanjutnya.
Meski begitu, kewaspadaan terhadap bencana harus disadari semua pemerintah daerah. Sebab, potensi curah hujan tinggi sudah mulai terasa pada November ini
“Tadi kita juga memberikan briefing kepada daerah dalam rangka mengantisipasi bencana hidrometeorologi, bencana alam karena curah hujan yang tinggi. Potensi curah hujan yang tinggi, November, Desember, Januari, dan seterusnya,” ujar Tito.
Eks Kapolri itu juga meminta semua pemda mendata kembali titik mana saja yang punya risiko tinggi bencana. Ini penting untuk menentukan mitigasi dan tindak lanjut apabila bencana terjadi.
“Oleh karena itulah kita menyampaikan tadi kepada seluruh kepala daerah, kita tahu bahwa belajar dari bencana yang ada di Cilacap dan di Banjarnegara, longsor. Maka semua daerah kita minta untuk melakukan inventarisasi titik-titik rawan longsor atau banjir karena curah hujan yang tinggi ini,” jelas Tito.
“Dan kemudian setelah itu melakukan langkah-langkah untuk memitigasi itu. Misalnya, penguatan daerah longsor. Kalau memang enggak bisa, ya masyarakatnya direlokasi sementara. Jalan kalau mungkin yang rawan longsor diperbaiki,” tambahnya.
Tito juga meminta pemerintah daerah tak segan mengeluarkan status darurat bencana. Dengan kondisi itu, BNPB bisa membantu penanganan bencana, termasuk dari sisi anggaran.
“Kalau pun masih kekurangan anggaran untuk itu, ditetapkan sebagai status darurat. BNPB dapat melakukan back-up untuk memberikan bantuan anggaran perbaikan maupun juga untuk mencegah bencana ya, maupun juga untuk operasi modifikasi cuaca,” katanya.
Di sisi lain, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan dukungan dari BNPB akan diberikan jika pemerintah daerah menetapkan status siaga darurat.
“Berkaitan dengan fase awal musim hujan ini, tadi sudah disampaikan oleh Bapak Menteri, sekiranya daerah memiliki kebutuhan untuk dukungan dari pemerintah pusat, maka BNPB sudah membuka ruang untuk bisa mendukung alat, perangkat, personel, dan anggaran di fase-fase kontingensi jelang kedaruratan atau fase kesiapsiagaan dalam fase musim kemarau ini,” jelas Abdul.
“Tetapi syaratnya tentu saja pemerintah daerah menetapkan status siaga darurat. Inilah yang membuka pintu nantinya pemerintah pusat melalui BNPB khususnya bisa menggunakan anggaran dana siap pakai untuk mendukung kesiapsiagaan di daerah,” tandasnya.
