Urology-Nephrology Summit: Siloam Kenalkan Teknologi Robot untuk Urologi

24 Agustus 2025 12:24 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Urology-Nephrology Summit: Siloam Kenalkan Teknologi Robot untuk Urologi
Siloam mengatakan, forum ini jadi momentum penting memperkuat layanan kesehatan berbasis penelitian dan kolaborasi multidisiplin.
kumparanNEWS
Pembukaan Siloam Urology-Nephrology Summit 2025 di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Minggu (24/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pembukaan Siloam Urology-Nephrology Summit 2025 di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Minggu (24/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Perkembangan teknologi medis di bidang urologi dan nefrologi dipaparkan dalam 'The 5th Siloam Urology-Nephrology Summit 2025' yang digelar Siloam ASRI. Acara ini diselenggarakan di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Minggu (24/8).
Forum ilmiah berskala nasional dan internasional ini menghadirkan puluhan pakar dalam dan luar negeri. Selain itu, forum ini menjadi momentum penting memperkuat layanan kesehatan berbasis penelitian dan kolaborasi multidisiplin.
“Baik, jadi kalau acara ini sebenarnya kembali tujuannya adalah mendiseminasi, membagikan kepada masyarakat bagaimana perkembangan pelayanan uronefrologi di Rumah Sakit Siloam ASRI yang kadang-kadang tidak cukup terpublikasi,” ujar Dokter Spesialis Urologi Siloam ASRI Prof. Dr. dr. Nur Rasyid, SpU(K) saat ditemui.
"Jadi bahwa semua prosedur khususnya di bidang urologi mulai dari ginjal. Ginjal itu bisa ada tumor, bisa ada batu, kita bisa kerjakan semua apa yang terbaik yang ada di dunia,” sambungnya.
Pembukaan Siloam Urology-Nephrology Summit 2025 di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Minggu (24/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Pakar Nasional dan Internasional Berkolaborasi

Acara ini mempertemukan dua pembicara internasional, Prof. Shin Sung dari Korea Selatan, pakar urologi robotik, serta Prof. Yap Hui Kim dari Singapura, pakar nefrologi anak.
Dari Indonesia, hadir Ketua Komite Transplantasi Nasional Prof. dr. Budi Sampurna, serta para pakar urologi dan nefrologi terkemuka.
Medical Managing Director RS Siloam, dr. Grace Frelita Indradjaja, menegaskan forum ini mengedepankan semangat kolaborasi lintas negara.
“Dan juga kami sangat berharap dengan summit ini teman-teman di Indonesia sendiri tahu apa sih perkembangan terbaru di Indonesia sehingga mudah-mudahan dengan exposure ini, nggak perlu lagi orang keluar negeri. Karena kita di sini juga punya orang-orangnya,” jelas Grace.
“Semangat kita adalah kolaborasi bukan kompetisi. Karena kalau kita kolaborasi satu sama lain, negara ini akan menjadi tuan rumah di negara sendiri, ini yang menjadi benar-benar mimpi kami,” lanjutnya.
Medical Managing Director RS Siloam, dr. Grace Frelita Indradjaja, di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Minggu (24/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Dokter Spesialis Urologi Siloam ASRI, Prof. Dr. dr. Nur Rasyid, SpU(K) di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Minggu (24/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Teknologi Baru: Flexible URS hingga Robotik da Vinci

Nur menjelaskan, perkembangan teknologi kini memungkinkan operasi urologi dilakukan tanpa sayatan besar.
“Kalau batu, mungkin zaman dulu orang tembak dari luar, habis itu di-PCNL (Percutaneous Nephrolithotomy) yang lubangnya 1 cm atau 5 mm. Sekarang kita bisa batu yang keras itu tanpa melukai sedikit pun,” jelas Nur.
“Jadi melalui saluran yang ada, alatnya bisa nyampe ke ginjal, dan ginjal itu bentuknya, ruangannya ada enam. Dengan alat yang baru itu namanya Flexible URS (Flexible Ureterorenoskopi), itu bisa masuk ke semua kamar itu,” sambungnya.
Ia menambahkan, risiko sepsis akibat tekanan ginjal berlebih kini bisa dicegah dengan teknologi baru. Sementara untuk tumor, metode laparoskopi menggantikan operasi terbuka.
“Kalau zaman dulu dibelek, open. Sekarang sudah laparoskopi. Jadi hanya luka, satu senti, tiga biji, alatnya masuk ke dalam. Setelah tumornya lepas, baru dikeluarin,” ungkap Nur.
“Jadi ini akan menyebabkan angka operasi itu, memang kecepatannya sama, tetapi orang (durasi) dirawat jadi lebih pendek. Orang lebih mau untuk operasi karena nggak terlalu sakit,” tambahnya.
Peluncuran robot bedah Da Vinci Xi oleh Siloam Hospitals. Foto: Nabila Ulfa/kumparan
Menurutnya, Siloam sudah bergerak ke teknologi robotik. Siloam menjelaskan, bukan berarti tindakan bedah atau operasi dilakukan sepenuhnya oleh robot.
“Robot itu bukan robot yang bekerja. Tetapi orang berdiri di konsol, menggerakkan alat yang seperti laparoskopi. Kalau Kalau laparoskopi kan tangan kita langsung. Kalau ini robot yang menggerakkan. Sehingga kalau tangan kita tremor, bisa dihilangkan di situ,” jelas Nur.
“Kelebihannya robotik itu kita pembesarannya, jadi kalau kita lihat ini kan kecil nih. Kalau di robotik, kita bisa gedein, sehingga di-zoom in, zoom out. Sehingga kita bisa bekerjanya dengan lebih mudah, lebih precise, dan hasilnya terhadap tumor lebih baik. Siloam mungkin satu-satunya sekarang yang mempunyai robotik da Vinci,” tambah dia.
Nur juga menyinggung layanan urologi anak yang sering kali luput dari perhatian publik.
“Urologi anak atau pediatrik, nah itu mulai dari yang paling sering. Lubang kemaluannya nggak ada di depan. Bisa ada di belakang, sehingga kalau laki-laki kencingnya harus jongkok. Dan itu bisa menyebabkan secara psikologis anak-anak itu kan terganggu,” jelas Nur.
“Nah itu kalau dulu orang sering masih salah. Tungguin agak gede, salah. Sebelum 2 tahun, sebelum dia bermain dengan temannya harusnya udah beres. Nah kita juga ada ahlinya di situ,” katanya.
Gangguan ereksi pun menurutnya perlu dibicarakan secara terbuka.
“Gangguan ereksi itu tidak pernah rame, tetapi sebenarnya perlu untuk disosialisasikan. Biasanya kalau tidak ada media resmi yang menyampaikan, orang kan nyari gelap-gelap. Yang muncul adalah yang nggak jelas-nggak jelas. Padahal sebenarnya, untuk mendiagnosis, menatalaksana gangguan ereksi itu sudah ada tahapan-tahapan yang jelas,” ujarnya.
Dokter Spesialis Urologi Siloam ASRI, Prof. Dr. dr. Nur Rasyid, SpU(K) di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Minggu (24/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Transplantasi Ginjal dan Tantangan Donor

Ketua Transplantasi Ginjal Siloam ASRI, Prof. Dr. dr. Endang Susalit, SpPD-KGH, FINASIM, menyebut transplantasi ginjal dari donor hidup sudah rutin dilakukan, namun cita-cita terbesar adalah menghadirkan donor dari jenazah (cadaveric donor).
“Kalau transplantasi yang biasa itu udah rutin ya, dari donor hidup ya. Kita bersama yang lain, kita memikirkan donor dari jenazah seperti yang tadi dibilang. Itu aja yang mimpi kita ya,” katanya.
Ia menekankan, minimnya donor di Indonesia dipengaruhi kurangnya edukasi publik.
“Masalahnya banyak di Indonesia ini walaupun keluarga besar, sering pengetahuan mengenai donasi organ itu masih pasif kita. Jadi saya kira mungkin nanti selanjutnya harusnya sih pendidikan ke arah donasi organ itu mulai dari SD sampai SMP, harus sadar, donasi organ itu sebenarnya masalah yang umum,” jelas Endang.
“Jadi masalah kita masih apatif mengenai apa itu donasi organ, itu aja masalah kita sebenarnya,” sambungnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Nur. Ia menyebut, penyediaan lembaga donor harus berada di naungan pemerintah.
“Karena nggak boleh kalau swasta. Jadi swasta meng-create tempat pendaftaran donor, itu nggak boleh. Di seluruh dunia, itu bagiannya negara,” kata Nur.
“Kalau nggak, nanti terjadi jual beli dan lain sebagainya. Jadi kita nggak bisa terlalu aktif kepada tempat-tempat yang memang bidang yang harus diurus oleh negara,” sambung dia.
Hingga kini, Siloam ASRI telah menangani hampir 500 pasien transplantasi ginjal. Rumah sakit ini mencatat 1 year graft survival rate sebesar 98,1% dan 5 year graft survival rate 93,5%, lebih tinggi dari benchmark European Renal Association (ERA).
Menurut pihak rumah sakit, keberhasilan ini didukung kolaborasi tim multidisiplin serta sistem registri klinis yang ketat untuk memantau hasil tiap pasien.
Trending Now