Usai Ledakan di SMAN 72: Pembelajaran Daring-Terduga Pelaku Tak Suka Sekolah
11 November 2025 3:30 WIB
·
waktu baca 10 menit
Usai Ledakan di SMAN 72: Pembelajaran Daring-Terduga Pelaku Tak Suka Sekolah
Rangkuman usai Ledakan SMAN 72 Jakarta: Pembelajaran daring, 33 korban dirawat, pelaku belum terkait jaringan teror, fokus pemulihan fisik dan trauma siswa.kumparanNEWS

Pasca ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Jumat (7/11), aktivitas belajar mengajar dialihkan secara daring. Sekolah tampak lengang, sementara beberapa fasilitas diperbaiki dan staf tetap hadir untuk memantau kondisi serta mengkoordinasikan pembelajaran jarak jauh. Pemerintah dan aparat kepolisian juga menyiapkan pendampingan psikososial bagi siswa yang terdampak trauma.
Penyidikan terkait ledakan terus berlanjut. Densus 88 Antiteror Polri menyatakan pelaku tidak terhubung dengan jaringan teror, sementara polisi menyoroti faktor lingkungan dan perhatian keluarga yang kurang sebagai pemicu tindakan. Bahan peledak dibawa pelaku dalam tas jinjing, dan sebagian korban masih menjalani perawatan intensif di empat rumah sakit di Jakarta.
Berikut rangkumannya
SMAN 72 Jakarta Sepi usai Ledakan, Siswa Belajar Daring dari Rumah
Aktivitas belajar mengajar di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Senin (10/11) berlangsung secara daring menyusul insiden ledakan yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Sekolah tampak lengang saat pantauan, sebagian fasilitas diperbaiki, dan beberapa guru hadir untuk memantau kondisi serta mengkoordinasikan pembelajaran jarak jauh.
Sebelumnya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti memang menyampaikan untuk sementara pembelajaran akan dilalui secara daring.
“Ya, nanti sebenarnya tidak bisa kita pastikan kapan (untuk mengevaluasi). Nanti kita lihat. Memang mulai hari Senin besok sementara masih akan online sambil juga memperbaiki kerusakan di masjid ya,” ucap Mu’ti.
Meski sebagian staf tetap hadir di lokasi untuk memantau, sekolah mengambil kebijakan pembelajaran jarak jauh sambil menunggu perbaikan fasilitas yang terdampak. Petugas psikologi kepolisian dan relawan psikososial juga dikerahkan untuk menangani dampak trauma pada siswa.
“Ada dua yang kita lakukan. Jadi yang pertama, ada yang memang kita berikan nanti di rumah, lewat visit,” kata Mu’ti.
“Ada relawan-relawan psikososial yang akan membantu kami, baik dari kementerian maupun juga dari layanan masyarakat yang memang memiliki kepedulian untuk menangani masalah ini,” tutupnya.
Densus 88 Antiteror Polri soal Terduga Pelaku Ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta: “Tak Ada Pengaruh Jaringan Teror”
Penyidik Densus 88 Antiteror Polri AKBP Mayndra Eka Wardhana menyatakan bahwa profil terduga pelaku ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta, Kelapa Gading, menunjukkan bahwa hingga saat ini belum ditemukan kaitan dengan jaringan terorisme terorganisir.
“Sampai dengan saat ini belum ditemukan adanya pengaruh jaringan teror kepada pelaku,” ujar AKBP Mayndra Eka Wardhana.
Meski demikian, pihak kepolisian mengungkap bahwa pelaku menyiapkan tujuh bahan peledak dan telah memproses tindak lanjut penyidikan, termasuk pemeriksaan terhadap aktivitas daring pelaku yang diduga bereferensi ekstremisme.
“Ya, sepertinya seperti itu. Akan tetapi kalau mau mengutip terkait inspirasi, baiknya diambil dari pernyataan pakar saja, bisa psikolog atau sosiolog,” tambahnya.
Masjid SMAN 72 Jakarta Kini Kembali Bisa Dipakai Salat
Masjid SMAN 72, Kelapa Gading, Jakarta Utara, yang sempat rusak akibat ledakan pada Jumat (7/11), kini sudah bisa digunakan kembali untuk salat. Pantauan di lokasi pada Senin (10/11) pagi menunjukkan masjid telah bersih dan rapi, tanpa puing-puing kaca atau serpihan dinding di lantai.
“Perbaikan dilakukan pada keramik, kaca jendela, lampu, kipas angin, jam dinding, dan karpet. Selain itu, kami juga memperbaiki pintu utama serta merapikan instalasi jaringan kabel listrik,” ujar Kapolsek Kelapa Gading Kompol Seto Handoko Putra dalam keterangannya, Sabtu (8/11).
Meski kegiatan belajar di SMAN 72 masih dilakukan secara daring, beberapa siswa datang ke sekolah bersama orang tua untuk mengambil barang-barang yang tertinggal imbas ledakan. Setiap pengunjung wajib melapor kepada petugas TNI yang berjaga di pintu masuk sebelum diperkenankan masuk area sekolah.
Sebelumnya, polisi bersama warga bergotong royong memperbaiki masjid dan lingkungan sekitar yang rusak. Aksi ini dipimpin langsung oleh Wakapolres Metro Jakarta Utara, AKBP James H. Hutajulu.
Pelaku Ledakan SMAN 72 Diduga Tak Suka pada Sekolah, Terlihat lewat Tulisan
Penyidik menemukan tanda-tanda ketidaksukaan dari pelaku ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta terhadap lingkungan sekolahnya. Pelaku yang merupakan siswa di sekolah tersebut mengekspresikan perasaannya bukan secara langsung, melainkan melalui tulisan dan gambar.
“Dari hasil pemeriksaan awal, ada wujud rasa ketidaksukaan, rasa menyampaikan, tetapi tidak secara frontal. Menyampaikan dengan tulisan, gambaran-gambaran,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Senin (10/11).
Budi menegaskan bahwa temuan ini menjadi pengingat bagi para orang tua dan pihak sekolah untuk lebih peka terhadap perilaku maupun tanda-tanda yang ditunjukkan oleh anak-anak. Ia menilai hal kecil seperti tulisan atau coretan di meja dapat menjadi sinyal penting yang tak boleh diabaikan.
“Makanya tadi kami sampaikan di sinilah kepedulian kita bersama. Kita sebagai orang tua, di saat anak-anak di sekolah melaksanakan pendidikan belajar mengajar, inilah yang kita ajak untuk menggugah. Apakah tulisan di dinding, di meja, apabila kita cepat dan tanggap mungkin kita bisa memitigasi, mengeleminir kejadian yang lebih besar,” ujarnya.
Polisi Sebut Pelaku Ledakan SMAN 72 Kurang Dapat Perhatian dari Keluarga
Polda Metro Jaya mengungkapkan salah satu faktor yang memicu tindakan pelaku ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, adalah kurangnya perhatian dari lingkungan terdekat, termasuk keluarga. Pelaku yang merupakan siswa SMAN 72 kini berstatus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH), sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).
“Ada perhatian yang harus disampaikan, ada kurang perhatian dari keluarga, itu kan sifatnya sudah akumulasi,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto di kantornya, Senin (10/11).
Budi menekankan pentingnya peran keluarga dan lingkungan sekitar dalam membentuk karakter anak. Ia juga mengingatkan bahwa kepedulian dan empati orang tua dapat membantu mencegah munculnya perilaku ekstrem pada remaja.
“Makanya tadi saya menyinggung dari pihak formal dan non formal, artinya dari rumah dan dari keluarga dan dari lingkungan sekitar. Ini yang membuat jadi akumulasi yang harus kita berempati, makanya kita harus menjaga,” jelasnya.
Terduga Pelaku Ledakan SMAN 72 Bawa Bahan Peledak ke Sekolah Dalam Tas Jinjing
Polisi mengungkap bahwa bahan peledak yang digunakan dalam insiden di SMAN 72 Jakarta dibawa pelaku dalam sebuah tas jinjing. Temuan ini berdasarkan hasil rekaman CCTV yang memperlihatkan pelaku datang ke sekolah dengan membawa dua tas.
“Kita menjawab tadi temuan ini memang kalau dilihat dari CCTV kedatangan anak ini sudah membawa tas sekolah dengan tas yang dijinjing. Itu semua barang-barang berada di dalam situ,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Senin (10/11).
Bahan peledak yang dibawa diketahui berjumlah tujuh, namun hanya empat yang meledak. Polisi menduga kejadian itu tidak direncanakan karena beberapa sumbu tidak terpicu.
“Mungkin ada beberapa sumbu yang tidak terpicu, sehingga barang ini tidak meledak,” ujarnya.
33 Korban Ledakan SMAN 72 Masih Dirawat di Empat Rumah Sakit
Sejumlah korban ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, masih menjalani perawatan medis hingga Senin (10/11).
Berdasarkan data terbaru, total ada 33 pasien yang dirawat di empat rumah sakit berbeda, yakni RSI Cempaka Putih, RS Yarsi, RS Pertamina Jaya, dan RS Polri. Sebagian besar korban mengalami gangguan pendengaran akibat ledakan.
“Jadi pada posisi siang ini, jam 12.00, tanggal 10 November ya, pada 2025, yang kami konfirmasi saat ini yang masih kami rawat jumlahnya adalah 13 orang. Yang 11 orang itu dirawat inap biasa, sedangkan yang dua orang ini satu di Intensive Care Unit (ICU) dan satu di High Care Unit (HCU),” ujar Direktur Utama RSI Cempaka Putih, dr. Pradono Handojo.
Ketua KPAI Margaret Aliyatul Maimunah mengatakan pihaknya memantau kondisi korban di RS Yarsi dan RS Pertamina. Ia mencatat, pasien di RS Yarsi bertambah menjadi 17 orang, sementara di RS Pertamina hanya tersisa satu pasien yang masih dirawat. Menurut Margaret, sebagian besar korban mengalami gangguan pendengaran ringan.
“Di Rumah Sakit Yarsi tadi bertambah jadi 17-an ya, pasien ya. Sekitar tambah tiga dari yang tadinya 14, jadi sekarang ada sekitar 17-an,” kata Margaret di RSI Cempaka Putih.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menuturkan, satu pasien yang merupakan terduga pelaku telah dipindahkan ke RS Polri Kramat Jati untuk penanganan lanjutan. Ia memastikan pemerintah kini fokus pada pemulihan fisik dan mental seluruh korban.
“Karena itu, kami sekarang fokus pada bagaimana mereka yang sekarang menjadi korban dan pemulihan secara fisik dilakukan oleh Pak Dokter. Tapi nanti secara mental, secara psikososial kami akan melaksanakannya bersama dengan pihak-pihak yang terkait,” ujarnya.
Dirut RSI Sebut Sejumlah Korban Alami Kerusakan Total pada Gendang Telinga
Direktur Utama RSI Cempaka Putih, dr. Pradono Handojo, menyampaikan bahwa beberapa korban ledakan SMAN 72 Jakarta mengalami luka serius pada bagian pendengaran. Sejumlah siswa disebut menderita kerusakan total pada gendang telinga dan tengah menjalani observasi intensif oleh dokter spesialis THT.
“Ada yang mengalami bolong secara total untuk bagian gendang telinga dan juga ada yang sebagian. Dokter spesialis THT kami mengawasi dan kemudian mengobservasi,” ujar Pradono di RSI Cempaka Putih, Senin (10/11).
Ia menambahkan, hingga siang hari terdapat 13 korban yang masih dirawat, terdiri dari 11 pasien rawat inap dan dua di ruang intensif. Kondisi dua pasien di ICU dan HCU disebut mulai membaik meski masih memerlukan proses pemulihan panjang akibat luka bakar dan patah tulang pada wajah.
“Kalau yang di ICU sama HCU kemungkinan tidak pulang hari ini karena kondisinya walaupun berangsur membaik. Tadi posisi tadi pagi, sudah mulai membuka mata yang di ICU, dan sudah bisa mulai menggerakkan tangan dan kakinya sesuai dengan perintah,” jelas Pradono.
Satu Korban Ledakan SMAN 72 yang Dirawat di RSI Cempaka Putih Merupakan Pekerja Kantin
Satu dari 13 korban ledakan di SMAN 72 Jakarta yang masih menjalani perawatan di rumah sakit diketahui merupakan pekerja kantin sekolah. Korban berusia 57 tahun itu mengalami luka sedang akibat insiden yang terjadi pada Jumat (7/11) lalu. Direktur Utama RS Islam Cempaka Putih, dr. Pradono Handojo, menjelaskan seluruh korban yang masih dirawat adalah laki-laki.
“Ada satu yang di atas 18 tahun. Itu adalah yang bekerja di kantin. Sampai sejauh itu saja ya. Tapi kalau jati diri, identitas, mohon dipahami,” ujar Pradono kepada wartawan di RSI Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Senin (10/11).
Pradono menambahkan, korban tersebut merupakan pensiunan salah satu BUMN yang memutuskan berwirausaha bersama istrinya dengan membuka kantin di sekolah.
“Saya nggak nanya bapak-bapak itu, cuma kelihatannya waktu ngobrol-ngobrol, dia memang pensiun dari salah satu BUMN. Terus mau jadi wirausaha dengan istrinya dan kerja di kantin di sana,” tuturnya.
Korban mengalami luka terbuka di beberapa bagian tubuh serta gangguan pendengaran akibat ledakan dan masih menjalani perawatan di paviliun ruang inap RSI Cempaka Putih.
Cerita Ugi, Ayah Korban Ledakan SMAN 72: Anak Kritis dan Jalani Dua Kali Operasi
Ahmad Aufa Sodiq (14), siswa SMAN 72 Kelapa Gading, menjadi salah satu korban yang sempat kritis akibat ledakan di sekolahnya pada Jumat (7/11). Ayahnya, Ugi Abdurrahman, mengungkapkan bahwa Aufa telah menjalani dua kali operasi dan masih menjalani perawatan intensif di RS Islam Cempaka Putih.
“Ya, sudah dua kali operasi, operasi kepala, gendang telinga, sama tangan, lengan,” kata Ugi saat ditemui di SMAN 72 Jakarta, Senin (10/11).
Ia juga menyebut anaknya direncanakan menjalani operasi ketiga karena ada kelainan di dekat batang otak.
“Terus, yang ada operasi ketiga katanya, operasi kepala itu. Dilihatin saya itu, ada kelainan di dekat batang otak, katanya,” ujarnya.
Ugi menuturkan, operasi kedua dilakukan karena dugaan kesalahan penanganan awal.
“Ya ternyata ada mismanajemen, manajemen rumah sakit. Akhirnya dioperasi lagi kedua, hanya tangan, ada ketinggalan barang berupa paku berukuran cukup besar,” jelasnya.
Namun, pihak Humas RSI Cempaka Putih, Anca, membantah tuduhan itu dengan tegas, mengatakan, “Enggak benar.”
Aufa berada sangat dekat dengan lokasi ledakan pertama di masjid sekolah, hingga tak sadarkan diri sesaat setelah ledakan terjadi.
“Dekat sekali, dia peledakan pertama. Di masjid, dekat sekali dia. Di sebelah kirinya,” tutur Ugi.
Meski kini sudah sadar, Aufa masih kesulitan berbicara dan belum menjalani sesi trauma healing karena kondisi belum pulih.
“Belum. Kan anaknya belum ini (pulih), katanya jaminan dari Mensos [Kemensos]. Nanti akan datang ke rumah,” jelasnya.
