Usman Hamid Temui Pram, Minta Penahanan 93 Mahasiswa Trisakti Ditangguhkan

22 Mei 2025 13:45 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Usman Hamid Temui Pram, Minta Penahanan 93 Mahasiswa Trisakti Ditangguhkan
Usman berharap, Pramono dapat turut mendorong penangguhan proses hukum terhadap 93 mahasiswa tersebut.
kumparanNEWS
Direktur Amnesty International Indonesia, Usman Hafid usai bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, di Balai Kota, Jakarta Pusat, Kamis (22/5/2025). Foto: Alya Zahra Foto: Alya Zahra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Amnesty International Indonesia, Usman Hafid usai bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, di Balai Kota, Jakarta Pusat, Kamis (22/5/2025). Foto: Alya Zahra Foto: Alya Zahra/kumparan
Direktur Amnesty International Indonesia Usman Hamid menemui Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung untuk membahas demonstrasi mahasiswa Trisakti di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, yang berujung ricuh di depan Balai Kota.
Dari kejadian itu, 7 anggota Polri dilaporkan luka-luka sementara 93 mahasiswa ditangkap dan 43 sepeda motor diamankan oleh kepolisian.
Usman yang juga mantan Ketua Senat Mahasiswa Universitas Trisakti ini berharap, Pramono dapat turut mendorong penangguhan proses hukum terhadap 93 mahasiswa tersebut.
“Jadi tadi saya juga menyampaikan kepada Pak Pramono tentang insiden yang kemarin di sini oleh mahasiswa Trisakti. Tentu saya menghormati proses hukum di kepolisian, tapi tadi saya sampaikan juga kepada Pak Pramono, mohon agar Pak Gubernur untuk ikut mendorong penangguhan proses hukumnya,” kata Usman usai bertemu Pramono, di Balai Kota, Jakarta Pusat, Kamis (22/5).
Usman juga meminta pada Kapolda Metro Jaya Irjen Karyoto dan seluruh jajaran Polda Metro Jaya untuk menangguhkan penahanan puluhan mahasiswa tersebut.
“Karena penangkapan tadi malam itu kan banyak sekali, 88 sampai 93 orang gitu. Jadi saya betul-betul memohon kepada Kapolda juga, Pak Wakapolda, dan seluruh jajaran Ditreskrimum untuk benar-benar setidaknya menangguhkan proses hukumnya,” kata Usman yang menyelesaikan studi sarjananya di Fakultas Hukum Universitas Trisakti pada 1999 ini.
Usman menceritakan, mulanya mahasiswa Trisakti tersebut hendak bertemu dengan Kesbangpol (Badan Kesatuan Bangsa dan Politik) untuk memberikan aspirasi atas pengakuan gugurnya sejumlah mahasiswa Trisakti dan Atmajaya di tahun 1998.
Namun, ternyata untuk menemui Kesbangpol perlu melalui Pemerintah Daerah (Pemda), sehingga dua orang mahasiswa dengan sepeda motor menerobos masuk ke Balai Kota. Akhirnya terjadi dorong mendorong berujung ricuh.
“Memang pada awalnya ada aspirasi dari mahasiswa Trisakti, termasuk untuk bertemu dengan Kesbangpol. Memang sudah lama sebagian dari sivitas akademika Trisakti, berharap ada semacam pengakuan negara, pengakuan Indonesia, atas gugurnya para mahasiswa di tahun 1998,” tutur dia.
“Seluruhnya lah, dari mahasiswa Trisakti, Atmajaya, dan lain-lainnya. Tapi mungkin karena prosedurnya harus lewat pemerintah daerah, lewat Kesbangpol, mereka coba menempuh mekanisme itu,” tambah Usman.
Sementara itu, Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Publik Cyril Raoul Hakim alias Chico Hakim mengatakan, Pemprov DKI Jakarta akan membantu para mahasiswa yang ditahan oleh polisi untuk bisa pulang ke rumah.
Semalam, katanya, Pramono juga dihubungi oleh Kapolda Metro Jaya Irjen Karyoto untuk membahas kericuhan demonstrasi di depan Balai Kota, yang berujung penahanan 93 mahasiswa. Pramono meminta agar proses hukum mereka ditangguhkan.
“Tadi Pak Gubernur juga menyampaikan, semalam beliau juga ditelepon Pak Kapolda (Metro Jaya Irjen Karyoto), telepon Kapolda permintaannya Mas Usman. Tadi kan kalau memang ada proses hukum, bisa ditangguhkan,“ kata Chico di Balai Kota.
”Ya, itu kan ranahnya polisian ya. Cuma, Pemprov dan Pak Gubernur akan melakukan apa yang semampunya, untuk bisa, supaya adik-adik ini cepat bisa pulang,” sambungnya.
Penjelasan Polisi
Kasi Humas Polres Metro Jakarta Pusat, Ipda Ruslan, menjelaskan awal kericuhan tersebut. Ia menyebut massa aksi awalnya bergerak dari kampus Trisakti menuju Jalan Kebon Sirih, lalu berbelok ke Jalan Agus Salim.
“Mobil komando dan beberapa massa aksi kemudian belok kanan ke Jalan Merdeka Selatan dengan melawan arah menuju Balai Kota,” kata Ruslan saat dikonfirmasi, Kamis (22/5).
Ruslan melanjutkan, dua orang mahasiswa yang mengendarai sepeda motor diduga menerobos masuk ke dalam area Balai Kota melalui pintu gerbang. Insiden ini memicu keributan di lokasi.
“Dua orang mahasiswa menggunakan sepeda motor menerobos masuk pintu gerbang Balai Kota sehingga terjadi keributan dan pengeroyokan terhadap 7 anggota Polri,” ujar dia.
Akibat peristiwa itu, 7 anggota polisi mengalami luka, 93 orang pendemo serta 43 unit sepeda motor diamankan.
Trending Now