Vinyl di Era Digital: Resistensi Gen Z terhadap Algoritma

25 Mei 2025 14:25 WIB
Β·
waktu baca 5 menit
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Vinyl di Era Digital: Resistensi Gen Z terhadap Algoritma
Mengapa Gen Z ramai-ramai kembali beralih ke Vinyl untuk mendengarkan musik, daripada subscribe di-platform digital?
kumparanNEWS
Suasana toko vinyl di Pasar Santa yang menjamur di tengah derasnya layanan musik digital, Jaksel, Jumat (23/5). Foto: Thomas Bosco/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana toko vinyl di Pasar Santa yang menjamur di tengah derasnya layanan musik digital, Jaksel, Jumat (23/5). Foto: Thomas Bosco/kumparan
Julian, 19 tahun, punya alasan khusus mengapa dia jatuh cinta pada dunia piringan hitam. Ketertarikannya pada musik analog seperti vinyl sudah tumbuh sejak dirinya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
"Sebenarnya ada background sebagai penyuka musik dan pengoleksi vinyl. Ayah sama kakek dari dulu suka koleksi vinyl. Mungkin ada 2000-an lebih vinyl yang aku punya ya. Jadi di rumah itu aku bagi-bagi per tahun lagunya, misal tahun 80-an, 90-an, 2000-an gitu sih," kata Julian kepada kumparan, Jumat (23/5).
Julian, 19 tahun, penikmat vinyl. Foto: Dok. Pribadi
Bagi Julian, vinyl bukan sekadar media pemutar musik, melainkan juga pintu menuju kenangan. Semacam mesin waktu untuk kembali ke masa lalu.
"Kalau aku suka koleksi vinyl buat reminder, oh lagu ini mengingatkan aku waktu di pantai sama orang tua, dan sebagainya. [Musik digital] juga bisa mengenang, tapi kalo menurut aku kayak punya album secara fisik bisa lebih gampang mengenang aja," jelasnya.
Vinyl, kata dia, bisa melambangkan banyak hal, mulai dari hobi, culture, dan euforia. Selain itu, kata dia, orang-orang yang menyukai vinyl bisa saling terkoneksi hingga bisa bikin event musik.
Koleksi vinyl milik Julian. Foto: Dok. Pribadi
Meski begitu, Julian juga tak menutup diri pada musik digital. Menurut Julian, cara menikmati musik bisa berbeda-beda, tapi esensinya tetap sama. Dia pun tetap langganan layanan streaming.
"Musik enggak akan pernah punah, apa pun medianya," katanya.

Gen Z Memilih Vinyl

Julian bukanlah satu-satunya Gen Z yang menyukai vinyl. Berdasarkan hasil survei Vinyl Alliance yang dirilis 26 Januari 2025, sebesar 76 persen penggemar vinyl global adalah Gen Z.
Menariknya, sebanyak 61 persen Gen Z juga memiliki kecenderungan untuk mengubah kebiasaan mendengar musik secara digital melalui piringan hitam. Alasannya adalah kesehatan mental yang lebih baik.
Sementara itu, terdapat 53 persen Milenial yang memiliki kecenderungan tersebut. Hanya 27 persen Gen X yang mengubah kebiasaan dalam mendengarkan musiknya menjadi ke piringan hitam atau vinyl.
Selain itu, survei tersebut juga menjelaskan bahwa setengah dari Gen Z yang mengoleksi vinyl disebabkan karena mereka ingin memberikan jeda dari kehidupan digital.
Dilansir dari musicradar.com, General Manager Vinyl Alliance, Ryan Mitrovich, menyebut vinyl sedang mengalami "kebangkitan" berkat Gen Z. Sebab, mereka menunjukkan betapa penasaran dan tertariknya mereka terhadap piringan hitam itu.
"Vinyl adalah tiket Gen Z untuk (mencoba) pengalaman musik yang berbeda dan mereka menganggapnya serius, jadi sudah saatnya kita menganggap serius Gen Z sebagai penggemar dan kolektor Vinyl," kata Ryan.
Ryan juga menyoroti peran digital seperti media sosial yang membantu menyebarluaskan tren vinyl. Romantisasi konten mendengar musik lewat piringan hitam di TikTok, misalnya, berhasil menarik perhatian ratusan ribu Gen Z untuk ikut mengulik tren tersebut. Pada akhirnya, platform media sosial menjadi titik masuk Gen Z menyelami budaya yang baru bagi mereka.

Musik Streaming Tak Bisa Dimiliki

Ada yang melihat kembalinya vinyl di era streaming sebagai bentuk resistensi terhadap layanan musik dengan model bisnis berlangganan. Spotify, Apple Music, hingga Deezer adalah contoh layanan musik berbayar. Perusahaan-perusahaan itu tidak lagi menjual produk, tetapi menyediakan layanan sewa melalui platform digital.
Di negara-negara barat, resistensi ini dikenal sebagai "Rebellion Against Subsription Base and Digital Platform". Tak hanya Vinyl, CD, kaset pita hingga walkman pun diprediksi akan kembali jadi pilihan Gen Z sebagai physical media. Musik-musik itu dapat dimiliki tanpa harus berlangganan tiap bulan atau disetir oleh algoritma.
Tampilan baru Spotify, pengguna temukan rekomendasi konten dengan scroll ke bawah mirip FYP TikTok. Foto: Dok. Spotify
Banyak akademisi yang sudah memotret fenomena konsumsi langganan digital ini sebagai salah satu dari bagian hypercapitalism. Fenomena ini pun sudah diramalkan oleh filsuf sekaligus ekonom Jeremy Rifkin.
Dalam bukunya The Age of Access (2000), Rifkin meramalkan bahwa kapitalisme bergerak dari produksi barang ke penyewaan pengalaman. Rifkin berargumen bahwa kapitalisme industri berbasis barang bakal berpindah ke kapitalisme budaya berbasis akses. Kapitalisme bergeser menjadi hypercapitalism.
Artinya, konsumen tak lagi membeli barang, tapi menyewa. Di masa lalu, misalnya, kepemilikan aset seperti tanah, mobil, rumah, produk adalah keniscayaan. Namun, kapitalisme berubah dan cara orang berpartisipasi dalam ekonomi adalah dengan menyewa sesuatu.
Sementara itu, pemikir sosial Shoshana Zuboff melangkah lebih jauh lagi terkait era digital. Dalam bukunya The Age of Surveillance (2019), industri teknologi mengkomodifikasi pengalaman manusia melalui kumpulan data dan kebiasaan manusia.
Saat mengakses dunia digitalβ€”di bawah hypercapitalism, perhatian, emosi, sentuhan saat meng-klik fitur, dan privasi menjadi aset yang bisa dipasarkan (marketable assets). Dalam konteks musik streaming, algoritma tahu apa yang kita suka, bahkan sebelum kita menyadarinya. Ia merekam kebiasaan, durasi jeda, urutan skip, dan suasana hati, lalu menyusunnya dalam playlist yang seolah-olah kita inginkan.
Di situlah kemudian "Rebellion Against Subsription Base and Digital Platform" dinilai menemukan maknanya.
Toko kaset pita Kilas Balik di Pasar Santa, Jakarta. Foto: Argya Maheswara/kumparan

Resistensi Semu yang Tetap Penting

Dosen Antropologi Sosial UI, Irfan Nugraha, adalah salah satu penikmat vinyl. Menurut Irfan, kehadiran vinyl yang dibawa kembali oleh Gen Z bisa jadi bagian dari gerakan perlawanan atau resistensi. Meski begitu, gerakan tersebut dikhawatirkan menjadi semu, karena bermain di arena yang konsumtif.
"Vinyl memberi pengalaman fisik yang konkret, kita bisa menyentuh piringan hitamnya, membalik sisi A ke B, melihat cover art-nya, dan menaruh jarum di atas alurnya. Semua itu memberi sensasi yang hilang dalam musik digital. Meskipun, di sisi lain, komodifikasi atas nostalgia itu pasti ada di masa hyper-kapitalisme," jelas Irfan kepada kumparan, Kamis (22/5).
Irfan Nugraha, Dosen Antropologi Sosial UI. Foto: Dok. Pribadi
"Memang sekilas ini bentuk perlawanan, tapi di sisi lain sebagaimana situasi perlawanan dalam arena konsumtif, bisa juga jadi resistensi semu. Karena bisa dikomodifikasi ulang, bahkan vinyl-nya bisa jadi objek fetish," sambungnya.
Akan tetapi, Irfan melihat hal tersebut bukanlah menjadi satu persoalan. Bagaimana pun juga munculnya kembali musik analog memiliki signifikansinya sendiri dalam perspektif sosial.
"Menurut saya tidak jadi soal, yang jadi soal adalah ketika medium untuk mendengar musik (musik digital) sudah terlampau jauh memanipulasi feeling kita atas musik itu sendiri. Bentuk resistensi analog ini bagi saya tetap penting untuk memberi jeda dan renungan atas praktik mendengar melalui layanan streaming. Karena dibalik kemudahan mengakses jutaan lagu tentu ada isu yang disamarkan seperti hak konsumen, keadilan keuntungan antara provider dan pencipta musik, dan sebagainya," jelas Irfan.
Reporter: Muhammad Falah Nafis
Trending Now