Wamen Stella Yakin Pekerjaan Manusia Tak Tergantikan: Kemampuan Non-AI Penting

23 Oktober 2025 15:12 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wamen Stella Yakin Pekerjaan Manusia Tak Tergantikan: Kemampuan Non-AI Penting
Wamen Stella Christie menyatakan meski AI bisa menggantikan banyak pekerjaan, tapi kemampuan non-AI dalam pekerjaan tetap penting.
kumparanNEWS
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti) Stella Christie memberikan keynote speech pada acara kumparan AI for Indonesia 2025 di The Ballroom at Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti) Stella Christie memberikan keynote speech pada acara kumparan AI for Indonesia 2025 di The Ballroom at Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Stella Christie, menegaskan bahwa kemampuan manusia di luar teknologi kecerdasan buatan (non-AI skills) tetap memegang peran penting di masa depan.
Menurutnya, meskipun AI bisa menggantikan banyak pekerjaan, manusia masih punya peran yang tidak tergantikan.
Ia menambahkan berdasarkan survei global, kemampuan yang justru paling dibutuhkan di masa depan adalah kemampuan non-AI.
β€œIni adalah survei dunia. Apa kata mereka? Core skill di tahun 2030, justru menurut pekerja kemampuan non-AI tetap penting,” tuturnya.
Atas dasar itu, Stella meminta masyarakat tidak terjebak dengan hype AI. Ia menegaskan, AI adalah alat yang harus digunakan secara tepat guna, dan pelatihannya juga harus difokuskan kepada mereka yang pekerjaannya terancam tergantikan oleh AI.
"Jadi kalau kita melakukan pelatihan, yang paling memerlukan pelatihan agar mereka tidak tergantikan adalah karyawan yang saat ini pekerjaannya terancam tergantikan, bukan anak-anak kecil," jelasnya.
Stella menjamin dalam waktu dekat setidaknya hingga 10 tahun lagi, AI akan berubah menjadi alat yang memudahkan kerja manusia. Sehingga, masyarakat khususnya yang memasuki usia kerja harus fokus pada keterampilan non-AI atau keterampilan manusia.
"Jadi untuk generasi muda yang akan memasuki pasar kerja, ketika AI sudah luas dan matang fokuslah pada keterampilan yang fokus pada kemampuan manusia. Karena bagi generasi muda, keterampilan berbasis AI akan berguna namun akan lazim dan transparan. Dengan dana terbatas dan waktu terbatas, kita harus pintar-pintar berstrategi agar tujuannya orang tidak tergantikan oleh AI," ujarnya.
Lebih lanjut, Stella mengingatkan AI bisa digunakan untuk dua hal yang sangat berbeda: keamanan dan ketidakamanan.
β€œPertanyaannya apakah kita ingin [Indonesia menjadi] the good place atau bad place [untuk AI]. [Kalau] good place kuncinya manusia yang tetap berada di pusatnya dan tahu bagaimana menganalisa kapan serangan itu terjadi dan kapan keputusan itu diambil,” pungkasnya.
Reporter: Antika Fahira
Trending Now