Wamendikdasmen: Sekolah Tak Hanya Cetak Pencari, tapi Pencipta Lapangan Kerja

8 Desember 2025 14:54 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wamendikdasmen: Sekolah Tak Hanya Cetak Pencari, tapi Pencipta Lapangan Kerja
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menegaskan bahwa SMK bidang pangan tidak lagi bisa berjalan seperti biasa.
kumparanNEWS
Atip Latipulhayat mendatangi kediaman Presiden terpilih Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Selasa (15/10/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Atip Latipulhayat mendatangi kediaman Presiden terpilih Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Selasa (15/10/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menegaskan, SMK bidang pangan tidak lagi bisa berjalan seperti biasa. Katanya, slogan sekolah harus cetak pencipta lapangan kerja harus digaungkan.
Ia menilai perubahan besar sektor pangan di Indonesia pada masa mendatang menuntut lulusan yang tidak hanya siap bekerja, tetapi mampu menciptakan peluang kerja baru.
“Sekolah tidak hanya mencetak pencari kerja, tetapi pencipta lapangan kerja. Ini slogan yang harus segera direalisasikan,” kata Atip dalam Simposium Penyelarasan dan Revitalisasi Vokasi Bidang ketahanan Pangan di Millenium Hotel, Jakarta Pusat, Senin (8/12).
Ia menjelaskan, transformasi pertama yang harus dilakukan SMK pangan adalah memperbarui kompetensi ke arah food technology dan agritech. Pembelajaran harus mengintegrasikan literasi digital, penggunaan alat berbasis sensor, dasar analisis data sederhana, hingga teknologi pengolahan modern.
Atip mencontohkan perkembangan teknologi remote sensing yang kini digunakan dalam penangkapan ikan.
“Dulu mengandalkan pengalaman, bahkan ada takhayul untuk ikan. Tapi dengan teknologi remote sensing, bukan saja (mendeteksi) di mana ikan berkumpul, bahkan sekarang sudah ke teknologi laut dalam,” ujarnya. Menurut dia, gambaran ini menunjukkan pentingnya membekali siswa dengan basis teknologi.
Buruh tani menanam padi di area persawahan Tamarunang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (16/6/2022). Foto: Arnas Padda/ANTARA FOTO
Kedua, pembelajaran di SMK pangan harus berbasis masalah nyata dan proyek produksi. “SMK pangan harus menghasilkan produk nyata, unit produksi yang hidup, serta lulusan yang terbiasa berpikir bisnis, kualitas, dan efisiensi,” katanya.
Ia menilai, tiga kemampuan ini tidak dimiliki pelaku pangan tradisional, sehingga SMK perlu beralih dari cara pandang lama.
Ketiga, ia menekankan pentingnya green skills—keahlian hijau terkait pengelolaan limbah, efisiensi sumber daya, keamanan dan mutu pangan, serta prinsip ekonomi sirkular. “Inilah bekal utama menuju green jobs sektor pangan,” ujar Atip.
Keempat, SMK pangan harus disesuaikan dengan potensi pangan daerah.
“Tidak semua SMK harus sama. SMK pangan harus tumbuh dari potensi lokal, komoditas unggulan daerah dan kebutuhan nyata ekosistem setempat,” kata Atip.
Kelima, ia menyoroti transformasi peran guru dan kemitraan industri. “Guru SMK pangan bukan hanya pendidik, tetapi fasilitator inovasi, mentor kewirausahaan, dan penghubung dengan dunia industri,” ujarnya.
Kemitraan industri, menurut dia, harus substansial, jangka panjang, dan saling menguatkan.
Atip menegaskan, ketahanan pangan Indonesia ke depan sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang mampu mengelola teknologi dan potensi pangan.
“SMK bidang pangan adalah investasi strategis bangsa untuk menjaga ketersediaan pangan, meningkatkan daya saing produk, dan memastikan keberlanjutan sektor ini,” ucap dia.
“Jika kita ingin ketahanan pangan yang kuat 10 tahun ke depan, maka hari ini kita harus memperkuat SMK bidang pangan,” tutup Atip.
Trending Now