Warga Maroko Pro-Palestina Demo di Pelabuhan, Tuntut Putus Hubungan Israel

4 Mei 2025 15:28 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga Maroko Pro-Palestina Demo di Pelabuhan, Tuntut Putus Hubungan Israel
Aksi protes terhadap normalisasi hubungan Maroko dengan Israel terus membesar dalam setahun ke belakang. Kini ribuan warga menyasar pelabuhan-pelabuhan strategis negara itu.
kumparanNEWS
Warga Maroko memprotes berlabuhnya kapal kargo Maersk yang membawa suku cadang pesawat yang mereka duga akan menuju Israel, di luar Pelabuhan Mediterania Tangier, Minggu (20/4/2025). Foto: Mosa'ab Elshamy/AP
zoom-in-whitePerbesar
Warga Maroko memprotes berlabuhnya kapal kargo Maersk yang membawa suku cadang pesawat yang mereka duga akan menuju Israel, di luar Pelabuhan Mediterania Tangier, Minggu (20/4/2025). Foto: Mosa'ab Elshamy/AP
Aksi protes terhadap normalisasi hubungan Maroko dengan Israel terus membesar dalam setahun ke belakang. Kini warga menyasar pelabuhan-pelabuhan strategis negara itu.
Di tengah lalu lintas kontainer dan kapal barang, para aktivis turun ke dermaga, menyerukan penghentian pengiriman komponen militer yang diduga akan berakhir di tangan Israel.
Maroko adalah satu dari empat negara Arab yang menormalisasi hubungan dengan Israel lewat Perjanjian Abraham pada 2020.
Sebagai imbalannya, AS mengakui klaim Maroko atas Sahara Barat—wilayah yang hingga kini masih disengketakan.
Namun sejak perang Israel-Hamas meletus, normalisasi itu memantik gelombang penolakan baru.
Puluhan ribu orang telah berdemonstrasi di berbagai kota Maroko. Pada Jumat (3/5), ada 110 demonstrasi di 66 kota untuk mendukung warga Palestina di Gaza.
Warga Maroko memprotes berlabuhnya kapal kargo Maersk yang membawa suku cadang pesawat yang mereka duga akan menuju Israel, di luar Pelabuhan Mediterania Tangier, Minggu (20/4/2025). Foto: Mosa'ab Elshamy/AP
Di Casablanca, Rabat, hingga Tangier, massa menyerukan pemutusan hubungan diplomatik, ekonomi, dan militer dengan Israel. Protes tersebut melibatkan berbagai kelompok—keluarga, pelajar, pekerja pelabuhan, aktivis Islam, dan sayap kiri.
Beberapa membakar bendera Israel, sebagian menyerukan boikot perusahaan yang terlibat dalam rantai pasok militer.
Seorang insinyur pertanian berusia 34 tahun, Ismail Lghazaoui, kembali turun ke jalan bulan lalu.
Di pelabuhan, ia mengangkat spanduk bertuliskan “Tolak kapal itu”, mengacu pada kapal dari Texas yang membawa komponen jet tempur F-35.
Lghazaoui pernah dipenjara selama empat bulan karena mengunggah kritik terhadap perusahaan pelayaran Maersk di media sosia.
Maersk merupakan perusahaan yang disebut sebagai rantai logistik suku cadang militer tersebut.
“Mereka mencoba membungkam orang,” kata Lghazaoui kepada The Associated Press.
“Saya dijadikan contoh agar orang lain takut melawan.”
Warga Maroko memprotes berlabuhnya kapal kargo Maersk yang membawa suku cadang pesawat yang mereka duga akan menuju Israel, di luar Pelabuhan Mediterania Tangier, Minggu (20/4/2025). Foto: Mosa'ab Elshamy/AP
Pelabuhan kini menjadi titik konsentrasi baru.
Awal April lalu, dua kapal kargo yang membawa suku cadang jet tempur melintasi pelabuhan Maroko dalam perjalanan ke Israel. Aksi penolakan pun membesar setelah serikat buruh pelabuhan dan ulama yang berafiliasi dengan kelompok Al Adl wal Ihsan ikut menyerukan pemblokiran.
Meski tidak memiliki izin resmi untuk berpolitik, Al Adl wal Ihsan menjadi penggerak utama solidaritas untuk Gaza.
Pengaruh kelompok ini menguat seiring ketidakpuasan publik terhadap partai politik arus utama.
Menanggapi kritik, Maersk mengakui kapal mereka membawa suku cadang militer, namun membantah telah mengirimkannya ke zona konflik.
Menurut perusahaan asal Denmark itu, semua kargo militer membutuhkan sertifikat tujuan akhir, dan mereka hanya berperan sebagai pengangkut logistik global.
Seorang pejabat pelabuhan di Tangier menyebut kapal yang hanya berlabuh untuk transit umumnya tidak diperiksa secara menyeluruh.
Pemerintah Maroko belum memberikan pernyataan resmi.
Namun, para pejabat sebelumnya berpendapat hubungan dengan Israel dibutuhkan untuk membuka jalur diplomasi, termasuk pengiriman bantuan ke Gaza dan desakan atas solusi dua negara.
Warga Maroko memprotes berlabuhnya kapal kargo Maersk yang membawa suku cadang pesawat yang mereka duga akan menuju Israel, di luar Pelabuhan Mediterania Tangier, Minggu (20/4/2025). Foto: Mosa'ab Elshamy/AP
Sayangnya, beberapa warga mulai mempertanyakan apakah fokus terhadap Gaza menutup ruang bagi isu-isu lokal seperti marginalisasi komunitas Amazigh dan konflik lama di Sahara Barat.
Sementara itu perubahan sikap politik pun mulai tampak. Partai Keadilan dan Pembangunan, yang dulu ikut mendukung normalisasi, kini justru mengundang perwakilan Hamas ke kongres partai di Rabat.
Mereka gagal hadir karena tidak mendapat visa masuk. Namun, sinyal politiknya jelas.
“Palestina akan tetap menjadi tujuan utama kami,” ujar mantan perdana menteri Maroko, Abdelilah Benkirane.
Trending Now