Iran serang Israel

Waspada Iran-Israel Terus Membara

1 Juli 2025 9:39 WIB
·
waktu baca 12 menit
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Waspada Iran-Israel Terus Membara
Perang konstan antara Iran dan Israel akan berdampak pada dunia, termasuk Indonesia. Penutupan Selat Hormuz, misal, dapat menaikkan harga minyak, berimbas ke pertumbuhan ekonomi negara. #kumparanNEWS
kumparanNEWS
Perang berkelanjutan antara Iran dan Israel akan berdampak pada dunia, termasuk Indonesia. Penutupan Selat Hormuz, misal, bisa menaikkan harga minyak dunia, yang pada gilirannya berimbas ke pertumbuhan ekonomi negara.
***
Jumat dini hari, 13 Juni 2025, seharusnya menjadi momen tenang di kediaman Purkon Hidayat di Teheran Utara, Iran. Namun sekitar pukul 3 pagi, ketenangan itu pecah berkeping-keping karena ledakan tiba-tiba terdengar hingga membuat kaca rumahnya bergetar hebat.
Der. Beberapa puluh detik berselang. Der.
“Kita ke ruangan tengah,” ujar Purkon yang terbangun di pagi buta itu menginstruksikan istri dan anaknya menjauh dari kamar yang berjendela dan berkaca besar. Tak lama, bau mesiu yang menyengat menyusup ke dalam rumah membawa denyut ketakutan.
Di luar, dentuman kembali terdengar tiga hingga empat kali dalam rentetan cepat yang tak sampai satu menit. Purkon menduga, ini bukan dentuman biasa karena kecelakaan atau kebakaran, meskipun ia mendengar sirine pemadam kebakaran beberapa waktu setelah kejadian itu.
Asap membubung tinggi setelah ledakan di Teheran, Iran, Jumat (13/6/2025). Foto: Vahid Salemi/AP Photo
Ledakan yang getarannya Purkon rasakan ternyata menargetkan sebuah unit apartemen di lantai empat yang komplek apartemen itu hanya beberapa meter dari rumahnya. Menurut Purkon, sasarannya ialah rektor universitas bernama Tehranchi yang kemudian disebut tewas dengan anak-anaknya–menjadi bukti bahwa warga sipil berada di garis bidik.
Apa yang dialami Purkon, seorang Warga Negara Indonesia yang telah 24 tahun tinggal di Iran dan berprofesi sebagai dosen, rupanya adalah detik-detik pembuka dari eskalasi konflik terbaru yang menyeret Iran dan Israel ke perang yang berlangsung 12 hari berikutnya.
Peristiwa di dekat rumah Purkon hanyalah awal. Malam-malam berikutnya, ia mengatakan langit Teheran berubah menjadi panggung kembang api, di mana suara dar-der-dor dari pertempuran drone, serangan rudal, dan pertahanan udara menjadi musik latar dan panorama yang mengerikan bagi warga.
Petugas pemadam kebakaran bekerja di lokasi bangunan yang rusak setelah serangan Israel, di Teheran, Iran, Jumat (13/6/2025). Foto: Majid Asgaripour / WANA / via REUTERS
Di Iran, Purkon mendapati kabar serangan itu menarget sasaran yang diduga punya peran penting dalam militer dan pengembangan nuklir di Iran. Serangan juga meluas ke fasilitas publik seperti kantor berita resmi pemerintah hingga gudang penyimpanan bahan bakar.
Israel menamakan serangan tersebut sebagai Operation Rising Lion atau Singa yang Bangkit.

Kenapa Israel Menyerang Iran?

Sehari sebelum serangan ke Iran, kubu oposisi pemerintahan Israel mengajukan mosi pembubaran parlemen Israel (Knesset). Jika mosi berhasil lolos dengan suara terbanyak, ini dapat memicu pemilihan umum dini sebelum masa jabatan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berakhir pada 2026.
Salah satu yang menjadi dalih mosi tersebut ialah aturan pengecualian wajib militer bagi kaum ultraortodoks (Haredi). Kelompok yang tengah menempuh studi seminari keagamaan ini dibebaskan dari kewajiban dinas militer di negara yang memberlakukan wajib militer bagi para pemuda Israel itu–dan selama ini memicu kecemburuan sosial kelompok lainnya.
Salah satu demonstran membawa poster saat memprotes Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mundur. Foto: Ronen Zvulun/REUTERS
Ini adalah kesekian kali kubu oposisi menekan pemerintah Netanyahu di tengah momentum perang berkepanjangan di Gaza sejak pemerintahannya gagal mencegah serangan Hamas terjadi pada 7 Oktober 2024. Meski akhirnya, pemerintah Netanyahu selamat setelah menang tipis 61 suara yang menolak mosi itu berbanding 53 yang mendukung dari 120 suara di Knesset.
Pengamat Timur Tengah Universitas Padjadjaran Dina Sulaeman menilai serangan ke Iran menjadi salah satu momentum Netanyahu untuk keluar dari jeratan krisis politik domestik di pemerintahannya tersebut.
“Netanyahu untuk mempertahankan kekuasannya supaya dia tetap jadi PM, dia melakukan serangan militer [ke Iran] tersebut. Kan langsung teralihkan opini publiknya. Yang tadinya banyak protes, tapi Netanyahu [dianggap] menunjukkan keberanian menyerang Iran,” ujar Dina kepada kumparan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato politik saat Hari Peringatan Israel untuk mengenang Prajurit yang gugur di Tugu Peringatan Yad LaBanim, Yerussalem, Israel, Selasa (29/4/2025). Foto: Abir Sultan/POOL/AFP
Di sinilah isu program nuklir Iran jadi dalih sentral. Mantan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Andi Widjajanto melihat alasan Israel menyerang karena proses pengayaan uranium oleh Iran yang dianggap mengancam Israel karena berpotensi menjadi senjata nuklir.
“Jadi kemudian 13 Juni, Israel melakukan opsi serangan militer ke fasilitas nuklir Iran,” ujar Andi.
Hanya saja Andi menilai Israel tidak dapat langsung yakin bahwa fasilitas nuklir Iran sudah hancur dengan serangan bom biasa. Sebab, khususnya di fasilitas nuklir Fordow yang berada hingga kedalaman 80-90 meter di bawah tanah, hal itu menurut Andi hanya bisa dihancurkan dengan bom bunker buster milik Amerika Serikat.
Israel akhirnya menyeret AS dan membuatnya membantu mengebom 3 fasilitas nuklir Iran yakni Fordow, Nathan, dan Isfahan pada Sabtu (21/6) menggunakan pesawat pengebom siluman B-2 Spirit dalam Operation Midnight Hammer.
Fasilitas nuklir Fordo di Iran. Foto: Maxar Technologies/Handout via REUTERS
Namun, keterlibatan Washington kali ini bukanlah repetisi dari konflik-konflik lama di Timur Tengah sebelumnya yang didorong oleh perebutan minyak. Pengamat Ekonomi, Wijayanto Samirin, menjelaskan bahwa lanskap energi global telah berubah. Amerika kini tak lagi bergantung sepenuhnya pada pasokan Timur Tengah. Badan Informasi Energi AS (EIA) mencatat, pada 2024 hanya 7% minyak mentah yang mengarah ke AS melintasi Selat Hormuz.
“Motivasi konflik di Timur Tengah, kalau saya melihat dari sudut pandang political-economy, sekarang lebih kepada isu eksistensial Israel,” kata Wijayanto Samirin saat diwawancara di kampusnya, Universitas Paramadina.
Menurutnya, strategi Israel adalah menumpas siapa pun yang berpotensi menjadi lawannya di kawasan. Setelah Mesir, Suriah, Libya, dan Irak berhasil dilemahkan, hanya Iran yang tersisa sebagai kekuatan signifikan yang dianggap mampu berhadapan langsung dengan Israel.
Volume dan tujuan ekspor minyak mentah yang melewati Selat Hormuz. Foto: EIA
AS, menurut Wijayanto dan Dina, terseret membantu Israel karena negara itu mempunyai pengaruh luar biasa di internal politik AS melalui lobi. Selain itu, tokoh dan kelompok pro Israel juga selama ini menjadi donatur Trump dalam pemilu.
Dina menyebut Iran dianggap ancaman keamanan bagi Israel karena Iran selama ini memberi bantuan senjata dan insinyur ke para pejuang Palestina seperti Hamas. Kebijakan luar negeri Iran ini tidak disukai Israel, terlebih jika suatu saat Iran akan menyerang Israel dengan tangannya sendiri.
Karenanya serangan ke Iran menurut Dina memiliki agenda–bukan semata-mata karena nuklir atau misil–tetapi untuk membuat agar pemerintah Iran lemah dan mendorong penggulingan rezim.
“Tujuan utamanya itu, supaya ada rezim atau pemerintahan baru yang tidak mendukung Palestina dengan cara seperti (memberi senjata) itu,” kata Dina.
Pengamat Timur Tengah Universitas Padjadjaran, Dina Sulaeman. Foto: kumparan
Amatan itu terbukti lantaran beberapa waktu setelah serangan pada 13 Juni, Netanyahu merilis tiga konferensi pers dalam bahasa Ibrani dan Inggris yang menjelaskan alasannya menyerang Iran.
Pertama, menghadapi ancaman eksistensial negara Israel dari pengembangan senjata nuklir dan rudal balistik Iran. Kedua, mengisyaratkan perang terhadap rezim pemerintahan Republik Islam Iran.
“Pertarungan Israel bukan dengan Anda rakyat Iran yang pemberani yang kami hormati dan kagumi. Pertarungan kami adalah dengan musuh kita bersama, sebuah rezim pembunuh yang menindas sekaligus memiskinkan Anda,” kata Netanyahu.
Setali tiga uang, Presiden AS Donald Trump juga sempat menghembuskan wacana pergantian rezim di balik pertaruhan geopolitiknya di Iran membantu Israel.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadiri pertemuan puncak NATO di Den Haag, Belanda, Rabu (25/6/2025). Foto: Toby Melville/REUTERS
“Tidaklah tepat secara politis untuk menggunakan istilah perubahan rezim, tetapi jika rezim Iran saat ini tidak mampu membuat Iran hebat lagi, mengapa tidak ada perubahan rezim?” ujar Trump di akun media sosial pribadinya, Minggu (22/6).
Ia menutup postingannya itu dengan ungkapan MIGA yang dalam konteks pembicaraannya merujuk pada sindiran Make Iran Great Again (Jadikan Iran Negara yang Hebat Kembali).

Ancaman Penutupan Selat Hormuz Bisa Berdampak Luas

Di tengah serangan ke negaranya, Iran mempertimbangkan untuk menutup Selat Hormuz yang terletak di antara Oman dan Iran. Jalur pelayaran sempit selebar sekitar 54 km ini menghubungkan Teluk Persia dan Laut Arab yang merupakan titik vital bagi perdagangan minyak dunia.
Badan Informasi Energi AS (EIA) menyebut pelayaran yang mengangkut minyak dapat mencapai rata-rata 21 juta barel per hari atau 21% konsumsi minyak bumi dunia.
Merespons konflik, Parlemen Iran sudah menyetujui penutupan jalur pelayaran minyak penting tersebut, tetapi keputusan itu belum final lantaran perlu persetujuan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Infografik Seberapa Krusial Selat Hormuz. Foto: kumparan
Meski begitu, kabar ini membuat komunitas internasional harus pasang kuda-kuda. Pasalnya, menurut Wijayanto Samirin, penutupan itu bisa menggangu suplai sehingga berpotensi menaikkan harga minyak dunia sehingga seluruh dunia akan merasakan dampaknya.
Wijayanto menjelaskan jika benar Selat Hormuz ditutup harga minyak mentah dunia bisa tembus 100-110 USD per barel. Kondisi harga minyak mentah setinggi di atas 100 USD itu dalam 10 tahun terakhir terjadi ketika pandemi COVID sudah mulai mereda bersamaan dengan negara-negara kembali menggenjot aktivitas ekonomi pasca-lockdown.
Dampak itu akan terasa kepada negara seperti Indonesia yang menjadi net importir minyak bumi sejak 2008. Asumsi makro yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 Indonesia berada di angka 82 USD per barel.
“Perkiraan kasarnya, setiap harga minyak mentah naik 1 USD [di atas asumsi makro], maka defisit APBN kita naik Rp 5-6 triliun. Kalau naik 10 USD, kira-kira naik 50-60 triliun rupiah defisitnya,” ujar Wijayanto.
Pengendara mengisi bensin kendaraannya di salah satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jakarta Selatan, Selasa (16/8/2022). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Skenario tersebut tentunya akan menambah beban fiskal yang menurut Wijayanto sudah kurang menggembirakan karena penerimaan negara hingga akhir Mei baru 33%, menurun ketimbang tahun sebelumnya yang di atas 40%.
Kenaikan harga minyak juga bakal menekan nilai tukar rupiah karena berarti pengeluaran untuk membeli minyak makin besar, dan ini akan menekan pertumbuhan ekonomi sehingga ekspor komoditas non energi akan turun baik secara harga dan volumenya.
“Kalau itu semua terjadi pertumbuhan ekonomi akan melambat, penciptaan lapangan kerja akan melambat, boleh jadi akan makin banyak PHK, program bansos yang biasanya digelontorkan barangkali tidak bisa dilakukan seperti seharusnya, kalau itu benar-benar terjadi,” jelas Head Advisor Paramadina Public Policy Institute itu.
Pengamat Ekonomi Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Meski begitu rencana penutupan Selat Hormuz sementara tak berlanjut dan harga minyak mentah dunia turun dari 70-an USD per barel saat pekan Perang Israel-Iran menjadi 65 USD per barel. Kementerian Keuangan pekan lalu menilai tekanan terhadap pasar keuangan dan inflasi masih dalam rentang aman.
“Dari sisi rambatan ke dalam negeri melalui tekanan harga minyak terhadap inflasi yang terkait dengan harga BBM yang dapat diredam dengan adanya subsidi dan kompensasi yang diberikan Pemerintah. Masih terdapat ruang fiskal untuk menyerap risiko inflasi terhadap domestik melalui kebijakan Pemerintah tersebut,” kata Kepala Biro KLI Kemenkeu, Deni Surjantoro, Kamis (26/2).
Pengamat menilai Iran tidak akan melanjutkan rencana penutupan Selat Hormuz. Wijayanto menyebut bahwa rencana ini kemungkinan akan ditolak oleh sekutu Iran seperti China yang membeli sekitar 90% minyak-gas dari negara itu. Negara lain yang terdampak seperti Jepang, Korea Selatan, dan India juga diperkirakan bakal melobi keras agar aliran minyak tetap terjaga.
Andi Widjajanto yang merupakan Penasehat Senior think tank LAB 45 berpendapat bahwa Iran tak menutup Selat Hormuz karena tahu risiko eskalasi konflik dapat meningkat dan AS bakal menggunakan kekuatan militer untuk merespons hal itu.
“Amerika Serikat pasti masuk [intervensi militer] untuk menguasai Selat Hormuz sebelum kembali nanti ada upaya internasionalisasi Selat Hormuz,” ujar Andi.
Yang terpenting menurut Andi, Indonesia jangan sampai salah bersikap dalam merespons konflik Israel-Iran ini. Sebab, sikap Indonesia terhadap konflik ini dapat berpengaruh dalam perundingan tarif resiprokal Trump yang terakhir ditunda hingga 90 hari sejak 10 April 2025.
Andi juga menyinggung sikap Presiden Prabowo yang memilih ke Rusia menemui Presiden Rusia Vladimir Putin dan menghadiri St. Petersburg International Economic Forum 2025. Padahal di saat yang sama, Indonesia diundang ke Konferensi Tingkat Tinggi G7 di Kanada, 15–17 Juni 2025. Andi menilai sikap ini sudah membuat Indonesia berpotensi dikenai tarif hingga 60%.
“Nah nanti kalau pemerintah tiba-tiba melakukan kebijakan yang di sana (AS) dipandang sebagai pro-Iran, sudah tarif dari 60%, [jadi naik] 100% nih. Ya nanti negosiasi tarifnya harus lebih keras lagi [ke AS],” ujar Andi mewanti-wanti.
Presiden Donald Trump menunjukkan grafik tarif impor baru saat "Make America Wealthy Again" di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (2/4/2025). Foto: Brendan Smialowski/AFP

Siapa Kalah, Siapa Menang di Perang Israel-Iran?

Iran membalas serangan Israel dan AS dengan meluncurkan operasi yang dinamakan True Promise III. Selain mengancam menutup Selat Hormuz, Iran juga menyerang Israel dengan serangan rudal yang merusak bangunan di Kota Tel Aviv hingga Haifa.
Serangan rudal Iran juga menarget pangkalan militer AS di Qatar, Al Udeid, pada Senin (23/6). Kondisi ini empat membuat pesawat yang ditumpangi Purkon menuju Doha untuk transit, justru mendarat darurat di Jeddah dan tertahan 6 jam di sana.
Gelombang serangan Israel, menurut data Kementerian Kesehatan Iran, menewaskan total 627 orang dan melukai 4.870 lainnya. Deretan korban tewas termasuk 13 anak dan 49 perempuan, 16 ilmuwan nuklir, dan 10 pejabat tinggi militer Iran.
Sementara di sisi Israel korban tewas berjumlah 29 orang, dan 3.491 lainnya terluka.
Petugas tanggap darurat melihat kondisi permukiman yang terkena dampak serangan rudal dari Iran di Be'er Sheva, Israel, Selasa (24/6/2025). Foto: Amir Cohen/REUTERS
Walau demikian menurut Dina dan Wija, Israel dan Amerika Serikat tidak dapat mencapai tujuannya dalam perang. Pertama, karena fasilitas nuklirnya belum dapat dipastikan membuat Iran kehilangan kemampuan mengembangkan nuklirnya. Kedua, tidak terjadi perubahan rezim seperti yang diharapkan pada awalnya.
Belakangan, Netanyahu dan Trump justru menyangkal bahwa serangannya bukan untuk mengubah rezim, meskipun keduanya sempat menyinggung hal itu di awal perang. Donald Trump belakangan justru menyebut dirinya sebenarnya tahu Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Khameini selama ini tapi AS memutuskan untuk tak mengeliminasinya.
“Banyak pengamat yang mengatakan pemenang perang ini hingga gencatan senjata adalah Iran. Karena Iran, targetnya adalah mempertahankan sovereignty (kedaulatan) dan ini tercapai. Sedangkan Israel, Amerika, [targetnya] menjatuhkan rezim dan menghancurkan fasilitas nuklir, yang ternyata dua-duanya tidak tercapai,” ujar Wijayanto.
Tim penyelamat mengevakuasi warga setelah serangan rudal dari Iran di Tel Aviv, Israel, Minggu (22/6/2025). Foto: Tomer Appelbaum/REUTERS
Ditambah lagi menurut Dina, serangan Iran mampu memukul moral masyarakat Israel yang selama ini menganggap dirinya aman. Hal ini juga dinilai berpotensi menghambat investasi di Israel karena jaminan keamanan kini sudah runtuh.
“Kemudian dari sisi political standing-nya di dunia internasional semakin jadi pariah (terbuang). Israel semakin jadi negara yang terkucilkan dan terhina karena dia melakukan kesalahan melanggar pasal 2 Piagam PBB: menyerang negara berdaulat sesama anggota,” kata Dina yang juga lulusan Teheran University itu.
Dina menambahkan, sedari awal menyerang Iran bukanlah kepentingan Amerika Serikat. Trump selalu menggaungkan jargon MAGA (Make America Great Again) yang dianggap bakal berfokus membangun ekonomi dalam negeri ketimbang membuang uang untuk perang di luar negeri.
Donald Trump yang kala itu jadi kandidat calon presiden dari Partai Republik berpose bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat pertemuan di Palm Beach, Florida, Amerika Serikat, Jumat (26/7/2024). Foto: Kantor Pers Pemerintah Israel / AFP
Dina dan Wijayanto menganggap lobi zionis di jantung politik AS cukup berpengaruh sehingga membuat Trump akhirnya cawe-cawe menyerang Iran.
Profesor Ilmu Politik dan Hubungan Internasional AS, John Mearsheimer (Universitas Chicago) dan Stephen Walt (Universitas Harvard) membeberkan bagaimana lobi tersebut didaratkan untuk mempengaruhi kebijakan luar negeri AS dalam bukunya The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy (2007).
“Di Amerika itu kita bisa menyerang, mengkritik siapapun termasuk presiden, tetapi ketika kita mengkritik Israel, tiba-tiba jabatan dilepas, pekerjaan hilang, hidup sulit. Kalau imigran dideportasi, kalau pelajar dari luar negeri disuruh pulang gitu ya,” ujar Wija.
Kompleks perumahan di Teheran utara, Iran, yang terkena ledakan, Jumat (13/6/2025). Foto: Vahid Salemi/AP Photo
Terpenting, situasi ke depan perlu terus diantisipasi. Dina menyebut yang terjadi saat ini ialah penghentian permusuhan (cessation of hostilities) yang sewaktu-waktu dapat berubah situasinya sesuai ekskalasi konflik.
Menurut Andi, dengan keragu-raguan informasi bahwa fasilitas nuklir Iran telah hancur, bisa jadi suatu saat Iran akan dapat memperbaiki dan mengoperasikannya kembali.
“Mestinya dengan kehancuran yang ada, proses pengayaan uranium Iran tidak akan jalan dalam 8-9 bulan ke depan. Nanti akan ribut lagi dengan masalah (alasan) yang sama kira-kira tahun 2027. Selalu siklusnya berulang seperti ini,” tutup Andi.
Warga Iran merayakan di jalan setelah serangan IRGC terhadap Israel, di Teheran, Iran, 1 Oktober 2024. Foto: Majid Asgaripour/WANA via Reuters
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Trending Now