Xi Jinping Bicara dengan Trump, Tegaskan Sikap China atas Taiwan
25 November 2025 18:02 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Xi Jinping Bicara dengan Trump, Tegaskan Sikap China atas Taiwan
Xi Jinping kembali menegaskan sikap China terhadap Taiwan, menyatakan Taiwan penting jadi bagian China demi tatanan internasional pasca perang.kumparanNEWS

Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump berbicara melalui sambungan telepon. Dalam momen itu, Xi kembali menegaskan sikap negaranya terhadap Taiwan.
Kantor berita Xinhua melaporkan, Xi memberi tahu Trump bahwa kembalinya Taiwan ke pemerintahan China merupakan bagian penting dalam tatanan internasional pasca perang.
"China dan AS sekali lagi berdiri bersama melawan fasisme dan militeralisme, dan mengingat apa yang sedang terjadi, lebih penting bagi mereka (Taiwan) untuk bersama-sama menjaga hasil kemenangan Perang Dunia II," kata Xi dalam perbincangannya dengan Trump, Selasa (25/11).
Pernyataan Xi itu menuai penolakan keras dari Taiwan. Perdana Menteri Taiwan Cho Jung-tai mengatakan kembalinya pulau itu ke China bukanlah pilihan.
"Kami harus sekali lagi menegaskan bahwa Republik China (Taiwan), adalah negara yang sepenuhnya berdaulat dan independen," kata Cho di luar gedung parlemen, dikutip dari Reuters.
"Bagi 23 juta penduduk negara kami, 'kembali' (ke China) bukanlah pilihan -- ini snagat jelas," katanya lagi.
China menawarkan model "satu negara, dua sistem" yang selalu ditolak oleh Taiwan. Bagi China, Taiwan merupakan isu diplomatik yang paling penting dan sensitif.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Taiwan Hsiao Kuang-wei mengatakan bahwa China memutarbalikkan fakta seputar Perang Dunia II. Hsiao kemudian merujuk pada pernyataan AS pada September lalu tentang bagaimana China mencoba menggunakan dokumen dari era itu untuk menekan dan mengisolasi Taiwan.
"China telah berulang kali mencoba mengintimidasi dan menekan negara-negara tetangga seperti Taiwan dan Jepang di kawasan dengan sifat ekspansionisnya yang otoriter," kata Hsiao.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mengatakan Republik Rakyat China mengambil alih pemerintahan penerus Republik China pada 1949.
"Kedaulatan dan integritas teritorial China tidak akan berubah," kata Mao.
Isu Taiwan kembali memanas setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyebut serangan China ke Taiwan akan membahayakan keselamatan Jepang dan dapat memicu reaksi militer Jepang di kawasan.
Sejak saat itu, hubungan China dan Jepang memanas. China meminta warganya tidak berpergian ke Jepang. Sejumlah agenda pertukaran budaya dibatalkan, dan agenda pertemuan trilateral menteri kebudayaan China, Jepang, dan Korea Selatan ditunda.
