Yudi Latif: Thayeb Gobel Seorang Tokoh Patriot Positif-Progresif

25 Oktober 2024 4:47 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Yudi Latif: Thayeb Gobel Seorang Tokoh Patriot Positif-Progresif
Yudi Latif: Thayeb Gobel Seorang Tokoh Patriot Positif-Progresif
kumparanNEWS
Acara bedah buku Praksis Pancasila, Pengamalan Ideologi di Perusahaan Gobel, di Aula Kasman Singodimedjo, UMJ, Kamis (24/10) Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Acara bedah buku Praksis Pancasila, Pengamalan Ideologi di Perusahaan Gobel, di Aula Kasman Singodimedjo, UMJ, Kamis (24/10) Foto: Dok. Istimewa
Yudi Latif, seorang pemikir kebangsaan dan bekas Kepala BPIP menyebut Thayeb M. Gobel adalah seorang tokoh negara yang punya sifat patriot juga positif dan progresif. Hal itu ia sampaikan dalam acara bedah buku karya Nasihin Masha: 'Praksis Pancasila, Pengamalan Ideologi di Perusahaan Gobel'.
"Beliau seorang yang fokus membangun dengan mengaplikasikan Pancasila dalam kehidupan usahanya,” katanya, Kamis (24/10), di Aula Kasman Singodimedjo, Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Buku tersebut mengulas bagaimana Thayeb mempraktikkan Pancasila di perusahaannya dalam upaya bagian dari mewujudkan sistem ekonomi Pancasila. Yudi sendiri juga menjadi salah satu yang menuliskan kata pengantar pada buku tersebut.
Bagi Yudi, buku ini adalah penghiburan baginya. Yudi memang kerap berbicara dan mengulas soal pancasila, sehingga ia tak segan-segan menerima tawaran dari Nasihin saat dimintai menulis kata pengantar.
"Karena dulu saya kepikiran untuk menarik buku-buku saya tentang Pancasila. Kenapa? Karena semakin saya banyak menulis tentang Pancasila, semakin jauh antara realitas dan kenyataannya. Saya sering dicap sebagai pendusta. Tapi begitu saya baca, buku ini lain, dia berbicara tentang Pancasila dalam praktik. Jadi saya terhibur karena Pancasila bukan hanya sebagai angan-angan. Tapi sebenarnya bisa dilakukan dalam kenyataan," ucapnya.
Yudi merasa, buku ini mampu menjelaskan tentang sila ke-lima yang selalu sulit ia ejawantahkan. Tapi, pada buku yang membahas Thayeb Gobel, Nasihin bisa menjelaskan keteladanan sila ke-lima lewat penerapan Thayeb Gobel.
β€œSaat menulis keteladanan Sila Kelima, saya mengalami kesulitan. Ternyata ini dijelaskan di buku Praksis Pancasila ini. Saat itu, literatur tentang Pak Thayeb sangat terbatas,” katanya.
Lebih lanjut Yudi menerangkan, urutan sila-sila dalam Pancasila dimulai dari yang paling abstrak hingga ke yang paling konkret, yaitu dari Ketuhanan Yang Maha Esa ke Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
β€œNamun mewujudkan sila yang paling konkret justru yang paling sulit. Sehingga saat menghadapi kesulitan orang lari ke yang abstrak. Terjadi apa yang dinamakan mabuk Tuhan,” katanya.
Thayeb, kata Yudi mampu melakukan interpretasi terhadap Pancasila untuk kemudian melakukan pelembagaan dalam rangka mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.
Rachmat Gobel pada Acara bedah buku Praksis Pancasila, Pengamalan Ideologi di Perusahaan Gobel, di Aula Kasman Singodimedjo, UMJ, Kamis (24/10) Foto: Dok. Istimewa
Yudi mengatakan, ada tiga syarat agar Pancasila bisa disebut sebagai ideologi. Pertama, ada konsep masyarakat ideal yang hendak dicapai sebagai suatu world view.
Lalu disusun sebagai kode-kode nilai inti, yang bukan dihapalkan tapi dipraktikkan sebagai suatu teladan. Kedua, terjadi pelembagaan sosial. Ketiga, ada tata sejahtera seperti apa yang harus dicapai.
β€œTiga hal itu sudah diaplikasikan oleh Pak Thayeb. Beliau juga merupakan pelopor industri pengetahuan,” katanya.
Ia menjelaskan buku Pengamalan Pancasila di Perushaan Gobel ini menarik, sebab, pada buku diterangkan bagaiman Pancasila tak lagi jadi ide-ide abstrak.
β€œDi sini diajarkan bahwa partiotisme itu tidak hanya memanggul senjata, patriotisme juga bisa dibangun dengan mengembangkan teknologi, pengembangan usaha, dalam mendidik kapasitas SDM, juga kepahlawanan,"
Selain Yudi, acara bedah buku ini juga dihadiri beberapa tokoh lainnya, seperti Dr Airlangga Pribadi dari Universitas Airlangga Surabaya dan Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Prof Dr Ma’mun Murod Al-Barbasy.
Hadir Gubernur Akademi Bela Negara Mayjen TNI Purn IGK Manila, Sekretaris Utama Bais TNI Marsekal Muda M Tawakal Saiful Haq Sidik, akademisi Prof Didin S Damanhuri, pengusaha Peter F Gontha, Dewan Pengarah BPIP Rikard Bagun, akademisi Dr Ahmad Baidhowi, dan para wartawan senior.
Sedangkan Keynote Speaker adalah putra Thayeb Gobel sendiri, Rachmat Gobel. Hadir juga Abdullah Tauhid Gobel dan direksi Panasonic Gobel.
Trending Now