Zulhas: Banjir di 3 Provinsi, yang Dipermasalahkan soal Tesso Nilo
8 Desember 2025 13:41 WIB
·
waktu baca 3 menit
Zulhas: Banjir di 3 Provinsi, yang Dipermasalahkan soal Tesso Nilo
Kata Zulhas, ramai publik mengkritiknya soal banjir Sumatera dan mengaitkannya dengan perambahan di Taman Nasional Tesso Nilo di Riau.kumparanNEWS

Menko Pangan Zulkifli Hasan curhat saat berpidato di acara BIG Conference 2025 di Hotel Raffles, Jakarta Selatan, Senin (8/12). Katanya, ramai publik mengkritiknya soal banjir Sumatera dan mengaitkannya dengan perambahan di Taman Nasional Tesso Nilo di Riau.
"Bencana di Sumatera yang tadi saya sampaikan itu terjadi di Provinsi Aceh—Aceh ya, Pak—kemudian dua di Provinsi Sumatera Utara, dan tiga di Provinsi Sumatera Barat," kata Zulhas.
"Yang dipermasalahkan oleh Pak Zulkifli Hasan soal Tesso Nilo—Tesso Nilo itu ada di Provinsi Riau. Sementara saat ini, di Provinsi Riau tidak ada bencana apa pun, Pak," sambungnya.
Zulhas pun mengaku heran mengapa soal Tesso Nilo dikaitkan dengan banjir di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Yang disoal publik adalah ketidakberanian Zulhas menghentikan perambahan Tesso Nilo yang sejatinya hutan lindung, habitat para gajah.
"Jadi, kalau bencana itu salahnya Zulkifli Hasan, termasuk juga katanya di Thailand dan Malaysia, ya tidak apa-apa. Saya maafkan saja, tidak apa-apa," katanya.
Argumen soal Tesso Nilo
Zulhas menjadi Menteri Kehutanan periode 2009-2014. Soal Tesso Nilo, Zulhas menyebut tak ada satu pun menteri yang berani memberi izin ke pihak mana pun untuk mengakses Tesso Nilo.
"Soal Tesso Nilo. Tesso Nilo itu, Pak, adalah Taman Nasional. Taman Nasional itu tidak boleh diberi izin apa pun. Oleh karena itu, tidak ada Menteri Kehutanan yang berani memberi izin di Tesso Nilo," katanya.
"Tidak hanya saya—menteri kehutanan mana pun tidak mungkin berani memberi izin di Tesso Nilo. Kalau memberi izin di Tesso Nilo, maka dia langsung masuk penjara karena itu pidana," sambung dia.
Zulhas pun bercerita soal mengapa saat ini Tesso Nilo tak lagi asli atau rusak. Katanya, sejak awal Reformasi tahun 1998, sudah banyak masyarakat bermukim di sana.
"Lalu kenapa Tesso Nilo rusak? Setelah reformasi, kawasan itu diserbu. Sekarang ada sekitar 50 ribu masyarakat di sana. Banyak yang bilang salah saya, ya sudah, saya terima saja, tidak apa-apa," kata Zulhas.
"Waktu orang Amerika datang dan bertanya, “Kenapa tidak ditangkap 50 ribu orang itu?” Saya bilang, itu perambah, itu pidana, ranahnya hukum. Tapi kan tidak enak kalau saya ngomong, “Kenapa tidak ditangkap?” Tidak boleh begitu. Tidak boleh," tegasnya.
Ketua Umum PAN itu pun menyebut baru di era Presiden Prabowo Subianto ada pergerakan di Tesso Nilo.
"Tapi sekarang saya bersyukur, Pak. Walaupun saya menunggu Pak Prabowo 15 tahun, saya bersyukur. Sekarang sudah 4 juta—ini baru 4 juta hektare, nanti akan jadi 6 juta hektare. Ini yang elegan. Termasuk kawasan itu, sudah diamankan oleh Satgas yang dipimpin Menhan, namanya Satgas PKH (Penertiban Kawasan Hutan).
"Dari 4 juta hektare ilegal, yang paling banyak ada di Sumatera Utara dan di Riau. Baru sekarang berhasil ditangani, dulu tidak berhasil," sambungnya.
