Beli Mobil Listrik Bekas, Pastikan Wall Charger Termasuk

21 September 2025 15:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Beli Mobil Listrik Bekas, Pastikan Wall Charger Termasuk
Umumnya saat mau meminang mobil listrik bekas hal yang sering diperhatikan adalah kondisi baterai. Namun, ada satu hal penting yang sering luput jadi pertanyaan pertama pembeli. #kumparanOTO
kumparanOTO
Wuling Air ev bekas yang dijual di WTC Mangga Dua. Foto: Fitra Andrianto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wuling Air ev bekas yang dijual di WTC Mangga Dua. Foto: Fitra Andrianto/kumparan
Pasar mobil listrik di Indonesia sedang bergairah. Bahkan banyak konsumen yang melirik opsi mobil bekas karena harga unit lebih terjangkau dibanding baru.
Umumnya saat mau meminang mobil listrik bekas hal yang sering diperhatikan adalah kondisi baterai. Namun, ada satu hal penting yang sering luput jadi pertanyaan pertama pembeli yakni soal ketersediaan perangkat pengisian daya atau wall charger.
“Kalau mobil listrik yang kita wajib tanya juga adalah wall charger. Pastikan wall charger-nya dikasih apa nggak,” buka Penggawa Lapak Mobil di WTC Mangga Dua saat ditemui kumparan baru-baru ini.
Menurutnya, wall charger bukan sekadar aksesori tambahan, melainkan perangkat vital yang menentukan kenyamanan pemakaian sehari-hari. Karena itu, konsumen selalu menekankan hal ini sejak awal transaksi.
“Kalau nggak dikasih ya biasanya harga mobil kita potong Rp 5-Rp 10 juta. Tapi rata-rata sih dikasih sama penjual,” tambahnya.
Mobil listrik Hyundai Kona di WTC Manga Dua. Foto: WTCM2
Meski begitu, ada juga kasus di mana wall charger tidak diserahkan. Biasanya, hal ini terjadi karena pemilik lama tetap membutuhkan wall charger tersebut.
Tapi kebanyakan saat mereka mengganti mobil listrik dengan merek lain yang punya spesifikasi berbeda. Penjual pasti menyerahkan perangkat tersebut karena speknya berbeda.
“Kalau misalnya pas kita beli sama wall charger-nya, ya dikasih. Kecuali memang unit dari awalnya nggak dapet. Makanya penting banget nanya dulu,” ujarnya.
Bagi pedagang sendiri, keberadaan wall charger dianggap wajib. Mereka akan meminta perangkat tersebut ketika membeli dari pemilik lama.
Iustrasi wall charger untuk mobil listrik. Foto: Ghulam Muhammad Nayazri / kumparanOTO
“Iya, kita minta, wajib minta. Karena kalau nggak ada wall charger, pembeli pasti komplain,” jelasnya.
Selain soal ketersediaan, pembeli mobil listrik bekas juga perlu memperhatikan instalasi wall charger. Saat ini, banyak penjual yang sudah menyediakan jasa instalasi, meski biayanya tetap jadi tanggungan pembeli.
“Instalasinya bisa pakai teknisi dari kita atau bisa sendiri. Biayanya sekitar Rp 1,7 juta sampai Rp 2,5 juta, tergantung dari titik mana ke mana bongkar pasangnya. Tapi itu kita pasang doang, nanti PLN yang melanjutkan karena harus tambah meteran listrik baru,” katanya.
Peter menambahkan, berdasarkan pengalamannya menjual beberapa unit mobil listrik, mayoritas konsumen menerima mobil beserta wall charger.
Ilustrasi pengecasan mobil listrik BYD. Foto: BYD
“Saya sudah jual 4-5 kali mobil listrik, biasanya dikasih wall charger. Kalau pun enggak ada, kita kasih note dari awal biar pembeli tahu,” tuturnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa di pasar mobil listrik bekas, wall charger sering dilupakan oleh pembeli. Tanpa perangkat tersebut, nilai jual mobil bisa langsung turun, dan potensi menurunkan minat pembeli juga semakin besar.
“Karena wall charger itu kebutuhan utama. Kalau nggak ada, otomatis biaya tambahan lagi buat pembeli. Jadi kalau beli mobil listrik bekas, wajib banget pastikan wall charger-nya ikut,” tuntasnya.
Trending Now