Kecelakaan Bus Berulang, Ahli Soroti Pentingnya Manajemen Perjalanan PO

27 Desember 2025 9:30 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kecelakaan Bus Berulang, Ahli Soroti Pentingnya Manajemen Perjalanan PO
Pakar keselamatan berkendara menyoroti pentingnya manajemen perjalanan sopir bus, seperti yang diterapkan Amerika, Inggris, dan Australia. #kumparanOTO
kumparanOTO
Kondisi bangkai bus PO Cahaya Trans bernomor polisi B 7201 IV pascakecelakaan terparkir di kawasan Gerbang Tol Muktiharjo, Semarang, Jawa Tengah, Senin (22/12/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi bangkai bus PO Cahaya Trans bernomor polisi B 7201 IV pascakecelakaan terparkir di kawasan Gerbang Tol Muktiharjo, Semarang, Jawa Tengah, Senin (22/12/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
Rentetan kecelakaan yang melibatkan bus dan kendaraan besar kembali menyorot aspek keselamatan transportasi massal di Indonesia.
Instruktur Keselamatan Berkendara sekaligus Founder Jakarta Defensive Driving Consultant (JDDC), Jusri Pulubuhu, mendorong penerapan sistem pemantauan sopir bus secara menyeluruh, mulai sebelum perjalanan hingga saat beroperasi di jalan.
โ€œHarus ada sistem yang bisa memonitor waktu istirahat pengemudi, baik pra-perjalanan maupun saat perjalanan. Ini sudah berlaku di Amerika, Australia, dan Inggris, supaya tidak ada pengemudi yang sudah fatigue atau memiliki masalah mental tapi tetap mengemudi,โ€ kata Jusri kepada kumparan.
Petugas gabungan mengevakuasi Bus ALS (Antar Lintas Sumatera) yang mengalami kecelakaan di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, Selasa (6/5/2025). Foto: Isril Naidi/ANTARA FOTO
Berkaca pada Australia dan Inggris, manajemen perjalanan yang diterapkan berupa catatan berbasis digital. Pengemudi cukup melakukan pengisian waktu istirahat sebelum keberangkatan.
โ€Intinya catatan digital. Pengemudi harus memasukkan waktu istirahat yang dialokasikan oleh perusahaan. Misal tidur jam 10 tadi malam, bangun jam 4 pagi, jam 10 melakukan perjalanan. Kemudian akan di-approve dari manajemen bus atau dispatcher,โ€ jelasnya.
Ia menjelaskan, pemantauan ini mencakup pengaturan jam kerja dan jam istirahat yang terintegrasi dalam manajemen perjalanan. Terutama bagi pengemudi yang bertugas pada malam hari, pengawasan menjadi krusial karena risiko kelelahan jauh lebih tinggi.
โ€œUntuk pengemudi yang mendapat jam kerja malam, harus dipastikan mereka memiliki waktu istirahat yang cukup dan tidur di siang hari sebelum berangkat,โ€ ujarnya.
Bus tingkat Jakarta-Solo siap berangkat Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Tak hanya itu, Jusri juga menyoroti fase idle atau peralihan shift dari siang ke malam hari yang kerap diabaikan perusahaan angkutan. Menurutnya, pengemudi membutuhkan waktu adaptasi agar kondisi tubuh dan mental kembali siap menjalani perjalanan jarak jauh.
โ€œPada peralihan dari kerja siang ke malam hari, idealnya ada satu hari kosong untuk mempersiapkan diri, termasuk istirahat sebelum berganti jam kerja,โ€ jelasnya.
Lebih jauh, Jusri menilai sistem pemantauan pengemudi seharusnya menjadi bagian dari standar operasional perusahaan otobus (PO). Ia mendorong agar pengelolaan angkutan penumpang tidak hanya berfokus pada jadwal dan target operasional, tetapi juga kesiapan sumber daya manusianya.
Kondisi bangkai bus PO Cahaya Trans bernomor polisi B 7201 IV pascakecelakaan terparkir di kawasan Gerbang Tol Muktiharjo, Semarang, Jawa Tengah, Senin (22/12/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
โ€œPenanganan, pengoperasian, perizinan, hingga persyaratan pengoperasian PO seharusnya bisa meniru industri aviasi. Ada sistem kontrol dan re-sertifikasi yang ketat,โ€ ungkap Jusri.
Ia menambahkan, penerapan sistem pemantauan pengemudi juga membutuhkan peran aktif regulator. Pengawasan tak cukup diserahkan kepada perusahaan semata, melainkan perlu ada standar dan audit berkala dari instansi terkait.
Dengan sistem pemantauan yang berjalan konsisten, Jusri meyakini risiko kecelakaan akibat kelelahan pengemudi dapat ditekan. Pada akhirnya, keselamatan jalan akan meningkat, sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap transportasi massal.
Trending Now