Masuk September, Insentif Motor Listrik Tak Kunjung Terbit
2 September 2025 6:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
Masuk September, Insentif Motor Listrik Tak Kunjung Terbit
Bulan Agustus selesai, janji subsidi motor listrik tak kunjung terealisasi. #kumparanOTO #dailyupdatekumparanOTO

Masuk bulan September, hal yang ditunggu itu tak kunjung tiba. Memperpanjang ketidakpastian subsidimotor listrik untuk tahun ini, satu sisi, asosiasi sudah lapang dada jika memang program bantuan pembelian dari pemerintah tersebut tidak terealisasi.
Kilas balik, kala itu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto memberi sinyal program subsidi pembelian motor listrik akan diadakan kembali untuk tahun 2025, guna percepatan adopsi kendaraan elektrik murni di Indonesia.
“Subsidi (motor listrik) harusnya masih tetap,” ucap Airlangga ditemui di kantor Kemenko Perekonomian di Jakarta pada awal Februari lalu dikutip dari Antara.
Namun, saat itu Airlangga belum dapat membeberkan detail waktu realisasinya. Dirinya hanya menekankan bahwa rencana subsidi sudah mendapat persetujuan dari pemerintah sehingga disebutnya tidak akan mengganggu program lainnya.
“Mungkin (untuk diperpanjang), karena sudah setuju semua. Jadi program tidak terganggu. Ya, segera begitu PMK (Peraturan Menteri Keuangan) keluar ya (kebijakannya) jalan,” imbuhnya.
Selang beberapa bulan, tepatnya pada Agustus isu tersebut kembali mencuat. Adalah Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza yang mengatakan kebijakan itu diharapkan bisa segera terbit pada bulan Agustus kemarin.
“Insentif (motor listrik) kemungkinan Agustus, yang motor ini masih menunggu satu rakor (rapat koordinasi) lagi di Kemenko Ekonomi,” tutur singkat Faisol Riza ketika ditemui di Kompleks Parlemen Senayan awal pekan Juni lalu.
Diakui Faisol, soal wacana skema pemberian insentif tersebut dikatakan masih tahap ranah diskusi oleh pemerintah. Hanya saja dia memastikan nilai insentif yang diketok akan sama dengan sebelumnya.
“Skemanya lagi didiskusikan nilai totalnya sama, nilai total insentifnya subsidinya sama. Cuma apakah disamakan dengan skema yang lalu atau ada perubahan atau tidak nanti kita putuskan,” terangnya.
Pemberian potongan Rp 7 juta awalnya diberikan dengan kuota 200 ribu unit pada 2023. Hanya saja yang terserap baru 5,7 persen. Diduga karena persyaratan yang ketat dan dikhususkan pada penerima manfaat tertentu yang mengakibatkan penyerapan tak maksimal.
Pada paruh pertama tahun 2025, penjualan motor listrik dilaporkan anjlok dibanding periode Januari-Juli tahun lalu. Ini disampaikan Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli), Hanggoro Ananta.
"Ini sebenarnya sudah sejak awal tahun mereka banyak yang bilang (penjualan) drop hampir 70 persen. Faktornya ya karena kemarin kan ada bantuan pembelian lalu sekarang sedang tidak ada, pasti dari market behavior berbeda," ucap Hanggoro kepada kumparan.
Jelang akhir bulan Agustus, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kemenperin, Mahardi Tunggul Wicaksono kembali menyinggung kelanjutan dari rencana program subsidi motor listrik untuk tahun ini.
"Usulan-usulan datang dari industri yang diwakili asosiasi. Setelah sampai ke kami, usulan itu dibahas bersama pimpinan asosiasi dan kementerian atau lembaga terkait," kata Tunggul di Jakarta awal pekan kemarin.
Dijelaskannya, pemerintah memang masih mengkaji program bantuan tersebut. Termasuk soal bagaimana skema subsidi, hingga rencana realisasi yang diharapkan benar-benar bisa terlaksana tahun ini.
"Sejauh ini masih dalam proses, kami menunggu arahan lebih lanjut. Karena sudah menjadi kebutuhan, kami terus diskusikan dengan kementerian dan lembaga terkait. Jadi ditunggu saja," terang Tunggul singkat.
Sementara itu Ketua Aismoli, Budi Setyadi melaporkan penjualan motor listrik periode semester I terbaru yang alami penurunan cukup tajam. Dirinya tak menampik salah satu faktornya adalah ketidakpastian realisasi program bantuan pembelian dari pemerintah.
"Sebenarnya kalau tanya masalah subsidi, jangan ke saya. Karena memang sekarang bolanya ada di pemerintah, tapi menurut saya tinggal keputusan pemerintah seperti apa nanti," ucap Budi dihubungi kumparan akhir pekan kemarin.
Budi mengaku, penjualan motor listrik pada paruh pertama tahun ini jumlahnya hanya berkisar belasan ribu unit dibanding periode yang sama tahun 2024 lalu.
"Kalau kami hitung semester I itu mungkin sekitar 11-12 ribu unit, selama tahun 2024 bisa mencapai antara 60-70 ribu unit. Tapi jelas kan tidak begitu bisa dibandingkan apple-to-apple karena tahun lalu ada subsidi," terangnya.
Menilik laman Sistem Informasi Bantuan Pembelian Kendaraan Bermotor Listrik Roda Dua atau Sisapira mencatatkan penyerapan motor listrik sebanyak 11.532 unit selama 2023 dan 62.541 unit selama tahun 2024.
Angka distribusi yang menurun drastis tersebut membuat asosiasi memprediksi penjualan motor listrik hingga tutup tahun 2025 hanya berkisar 20-30 ribu unit. Artinya ada perbedaan cukup signifikan dibanding perolehan tahun 2024 sebesar 52-68 persen.
"Mungkin kalau sudah ada kepastian (subsidi) di awal, industri bisa lebih kreatif untuk menyiapkan program pemasaran sehingga penjualan bisa saja lebih baik lagi," pungkas Budi.
