Pabrik BYD Subang Beroperasi Kuartal I 2026, Langsung Produksi Atto 1?
24 November 2025 6:30 WIB
·
waktu baca 4 menit
Pabrik BYD Subang Beroperasi Kuartal I 2026, Langsung Produksi Atto 1?
Fasilitas produksi milk BYD ditargetkan rampung maksimal pada akhir tahun ini, dan mulai beroperasi pada 2026. #kumparanOTOkumparanOTO

Langkah ini sejalan dengan peningkatan permintaan mobil listrik BYD yang terus tumbuh di pasar nasional.
Head of Public and Government Relations BYD Indonesia, Luther Panjaitan, menegaskan bahwa komitmen pembangunan pabrik merupakan bagian dari keseriusan investasi BYD di Tanah Air. Perusahaan asal Tiongkok itu ingin mempercepat utilisasi fasilitas manufaktur setelah investasi besar yang telah digelontorkan.
“Seperti komitmen kami kepada pemerintah, kami harus menyelesaikan pembangunan fasilitas produksi kami maksimal di tahun ini. Dan harus bisa beroperasi di tahun depan,” ujar Luther saat ditemui di kawasan Pantai Indah Kapuk, Minggu (23/11/2025).
Luther menjelaskan, proses menuju operasional pabrik saat ini memasuki tahap penting yang berkaitan dengan sertifikasi dan prosedur lintas kementerian.
“Namun memang ada proses-proses itu lebih ke sertifikasi, kepastian QC, hal-hal yang related dengan sistem di Indonesia, artinya memang itu adalah sesuatu yang di luar kontrol kami,” tambahnya.
Meski demikian, ia memastikan seluruh proses berjalan sesuai jalur. BYD optimistis fasilitas tersebut bisa langsung dimanfaatkan pada kuartal pertama 2026, ketika seluruh persyaratan formal sudah diselesaikan.
“Tapi saat ini semuanya on track, kami akan umumkan langsung segera setelah semuanya komplet. Tapi kami sangat confidence di kuartal 1 kita bisa langsung memanfaatkan fasilitas itu,” tegasnya.
Dengan arah penjualan yang terus meningkat saat ini berada di kisaran 10 ribu unit per bulan, BYD menilai kapasitas produksi pabrik sebesar 150 ribu unit per tahun sudah memadai untuk menopang pasar. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi tulang punggung ekspansi BYD di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
“Karena kalau dilihat sekarang arah penjualan kita sudah di skala 10 ribu sebulan, ya tentunya memang fasilitas ini kan 150 ribu unit per tahun ya. Nah itu sudah sangat bisa untuk memproduksi per bulannya,” ucap Luther.
Sementara itu, terkait model pertama yang akan diproduksi lokal, BYD masih melakukan kajian internal. Strateginya berfokus pada model dengan volume penjualan terbesar sebagai prioritas utama.
“Itu yang kami secara internal masih kalkulasi dan kami masih susun strategi. Yang jelas biasanya pasti prioritas itu yang volume making. Itu yang menjadi prioritas,” jelasnya.
Ketika ditanya apakah BYD Atto 1 menjadi kandidat utama model perdana yang dirakit di Indonesia, Luther tak menampik kemungkinan tersebut.
“Bisa saja salah satunya. Karena ini dinamis ya. Atto 1 kan juga kami masih lihat pergerakannya. Bisa saja itu salah satu yang jadi prioritas,” tutupnya.
BYD fokus mendukung perbaikan lingkungan
Selain fokus pada pembangunan pabrik, BYD juga menegaskan komitmennya pada keberlanjutan lingkungan melalui program Beyond Community. Salah satu langkah terbaru yaitu penanaman 500 pohon mangrove bersama para pemilik mobil BYD di Indonesia yang tergabung di Beyond.
“Ketika anggota Beyond ini memilih membeli atau menggunakan kendaraan EV khususnya BYD, mereka sebenarnya telah berperan aktif membantu mempercepat peralihan menuju energi baru, turut serta mengurangi emisi, serta membangun lingkungan hidup yang lebih sehat untuk generasi. Untuk itu agenda menanam mangrove ini jadi bukti nyata kolaborasi antara perusahaan dan pemilik untuk menciptakan data yang lebih cepat dan juga sejalan dengan visi BYD,” kata Luther.
Ia menegaskan bahwa aktivitas tersebut bukan sebatas seremonial, melainkan aksi nyata yang memberikan dampak terhadap lingkungan.
“Kegiatan ini tidak sekadar menjadi kegiatan simbolik, penanaman ini mencerminkan, teknologi dan alam tidak bisa berjalan terpisah. Penanaman ini memberikan kontribusi terhadap pengurangan emisi,” ujarnya.
Luther menyebutkan bahwa penanaman mangrove memiliki potensi serapan karbon jangka panjang. Upaya ini sekaligus mengajak pemilik BYD berperan aktif dalam mendukung keberlanjutan.
“Serapan karbon dari penanaman 500 pohon mencapai sekitar 10 ton CO2 per tahun. Inisiatif ini jadi langkah konkret karena melibatkan banyak pihak. Sehingga kami mengajak pemilik BYD untuk berperan serta mendukung sustainability,” tutupnya.
