Pasar Otomotif 2026 Diprediksi Masuk Fase Baru, Hybrid dan Harga Jadi Penentu
9 Januari 2026 14:00 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
Pasar Otomotif 2026 Diprediksi Masuk Fase Baru, Hybrid dan Harga Jadi Penentu
Merek mobil asal China merangsek pasar otomotif nasional secara agresif pada 2025 lalu. Namun, berbeda dengan 2026 yang dihiasi perubahan insentif fiskal. #kumparanOTOkumparanOTO

Dinamika pasar otomotif nasional diperkirakan memasuki babak baru pada 2026. Utamanya berkat berakhirnya insentif fiskal untuk mobil listrik impor dan rencana kenaikan PPN.
Merek-merek asal China yang selama ini agresif di segmen elektrifikasi mulai dihadapkan pada tantangan baru, yakni potensi kebangkitan segmen low cost green car (LCGC) serta semakin menguatnya adopsi hybrid electric vehicle (HEV).
Pengamat otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menyebut bahwa masuknya merek China dengan pendekatan harga kompetitif dan fitur tinggi, membuat pasar tidak serta-merta mundur ke teknologi lama.
βMerek China tetap agresif melakukan perang harga dan efisiensi manufaktur untuk membendung potensi kebangkitan segmen LCGC ICE konvensional,β ujar Yannes kepada kumparan, Kamis (8/1/2026).
Menurutnya, tanpa kehadiran produk-produk elektrifikasi berharga terjangkau, baik hybrid maupun listrik, pasar berisiko mengalami regresi. Kenaikan harga kendaraan akibat berakhirnya insentif umum yang dapat mendorong konsumen kembali melirik LCGC.
Namun, strategi merek China yang menekan biaya produksi dan memangkas margin justru menciptakan 'tembok penahan' agar konsumen tetap berada di jalur teknologi yang lebih maju.
βTanpa skema seperti ini, industri berisiko mengalami pergerakan besar kembali ke segmen LCGC atau ICE konvensional karena lonjakan harga setelah insentif umum (mobil listrik) berakhir,β lanjutnya.
Yannes menilai agresivitas tersebut bukan semata soal harga murah, melainkan efisiensi menyeluruh, mulai dari manufaktur, rantai pasok, hingga lokalisasi komponen.
Terlebih, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencanangkan skema insentif baru, yakni berbasis Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), standar emisi, dan batasan harga untuk menciptakan subsidi yang lebih tepat guna.
Melalui rencana kebijakan itu, para pabrikan didorong untuk melakukan manufaktur lokal jika hendak menerima relaksasi. Sehingga, industri otomotif secara keseluruhan bisa membaik.
Kebangkitan hybrid
Yannes turut melihat potensi HEV menjadi teknologi yang paling diuntungkan pada 2026. Mobil hybrid dinilai mampu menjawab kebutuhan konsumen rasional, khususnya di luar kota besar dan di luar Pulau Jawa, tanpa memunculkan kekhawatiran soal jarak tempuh.
βAntara kebangkitan ICE, LCGC, dan HEV, HEV paling diuntungkan sebagai jembatannya karena ia tidak memicu range anxiety untuk area luar kota besar dan di luar Jawa,β jelas Yannes.
Sementara itu, kendaraan listrik murni (BEV) diperkirakan akan tumbuh lebih selektif, dengan fokus pada model produksi lokal yang memenuhi ambang batas TKDN. Sedangkan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) cenderung bertahan di segmen premium.
Dengan tekanan harga yang meningkat dan daya beli kelas menengah yang belum pulih sepenuhnya, Yannes menilai persaingan antar merek akan semakin ketat.
Dalam kondisi tersebut, perang harga dari merek China menjadi salah satu faktor kunci yang menjaga pasar tetap bergerak maju, bukan kembali ke titik awal.
Situasi ini menegaskan bahwa arah pasar otomotif 2026 tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh strategi pemain global dalam membaca kondisi konsumen Indonesia yang semakin rasional dan sensitif terhadap harga.
