Pengamat: Penjualan Mobil Listrik Diprediksi Meroket di Akhir Tahun
20 Oktober 2025 7:00 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
Pengamat: Penjualan Mobil Listrik Diprediksi Meroket di Akhir Tahun
Pengamat otomotif sekaligus akademisi ITB memprediksi penjualan BEV akan terus naik hingga akhir tahun. #kumparanOTOkumparanOTO

Tren pertumbuhan mobil listrik masih terus bergulir hingga memasuki kuartal keempat tahun 2025. Bahkan, menurut pandangan pengamat otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, akan terjadi kenaikkan penjualan battery electric vehicle (BEV) hingga insentif CBU mobil listrik dihentikan.
βFaktor khusus untuk EV adalah efek batas waktu insentif CBU yang akan berakhir pada Desember 2025 ini. Tampaknya, bakal terjadi lonjakan penjualan ritel mobil listrik yang sangat signifikan pada bulan November dan puncaknya di akhir Desember 2025,β kata Yannes kepada kumparan beberapa waktu lalu.
Salah satu cara Agen Pemegang Merek (APM) importir mobil listrik dalam mendongkrak penjualan adalah dengan menyiapkan program pembelian serta promo secara masif.
βPenjualan akan merangkak naik secara tajam untuk EV di kuartal keempat ini, karena APM importir EV akan menggencarkan kampanye dan promosi besar-besaran untuk menghabiskan stok CBU EV mereka sebelum keran impor ditutup,β tuturnya.
Adapun berdasarkan data yang dirilis Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil listrik secara wholesales (distribusi dari pabrik ke diler) pada Januari-September 2025 tercatat 55.255 unit, naik 27,9 persen dari capaian periode serupa 2024 sebanyak 43.188 unit.
Sementara, pengiriman dari pabrik ke diler secara bulanan justru minus 36,3 persen dari Agustus 2025 yang berjumlah 6.341 unit menjadi 4.039 unit pada September 2025. Namun, Yannes menyebut hal ini sebagai fase realitas usai pasar disuguhkan pameran otomotif besar seperti Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 di bulan Agustus lalu.
βDari situasi yang ada, terlihat bahwa sales bulan Agustus kemungkinan besar didorong oleh pameran otomotif besar seperti GIIAS 2025, di mana banyak terjadi pemesanan kendaraan (SPK) EV,β jelasnnya.
βIni (EV) pun banyak dibeli oleh mayoritas buyers yang berasal dari kalangan menengah ke atas yang membeli EV sebagai mobil kedua atau ketiga karena promo besar-besaran,β tambah Yannes.
Lebih lanjut, jenama baru kian cepat masuk ke pasar Indonesia, tentu dengan membawa ragam model inovatif. Fenomena ini turut menjadi stimulus pembelian BEV. Terlebih lagi memiliki harga yang bersaing ketat dengan model yang sudah ada, meski berpenggerak internal combustion engine (ICE).
