Perdana Mencoba Suzuki Satria Pro: Pindah Gigi Effortless-Cocok Buat Harian
12 November 2025 6:30 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Perdana Mencoba Suzuki Satria Pro: Pindah Gigi Effortless-Cocok Buat Harian
Catatan kumparan jajal perdana motor baru Suzuki Satria di lintasan sirkuit, seperti ini impresinya. #kumparanOTO #dailyupdatekumparanOTO

Sirkuit yang berada di kawasan Sentul, Bogor menjadi tempat peluncuran Suzuki Satria terbaru. Namun, ternyata ada alasan khusus PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) memilih arena lintasan balap tersebut.
Selain menjadi panggung debutan global hyper underbone anyar itu, pada area yang sama pula PT SIS memberi kesempatan kepada awak media untuk menjajal langsung Suzuki Satria Pro. Pabrikan bermaksud agar media merasakan fitur baru pada motor tersebut.
Ya, khusus varian Pro telah disematkan fitur Suzuki Clutch Assist System atau SCAS, nama dagang dari fungsi assist slipper clutch ala merek berlogo S ini. Sekaligus jadi satu-satunya di kelasnya yang memiliki kelengkapan tersebut.
SCAS adalah salah satu dari sedikit penambahan fitur-fitur baru yang ada pada Satria Pro. Varian tertinggi ini turut dipasangkan dengan sistem pengereman Anti-lock Braking System (ABS) untuk roda depannya.
Satria terbaru ini punya panjang 1.955 mm, lebar 675 mm, tinggi 980 mm, dan jarak sumbu roda 1.280 mm. Sementara jarak terendah ke tanah 150 mm dan tinggi tempat duduk 765 mm, dimensi yang terbilang kompak untuk saya dengan postur tubuh 173 cm.
Langsung saja, nyalakan motor lewat keyless system yang lagi-lagi eksklusif tersedia untuk varian Pro. Jantung mekanis berkubikasi 150 cc DOHC menyala dengan halus nan minim getaran berkat mekanisme Easy Start System.
Tipe tertingginya ini memiliki panel instrumen digital yang bisa terhubung dengan ponsel pintar pemilik lewat aplikasi mereka untuk menampilkan berbagai informasi. Seperti navigasi turn by turn, notifikasi pesan atau telepon, hingga jadwal perawatan rutin.
Masuk gigi 1, prosesnya halus tanpa hentakan berarti. Turun ke lintasan yang sudah disediakan, di sini fitur SCAS dapat diuji kegunaannya. Karenanya, berganti rasio transmisi jadi lebih cepat dan cekatan saat putaran mesin masih tinggi.
Kemampuan ini agaknya bisa mengurangi intensitas jari-jemari tangan kiri yang selalu siaga di tuas kopling, aktivitas yang sudah tentu mengundang rasa pegal. Karena perpindahan transmisi yang cepat pula, memperkecil gejala hilangnya momentum tenaga.
Lalu posisi berkendara ala menunggangi motor ayam jago atau ayago, sudah tentu memberikan pengendalian yang gesit dan lincah. Utamanya model lintasan yang punya rintangan berbelok atau menikung tajam.
Rasanya kombinasi tersebut bakal sangat cocok untuk skenario penggunaan harian. Bentang kemudi yang tidak terlalu lebar dan bodi motor yang terbilang ramping, harusnya bukan perkara sulit melakukan manuver selap-selip di tengah kemacetan.
Urusan kaki-kaki, pakai ban dengan profil yang tidak terbilang gambot. Ukurannya 70/90 untuk roda depan dan 80/90 untuk yang belakang, keduanya sama-sama ditopang oleh velg berukuran 17-inci dengan desain akar yang klasik.
Karakteristik ban yang cukup menggigit di permukaan aspal turut ditunjang dengan performa penghenti lajunya. Selain sudah dilengkapi piranti ABS, tuas dan pedal rem juga terbilang empuk dan pakem.
Kesimpulannya, Satria teranyar ini masih banyak membawa DNA dari pendahulunya. Hanya saja, fitur-fitur terkininya semakin lengkap dan tampang yang tambah segar, menjadi salah satu alasan banderolnya paling mahal dibanding kompetitor sekelasnya saat ini.
Ketersediaan warna semata wayang Candy Mat Bordeaux, Suzuki Satria Pro dilepas Rp 34,9 juta on the road (OTR) Jakarta. Rival terdekat Honda Sonic 150R dijual paling mahal Rp 29,1 juta, Honda Supra GTR Rp 26,9 juta, dan Yamaha MX King 150 Rp 27,7 juta.
