Rem Blong Truk Kerap Disalahartikan, Pakar Soroti Kesalahan Teknik Mengemudi

14 Januari 2026 14:00 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rem Blong Truk Kerap Disalahartikan, Pakar Soroti Kesalahan Teknik Mengemudi
Pakar keselamatan berkendara, Jusri Pulubuhu, mengimbau pengemudi kendaraan berat tidak mengandalkan rem kaki untuk menghindari rem blong. #kumparanOTO
kumparanOTO
Sitinjau Lauik, salah satu jalan paling ekstrem di Indonesia. Foto: Miqbaldevandra/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Sitinjau Lauik, salah satu jalan paling ekstrem di Indonesia. Foto: Miqbaldevandra/Shutterstock
Beberapa kecelakaan angkutan berat terulang dengan satu masalah: rem blong. Namun, bagi pakar keselamatan berkendara sekaligus founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, ada isu teknik mengemudi yang tak boleh luput dari perhatian.
Menurut Jusri, kegagalan pengereman pada kendaraan angkutan berat lebih sering bermula dari kesalahan pengemudi dalam menggunakan sistem rem, terutama saat melintasi turunan dengan beban besar.
“Kecelakaan kendaraan berat di turunan bukan semata-mata soal rem blong. Yang terjadi adalah penyusutan kemampuan rem atau brake fading, akibat panas berlebih pada sistem pengereman,” kata Jusri kepada kumparan belum lama ini.
Ia menjelaskan, pada kendaraan besar seperti truk atau bus, rem kaki atau service brake sejatinya bukan alat utama untuk mengendalikan kecepatan di turunan panjang.
Kecelakaan truk pengangkut 38 ton keramik dengan nomor polisi T 9167 PO di simpang Pasar Kertek, Wonosobo, Sabtu (27/12/2025). Foto: Dok. Instagram/@humaspolreswonosobo
Rem tersebut seharusnya digunakan sebagai opsi terakhir ketika dibutuhkan pengereman ekstra, bukan menjadi penopang deselerasi utama.
“Kesalahan fatal yang sering terjadi adalah pengemudi selalu mengandalkan service brake. Padahal kendaraan berat sudah dibekali berbagai sistem pengereman tambahan seperti engine brake, exhaust brake, retarder, atau auxiliary brake lainnya. Fungsinya jelas, untuk menurunkan kecepatan tanpa membebani rem kaki,” ujarnya.
Dalam kasus kecelakaan di Wonosobo pada Sabtu (27/12/2025) misalnya, Jusri menyoroti muatan kendaraan tersebut mencapai 38 ton. Beban sebesar itu akan sangat membebani sistem rem jika pengemudi tidak menggunakan teknik pengereman yang benar.
“Ngerem dengan beban 10 ton dan 38 ton itu beda sekali panas yang dihasilkan. Energi perlambatan yang harus ditahan oleh konstruksi rem jauh lebih besar,” ucapnya.
“Kalau terus-menerus pakai service brake, panasnya naik, koefisien gesek turun, dan kemampuan rem menyusut. Di situlah brake fading terjadi,” jelas Jusri.
Kondisi bangkai bus PO Cahaya Trans bernomor polisi B 7201 IV pascakecelakaan terparkir di kawasan Gerbang Tol Muktiharjo, Semarang, Jawa Tengah, Senin (22/12/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
Ia menambahkan, tanda-tanda kegagalan rem sebenarnya bisa dikenali sejak awal oleh pengemudi. Mulai dari kemampuan engine brake yang tidak lagi efektif, injakan pedal rem yang semakin dalam namun kendaraan tak melambat seperti biasanya, hingga munculnya asap dari roda akibat panas berlebih.
“Kalau awareness pengemudinya baik, itu semua adalah sinyal untuk segera berhenti dan mendinginkan sistem rem. Tapi masalahnya, banyak pengemudi angkutan barang maupun penumpang yang tidak memahami teknik dasar ini,” pungkasnya.
Menurut Jusri, pemerintah memiliki peran penting untuk memastikan standar keselamatan benar-benar dijalankan, termasuk audit rutin dan sanksi tegas bagi perusahaan angkutan yang melanggar.
Trending Now