Rem Cakram Motor Panas Jangan Langsung Disiram Air

4 Maret 2023 11:00 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rem Cakram Motor Panas Jangan Langsung Disiram Air
Rem motor yang panas akibat kinerja berat sebaiknya tidak langsung disiram dengan air, ini penjelasannya. #kumparaOTO #dailyupdate
kumparanOTO
Ilustrasi rem motor yang masih panas disiram dengan air. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi rem motor yang masih panas disiram dengan air. Foto: Istimewa
Sebuah video di media sosial memperlihatkan remmotor matik yang mengeluarkan uap panas ketika disiram menggunakan air. Motor berisi dua orang itu terlihat baru saja menuruni jalan perbukitan.
Menurut 2W and OBM Service Head PT Suzuki Indomobil Motor Victor Assani, itu dimaksudkan untuk menurunkan suhu rem yang baru dipakai kerja ekstrem. Namun, dinilainya cara itu kurang tepat.
โ€œMemang cakram yang panas dapat menurunkan tingkat cengkeraman, tapi ya solusinya tidak serta merta langsung disiram air,โ€ kata Victor ketika dihubungi kumparan.
Menurutnya, bila rem mengalami gejala peningkatan suhu atau panas berlebih, sebaiknya menepi dan menunggu hingga suhunya kembali reda.
โ€œCara disiram air langsung seperti itu malah dapat menyebabkan kerusakan pada cakram. Kerusakan mengubah bentuk karena tadi masih panas langsung ditimpa dengan dingin pada satu waktu,โ€ jelas Victor.
Victor memberi gambaran, kerusakan material cakram atau rem ibaratnya kaca yang permukaannya pecah. โ€œKalau material logam biasanya mengalami perubahan kerataan permukaan,โ€ imbuhnya.
Makanya, tambah Victor, sebaiknya rem yang masih panas didiamkan saja terlebih dahulu. Tidak ada waktu yang spesifik, sebab tergantung berapa lama gesekan antara kanvas dan piringan rem, suhu udara sekitar, hingga komponen material remnya.
โ€œYa, tergantung tapi minimal 5 menit itu cukup,โ€ pungkasnya.

Manfaatkan engine brake

Menjajal Suzuki Nex Crossover di jalan aspal dan off-road ringan. Foto: Ghulam Muhammad Nayazri / kumparanOTO
Senada dengan Victor, Pendiri sekaligus Instruktur Jakarta Defensive Driving Consultant (JDDC) Jusri Pulubuhu menambahkan, pemotor yang melintasi jalan turunan baiknya juga memanfaatkan engine brake.
โ€œPada dasarnya baik motor matik dan non-matik itu ada engine brake-nya. Tapi memang kalau motor matik engine brake-nya kecil,โ€ kata Jusri kepada kumparan beberapa waktu lalu.
Untuk motor dengan gigi manual, dapat memanfaatkan rasio gigi lebih kecil misalnya satu atau dua. Tapi, lain halnya untuk motor matik yang menggunakan transmisi CVT.
โ€œKalau untuk matik, tutup dulu selongsong gas kemudian buka lagi secara konstan artinya bertahan pada rpm tertentu. Paling tidak 2.400 rpm, kalau di bawah itu terjadi free wheel atau jeda kosong yang bikin motornya meluncur bebas,โ€ jelas Jusri.
Ia memahami, kebanyakan motor yang digunakan di Indonesia tidak memiliki penunjuk putaran mesin atau rpm. Maka cara lainnya adalah membuka selongsong gas hingga mesin dan transmisi terasa menahan laju motor.
โ€œKalau sudah pakai engine brake baru bisa pakai rem, tapi jangan ditahan terus remnya. Sesekali rem, kemudian lepas sebentar, kemudian rem lagi, menghindari beban kinerja yang berat. Lakukan engine brake pada saat mau masuk jalan menurun, bukan pada saat turunan,โ€ beber Jusri.
***
Trending Now