3 Ilmuwan Raih Nobel 2025 Bidang Kedokteran Atas Penemuan 'Penjaga' Sistem Imun

8 Oktober 2025 11:02 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
3 Ilmuwan Raih Nobel 2025 Bidang Kedokteran Atas Penemuan 'Penjaga' Sistem Imun
Tiga ilmuwan raih Nobel Kedokteran 2025 atas penemuan 'penjaga' sistem imun. Temuan mereka tentang sel T regulator membuka jalan baru untuk pengobatan autoimun & kanker.
kumparanSAINS
Medali hadiah Nobel. Foto: Adam Baker via Flickr.
zoom-in-whitePerbesar
Medali hadiah Nobel. Foto: Adam Baker via Flickr.
Majelis Nobel di Karolinska Institutet secara resmi mengumumkan penganugerahan Hadiah Nobel dalam bidang Fisiologi atau Kedokteran tahun 2025 kepada tiga ilmuwan: Mary E. Brunkow (Institute for Systems Biology, AS), Fred Ramsdell (Sonoma Biotherapeutics, AS), dan Shimon Sakaguchi (Universitas Osaka, Jepang).
Ketiganya mendapatkan penghargaan bergengsi atas penemuan fundamental mereka mengenai β€˜toleransi imun perifer,’ sebuah mekanisme krusial yang menjelaskan bagaimana sistem kekebalan tubuh diatur agar tidak menyerang sel dan organ tubuhnya sendiri.
Penemuan mereka secara kolektif mengidentifikasi keberadaan dan fungsi dari sel T regulator (regulatory T cells), yang bertindak sebagai 'penjaga keamanan' dalam tubuh. Sel-sel ini memiliki tugas vital untuk mengendalikan sel-sel imun lainnya dan memastikan sistem kekebalan tubuh dapat membedakan mana kawan (jaringan tubuh sendiri) dan mana lawan (mikroba penyerang).
"Penemuan mereka sangat menentukan pemahaman kita tentang bagaimana sistem kekebalan berfungsi dan mengapa kita tidak semuanya menderita penyakit autoimun yang serius," ujar Olle KΓ€mpe, ketua Komite Nobel, dalam siaran pers yang dirilis pada 6 Oktober 2025.
Tiga ilmuwan Mary E. Brunkow, Fred Ramsdell, dan Shimon Sakaguchi, meraih hadiah nobel bidang kedokteran atas penelitian mereka terkait sistem imun manusia. Foto: Dok. Thenobelprize.org

Rangkaian Penemuan yang Mengubah Dunia Medis

Terobosan ini dimulai pada tahun 1995 ketika Shimon Sakaguchi, yang saat itu melawan arus pemikiran dominan, menemukan adanya kelas sel imun yang sebelumnya tidak diketahui yang justru melindungi tubuh dari penyakit autoimun.
Kemudian, pada tahun 2001, Mary E. Brunkow dan Fred Ramsdell membuat penemuan kunci lainnya. Mereka mengidentifikasi gen bernama Foxp3 pada tikus yang rentan terhadap penyakit autoimun. Lebih penting lagi, mereka menunjukkan bahwa mutasi pada gen serupa pada manusia menyebabkan penyakit autoimun langka yang serius bernama IPEX.
Dua tahun setelah itu, Shimon Sakaguchi berhasil menghubungkan kedua penemuan ini. Ia membuktikan bahwa gen Foxp3 adalah 'saklar utama' yang mengatur perkembangan sel-sel imun yang ia temukan pada tahun 1995. Sel-sel inilah yang kini dikenal luas sebagai sel T regulator.
Tiga ilmuwan Mary E. Brunkow, Fred Ramsdell, dan Shimon Sakaguchi, meraih hadiah nobel bidang kedokteran atas penelitian mereka terkait sistem imun manusia. Foto: Dok. Thenobelprize.org

Dampak Luas bagi Pengobatan Modern

Penemuan ketiga ilmuwan ini telah membuka bidang baru dalam imunologi dan mendorong pengembangan berbagai metode pengobatan mutakhir untuk kanker dan penyakit autoimun. Pemahaman mengenai sel T regulator juga berpotensi besar untuk meningkatkan tingkat keberhasilan transplantasi organ. Beberapa dari perawatan yang terinspirasi dari temuan ini kini sedang dalam tahap uji klinis.
Hadiah sebesar 11 juta krona Swedia atau sekitar Rp 19,4 juta (dalam kurs hari ini 1 krona= Rp 1.765) akan dibagi rata di antara ketiga pemenang. Berikut profil singkat para peraih Nobel:
Mary E. Brunkow: Lahir tahun 1961, meraih gelar Ph.D. dari Universitas Princeton. Saat ini menjabat sebagai Manajer Program Senior di Institute for Systems Biology, Seattle, AS.
Fred Ramsdell: Lahir tahun 1960, meraih gelar Ph.D. dari Universitas California, Los Angeles. Saat ini menjabat sebagai Penasihat Ilmiah di Sonoma Biotherapeutics, San Francisco, AS.
Shimon Sakaguchi: Lahir tahun 1951, meraih gelar M.D. dan Ph.D. dari Universitas Kyoto. Saat ini menjabat sebagai Profesor Terhormat di Immunology Frontier Research Center, Universitas Osaka, Jepang.
Trending Now