Analisis AI Ungkap Manusia Purba Jadi Mangsa Macan Tutul 2 Juta Tahun Lalu

8 Oktober 2025 13:51 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Analisis AI Ungkap Manusia Purba Jadi Mangsa Macan Tutul 2 Juta Tahun Lalu
Manusia purba spesies Homo habilis kemungkinan besar pernah diburu dan dimangsa oleh macan tutul.
kumparanSAINS
Tengkorak manusia purba yang diduga menyimpan jejak gigitan macan tutul. Foto: Annals of the New York Academy of Sciences/Vegara-Riquelme
zoom-in-whitePerbesar
Tengkorak manusia purba yang diduga menyimpan jejak gigitan macan tutul. Foto: Annals of the New York Academy of Sciences/Vegara-Riquelme
Kehidupan di Afrika Timur sekitar dua juta tahun lalu ternyata tak hanya keras, tapi juga mematikan. Sebuah studi terbaru mengungkap nenek moyang manusia purba, tepatnya spesies Homo habilis, kemungkinan besar pernah diburu dan dimangsa oleh macan tutul.
Penelitian yang dipublikasikan pada 16 September 2025 di jurnal Annals of the New York Academy of Sciences ini menggunakan bantuan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk menganalisis sisa-sisa fosil manusia purba. Hasilnya membuka tabir lama tentang nasib tragis dua individu H. habilis, salah satu anggota awal dari genus Homo, kelompok yang juga melahirkan manusia modern.
Sebelumnya, para ilmuwan telah lama menduga bahwa Homo habilis kadang menjadi mangsa hewan buas seperti singa, buaya, atau macan tutul. Dugaan itu muncul dari adanya bekas gigitan pada beberapa fosil tulang, namun selama ini sulit memastikan hewan pemangsa mana yang benar-benar bertanggung jawab.
Pasalnya, metode konvensional seperti pemeriksaan fisik tulang sering kali tak cukup detail untuk membedakan tanda-tanda gigitan antarspesies. Akibatnya, banyak penelitian berhenti di kesimpulan umum tanpa bisa menunjuk pelaku sebenarnya.
Namun kini, dengan bantuan AI, para peneliti berhasil mengidentifikasi pelaku dengan akurasi yang belum pernah dicapai sebelumnya.
“AI telah membuka pintu baru dalam memahami masa lalu,” ujar Profesor Manuel Domínguez-Rodrigo, arkeolog prasejarah dari University of Alcalá, Spanyol, sekaligus profesor tamu antropologi di Rice University, Texas.
Domínguez-Rodrigo dan timnya menganalisis dua spesimen H. habilis, yakni OH 7 yang merupakan seorang individu muda berusia sekitar 1,85 juta tahun, dan OH 65 individu dewasa berusia sekitar 1,8 juta tahun.
Keduanya ditemukan beberapa dekade lalu di situs Ngarai Olduvai, Tanzania, salah satu tempat paling penting dalam sejarah evolusi manusia.
Tulang rahang milik individu muda, menjadi bukti bahwa individu Homo habilis dimangsa oleh macan tutul. Foto: Annals of the New York Academy of Sciences/Vegara-Riquelme
“Kami memilih dua fosil ini karena keduanya paling jelas diidentifikasi sebagai H. habilis dan juga paling terawat,” jelas Domínguez-Rodrigo, dikutip Live Science.
Dari pemeriksaan awal, tim menemukan bekas gigitan hewan karnivora pada rahang bawah si remaja dan rahang atas individu dewasa, bekas yang belum pernah tercatat sebelumnya. Untuk memastikannya, para peneliti lalu menggunakan teknologi computer vision berbasis AI.
Model AI mereka dilatih menggunakan ratusan contoh bekas gigitan hewan modern seperti hiena, buaya, dan macan tutul. Dalam uji buta (blind test), model terbaik mampu mengenali hewan mana yang meninggalkan bekas gigitan dengan akurasi lebih dari 90 persen.
Ketika sistem ini diterapkan pada fosil OH 7 dan OH 65. Hasilnya, bekas gigi itu milik macan tutul. Kesimpulan bahwa kedua individu H. habilis itu tidak hanya diserang, tetapi benar-benar dimakan, diperkuat oleh sejumlah bukti fisik.
“Fakta bahwa hanya sedikit bagian kerangka yang tersisa menunjukkan tingkat kerusakan yang sangat tinggi,” kata Domínguez-Rodrigo. “Jika ada pemangsa lain yang lebih dulu memangsa mereka, macan tutul tidak akan tertarik lagi, karena hewan ini hanya memakan daging segar.”
Dengan kata lain, macan tutul kemungkinan besar adalah predator pertama dan utama yang memangsa kedua manusia purba tersebut.
Domínguez-Rodrigo juga menambahkan, untuk bisa menembus rahang bawah (mandibula) fosil muda OH 7 seperti yang terlihat pada tulang, macan tutul harus lebih dulu mengoyak sebagian besar daging dan lidah korbannya. Itu berarti, mereka bukan hanya menggigit untuk membunuh, melainkan memakan seluruh bagian tubuh.
“Ini jelas bukti konsumsi, bukan sekadar gigitan untuk membunuh,” tegasnya.
Penemuan ini menjadi pengingat bahwa jauh sebelum manusia menjadi penguasa alam, kita pernah menjadi mangsa. Di masa lalu, setiap langkah keluar gua bisa berarti pertaruhan hidup dan mati.
Berkat bantuan AI, kini kita bisa menatap masa lalu dengan lebih jernih, melihat bahwa bahkan di zaman prasejarah, naluri bertahan hidup manusia sudah diuji oleh kegelapan dan taring para predator.
Trending Now