Apa Suara Terkeras di Bumi yang Pernah Terekam? Ternyata Berasal dari Indonesia
10 Desember 2025 14:02 WIB
·
waktu baca 4 menit
Apa Suara Terkeras di Bumi yang Pernah Terekam? Ternyata Berasal dari Indonesia
suara terkeras di Bumi yang pernah terekam ternyata berasal dari Indonesia, ledakan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883.kumparanSAINS

Konser musik, pesta kembang api, hingga sound horeg bisa menghasilkan suara nyaring yang bikin telinga berdenging. Bahkan, beberapa di antaranya cukup keras untuk merusak pendengaran secara permanen.
Namun ternyata, semua itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan suara paling keras yang pernah terekam di Bumi. Dan suara itu ternyata berasal dari Indonesia, ledakan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883.
Letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883 sering disebut sebagai suara paling keras dalam sejarah manusia. Dentumannya terdengar hingga lebih dari 3.000 kilometer jauhnya. Barometer di berbagai belahan dunia bahkan menangkap gelombang tekanannya.
Letusan itu diperkirakan mencapai 170 desibel dalam jarak 160 km saja, cukup untuk menyebabkan kerusakan pendengaran permanen. Sementara itu, para pelaut yang berada 64 km dari lokasi mengaku gendang telinganya pecah akibat gelombang ledakan.
Sebagai gambaran, manusia umumnya hanya bisa menahan suara sampai sekitar 140 desibel sebelum terasa menyakitkan. Paparan 85 desibel selama berjam-jam sudah bisa merusak pendengaran, sementara suara penyedot debu hanya sekitar 75 desibel, gergaji mesin 110 desibel, dan mesin jet mendekati 140 desibel.
Menurut perhitungan ilmiah modern, letusan Krakatau kemungkinan mencapai sekitar 310 desibel. Pada level ini, suara tak lagi berperilaku sebagai suara biasa yang memiliki pola getaran teratur. Di atas 194 desibel, gelombang suara berubah menjadi gelombang kejut, yakni dorongan tekanan ekstrem yang terjadi ketika sesuatu bergerak lebih cepat dari kecepatan suara. Gelombang kejut Krakatau begitu kuat, hingga tujuh kali mengelilingi Bumi.
Namun, ada catatan penting. Menurut Michael Vorländer, Profesor dan Kepala Institute for Hearing Technology and Acoustics di RWTH Aachen University, Jerman, kita sebenarnya tidak tahu pasti seberapa keras suara di titik letusan.
“Semua perhitungan berdasarkan asumsi yang tingkat ketidakpastiannya sangat besar,” ujarnya, mengutip Live Science.
Ledakan meteor Tunguska di Siberia pada 1908 juga menjadi kandidat suara terdahsyat. Peristiwa ini meratakan hutan seluas ratusan kilometer persegi dan menciptakan gelombang tekanan yang terdeteksi di seluruh dunia.
Kekuatannya diperkirakan mencapai 300 hingga 315 desibel, nyaris setara Krakatau. Namun, seperti peristiwa Krakatau, pengukurannya juga hanya berasal dari alat yang berjarak sangat jauh dari sumber ledakan.
Era Modern: Tonga 2022 Pecahkan Rekor
Jika dibatasi pada era modern di mana saat dunia sudah memiliki jaringan sensor global, satu peristiwa baru berhasil memegang rekor.
“Saya percaya suara ‘terkeras’ yang pernah direkam adalah letusan gunung berapi Hunga di Tonga pada Januari 2022,” kata David Fee, Profesor Riset di Geophysical Institute, University of Alaska Fairbanks.
Ledakan masif itu menghasilkan gelombang suara yang berkeliling dunia berkali-kali dan terdengar hingga Alaska dan Eropa Tengah.
Milton Garces, pendiri Infrasound Laboratory di University of Hawaii, sepakat. Menurut Garces, jika pertanyaannya adalah suara paling keras di era digital modern, maka Tonga 2022 adalah juaranya.
Salah satu stasiun ilmiah terdekat yang berjarak sekitar 68 km dari lokasi letusan, mencatat lonjakan tekanan sekitar 1.800 pascal, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan ledakan kimia raksasa sekalipun. Jika dikonversi ke skala desibel normal pada jarak 1 meter (meskipun itu bukan perhitungan yang benar), hasilnya sekitar 256 desibel.
Namun, Garces menegaskan bahwa konversi itu keliru. Ledakan Tonga terlalu besar untuk digambarkan dengan skala desibel biasa. Dekat sumbernya, gelombang itu lebih mirip dorongan udara berkecepatan tinggi ketimbang gelombang suara.
Menariknya, gelombang tekanan paling kuat yang pernah dibuat manusia justru sulit didengar. Sebab sebagian besar berada di luar kemampuan pendengaran manusia.
Di laboratorium, ilmuwan pernah menggunakan laser sinar-X untuk menghantam semburan air mikroskopis dan menciptakan gelombang tekanan sekitar 270 desibel, lebih keras dari suara roket Saturn V yang membawa misi Apollo ke Bulan (sekitar 203 desibel).
Namun karena eksperimen dilakukan di ruang hampa, gelombang tersebut tidak menghasilkan suara sama sekali. Tanpa medium seperti udara atau air, suara tidak bisa merambat.
“Tekanan di ruang hampa itu curang. Mirip tekanan di luar angkasa, supernova bisa menghasilkan tekanan luar biasa, tapi tidak menghasilkan suara seperti yang kita pahami,” papar Garces.
Menurut Garces, jika bicara tentang gelombang mirip suara paling kuat yang dapat direkam dengan instrumen modern, maka Tonga 2022 tetap menjadi yang teratas.
