Apa yang Terjadi Jika Pesawat Kertas Dilempar di Luar Angkasa, Terbang Abadi?

11 Juli 2025 11:57 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Apa yang Terjadi Jika Pesawat Kertas Dilempar di Luar Angkasa, Terbang Abadi?
Pernah berpikir soal, apa yang akan terjadi jika kita melempar pesawat kertas di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS)?
kumparanSAINS
Siswa SD Negeri Joglo Solo menunjukkan pesawat kertas lipat yang dibuatnya untuk acara Doa Bersama bagi almarhum Presiden ke-3 Republik Indonesia BJ Habibie di Solo, Jawa Tengah, Kamis (12/9/2019). Foto: ANTARA FOTO/Maulana Surya
zoom-in-whitePerbesar
Siswa SD Negeri Joglo Solo menunjukkan pesawat kertas lipat yang dibuatnya untuk acara Doa Bersama bagi almarhum Presiden ke-3 Republik Indonesia BJ Habibie di Solo, Jawa Tengah, Kamis (12/9/2019). Foto: ANTARA FOTO/Maulana Surya
Kamu mungkin pernah membuat pesawat kertas saat masih kecil, kemudian dilempar ke udara untuk menerbangkannya. Namun, bagaimana jika karyamu itu dilempar dari Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS)? Apakah pesawat kertas akan terbang abadi?
Pertanyaan nyeleneh ini menjadi bahan studi serius oleh dua peneliti dari University of Tokyo, Maximilien Berthet dan Kojiro Suzuki. Mereka menganalisis dinamika pesawat kertas origami saat dilepas ke atmosfer Bumi dari ketinggian 400 km.
Kita mulai dari dasarnya dulu. Origami berarti "kertas lipat" dalam bahasa Jepang. Dalam eksperimen ini, peneliti membuat pesawat kertas dari selembar kertas A4 putih biasa, mirip dengan yang biasa dibuat anak SD. Bedanya, pesawat ini dibuat dengan simulasi aerodinamika tingkat tinggi.
Setelah model digitalnya selesai, mereka menyimulasikan peluncurannya dari ketinggian 400 km di atas permukaan Bumi, dengan kecepatan sekitar 7.800 meter per detik, setara kecepatan Stasiun Luar Angkasa saat mengorbit.
Kedengarannya seperti kecepatan yang bisa langsung merobek kertas, tapi ternyata di ketinggian 400 km, atmosfer begitu tipis sehingga tak cukup padat untuk menimbulkan kerusakan besar.
Selama menuruni atmosfer, dari 400 km hingga sekitar 120 km yang ditempuh selama 3,5 hari, pesawat tetap relatif stabil. Tapi karena pesawat ini punya koefisien balistik rendah yang artinya dia mudah melambat karena udara, maka kecepatannya terus menurun dengan cukup signifikan.
Selain itu, di ketinggian 120 km, atmosfer mulai cukup padat hingga menyebabkan pesawat kertas kehilangan kendali dan berputar-putar secara liar, persis seperti saat kamu lempar pesawat kertas dan dia muter-muter tak tentu arah sebelum jatuh.
Tapi peneliti ini tak berhenti di simulasi komputer. Karena kalau kamu punya gelar PhD di bidang teknik dirgantara dan akses ke terowongan angin hipersonik di kampus, kenapa nggak bikin pesawat kertas beneran?
Dan inilah yang mereka lakukan. Mereka membuat model pesawat kertas seukuran sepertiga aslinya, dengan sedikit tambahan ekor dari aluminium, lalu mengujinya di Kashiwa Hypersonic and High Enthalpy Wind Tunnel, Universitas Tokyo.
Hasil uji coba singkat selama 7 detik dengan hembusan setara Mach 7 menunjukkan bagian depan pesawat kertas mulai bengkok, tapi tidak hancur total. Sayap dan ujung hidungnya menunjukkan tanda-tanda terbakar (charred), menandakan bahwa jika percobaan diteruskan, pesawat itu kemungkinan besar akan terbakar habis di atmosfer.
Tujuan eksperimen ini bukan cuma untuk bersenang-senang. Para ilmuwan melihat potensi pesawat kertas ini sebagai inspirasi platform mini untuk misi ilmiah masa depan, seperti proyek LEAVES untuk eksplorasi Venus, atau pengamatan Bumi dari orbit rendah yang akhirnya akan terbakar di atmosfer, tanpa menyisakan sampah luar angkasa.
Tentu saja, misi semacam itu butuh banyak tambahan seperti elektronik, sensor, dan sistem komunikasi, yang membuatnya jauh lebih rumit dari sekadar kertas A4 yang dilipat anak-anak.
Inilah indahnya sains, bukan hanya soal eksplorasi, tapi juga soal inspirasi. Dari sebuah pesawat kertas yang dijatuhkan dari luar angkasa, kita bisa melihat perpaduan antara keduanya.
Trending Now