Apa yang Terjadi Selama Ekspedisi Terakhir Kaum Bumi Datar di Antarktika?
9 September 2025 16:02 WIB
·
waktu baca 3 menit
Apa yang Terjadi Selama Ekspedisi Terakhir Kaum Bumi Datar di Antarktika?
Sepanjang sejarah, penganut teori Bumi datar pernah nekat berlayar mencari tepi dunia, hingga melakukan eksperimen sederhana.kumparanSAINS

Para ilmuwan sudah sangat jauh melangkah, menjawab pertanyaan besar seperti paradoks informasi lubang hitam atau apakah gravitasi bisa dipersatukan dengan mekanika kuantum. Di sisi lain, tahukah kamu bahwa saat ini masih ada saja sekelompok orang yang masih sibuk membuktikan bahwa Bumi itu datar, bukan bulat.
Padahal, ada banyak cara sederhana untuk membuktikan bahwa Bumi berbentuk bulat. Mulai dari melihat foto-foto Bumi dari luar angkasa, mengamati pergerakan bintang, hingga percobaan sederhana dengan tongkat dan bayangan.
Namun, bagi sebagian orang, bukti-bukti itu tidak cukup. Sepanjang sejarah, penganut teori Bumi datar pernah nekat berlayar mencari tepi dunia, hingga melakukan eksperimen sederhana yang justru bikin mereka sadar: Bumi itu ternyata nggak datar.
Pada 2024 lalu, sekelompok flat-Earther pernah merencanakan ekspedisi besar-besaran ke Antarktika. Proyek yang digagas pendeta asal Colorado, Will Duffy, ini disebut sebagai “The Final Experiment”, eksperimen pamungkas untuk mengakhiri perdebatan soal bentuk Bumi.
Tujuannya sederhana, membuktikan bahwa Matahari tengah malam di Antarktika benar-benar ada. Fenomena ini terjadi setiap musim panas di belahan Bumi selatan, ketika Matahari terlihat bersinar selama 24 jam penuh tanpa terbenam. Fenomena ini mustahil dijelaskan jika Bumi benar-benar datar.
Duffy mengaku ide itu muncul setelah gagal meyakinkan seorang temannya bahwa Bumi bulat. Ia pun memutuskan untuk membawa langsung para penganut Bumi datar melihat bukti tak terbantahkan tersebut.
“Saya menciptakan The Final Experiment untuk mengakhiri perdebatan ini sekali untuk selamanya,” kata Duffy. “Setelah kami ke Antarktika, tidak ada lagi yang perlu membuang waktu berdebat soal bentuk Bumi.”
Ia bahkan menegaskan, bila ternyata Matahari tidak terlihat 24 jam penuh, maka ia sendiri akan mengakui Bumi datar.
Meski sebagian flat-Earther percaya ada larangan dalam Antarctic Treaty 1959 yang mencegah mereka datang ke benua es, faktanya ekspedisi itu tetap terlaksana pada Desember 2024. Delapan orang berangkat, terdiri dari empat penganut Bumi datar dan empat glober—sebutan untuk penganut Bumi bulat—, dengan tujuan merekam Matahari tengah malam secara terus-menerus.
Hasilnya, jelas tidak sesuai harapan flat-Earther. Dalam rekaman video, beberapa flat-Earther akhirnya mengakui mereka keliru soal Matahari 24 jam.
“Kadang kita memang bisa salah dalam hidup. Saya yakin Matahari 24 jam itu tidak ada. Ternyata ada,” kata Jeran Campanella, salah satu flat-Earther terkenal. “Saya sadar saya akan dicap sebagai penipu hanya karena mengatakan itu (ada Matahari bersinar 24 jam). Faktanya saya sekarang percaya Matahari 24 jam memang nyata.”
Namun, meski mereka mengakui fenomena itu nyata, bukan berarti mereka menerima bahwa Bumi berbentuk bulat.
“Saya tahu banyak orang ingin tahu pendapat saya soal bagaimana fenomena itu bisa terjadi. Saya memang pernah melihat demonstrasi fisik yang bisa menjelaskannya. Data dari perjalanan ini mungkin bisa membantu memperjelas,” ujar Austin Whitsitt, flat-Earther lain.
Meski disebut Final Experiment, kenyataannya ekspedisi ini belum berhasil menghapus keyakinan sebagian flat-Earther. Bahkan ketika bukti sudah mereka lihat dengan mata kepala sendiri, sebagian tetap berusaha mencari penjelasan alternatif.
Mungkin, sebelum nekat membuat ekspedisi mahal, mereka bisa mulai dari pelajaran sejarah tentang bagaimana umat manusia sudah tahu Bumi itu bulat sejak berabad-abad lalu.
