Bagaimana Posisi Tidur Terbaik menurut Sains?
30 September 2022 6:34 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
Bagaimana Posisi Tidur Terbaik menurut Sains?
Bagaimana posisi tidur terbaik? Begini sains menjawab.kumparanSAINS

Sebagian dari kita lebih memilih tidur telentang, sebagian lain tidur menghadap ke samping, bahkan ada juga yang tengkurap. Lalu, menurut sains, posisi tidur seperti apa yang paling bagus untuk kualitas tidur?
Sebuah riset yang terbit 2017 mengungkap bahwa manusia sering berganti-ganti posisi sepanjang tidur tanpa disadari. Dari 664 partisipan penelitian tersebut, rata-rata mereka menghabiskan 54 persen waktu tidur dengan posisi menyamping, 37 persen berada dalam posisi telentang, dan 7 persen tengkurap.
Studi itu juga mengungkap pria yang berusia di bawah 35 tahun lebih sering berganti posisi dari partisipan usia yang lebih tua. Ganti posisi tersebut juga termasuk menggeser tangan, kaki, dan mengubah orientasi badan atas rasanya cocok bagi bawah sadar βdan mungkin membalikkan bantal tanpa disadari.
Secara tidak sadar, tubuh juga mencari posisi yang nyaman sekaligus menghindari rasa sakitβmisal tangan yang tertekan terlalu keras. Ini penting untuk menghindari gejala lebih akut seperti Ulkus decubitus (bed shores) .
Lalu, apa posisi tidur terbaik?
Tidur tengkurap disebut membuat otot sekitar tulang rusuk lebih susah mengembang karena melawan gravitasi, sehingga membuat seseorang lebih sulit bernapas. Posisi itu juga dapat meningkatkan kecepatan detak jantung, yang tidak baik untuk kualitas tidur.
Selain pernapasan, faktor lain yang penting untuk diperhatikan dalam variasi posisi tidur adalah dukungan tulang belakang. Namun output ini bergantung juga faktor-faktor lain, sehingga kualitas tidur tidak bisa dipatok hanya dari posisi yang dipilih.
Samantha Briscoe, Fisiolog Klinis Utama London Bridge Sleep Centre, apa yang berhasil untuk satu orang tidak akan selalu berhasil untuk orang lain.
"Tetapi beberapa posisi tidur dapat menyebabkan atau memperburuk, katakanlah, masalah punggung atau leher meskipun ini sangat individual dan dapat bervariasi seiring waktu, atau dengan kehamilan atau banyak kondisi kesehatan lainnya," katanya, seperti dikutip Live Science.
Bagaimana dengan bantal? Kurangnya dukungan untuk kepala dan leher selama tidur telah terbukti sangat mempengaruhi keselarasan tulang belakang, dan menyebabkan masalah otot seperti nyeri leher, nyeri bahu, dan kekakuan otot.
Penelitian meta analisis yang dipublikasikan pada 2021 di Clinical Biomechanic menunjukkan bahan bantal karet dan pegas tampaknya punya efek lebih baik daripada bantal bulu. Bentuk bantal juga mempengaruhi, bentuk dan tingginya adalah yang terpenting.
Bantal berbentuk U (bantal yang sering dipakai ketika di pesawat atau bus) dapat membantu memiliki membuat tidur malam yang lebih lama. Namun di akhir makalah, peneliti menulis bahwa efek dari bantal secara keseluruhan tidak dapat disimpulkan.
