Benteng Militer Mesir Kuno Berusia 3.500 Tahun Ditemukan di Gurun Sinai

22 Oktober 2025 8:02 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Benteng Militer Mesir Kuno Berusia 3.500 Tahun Ditemukan di Gurun Sinai
Tim arkeolog menemukan sebuah benteng militer berusia 3.500 tahun di Gurun Sinai bagian utara, Mesir.
kumparanSAINS
Dinding benteng militer Mesir kuno dirancang dengan pola zig-zag untuk menahan erosi pasir dan angin. Foto: Egyptian Ministry of Tourism and Antiquities
zoom-in-whitePerbesar
Dinding benteng militer Mesir kuno dirancang dengan pola zig-zag untuk menahan erosi pasir dan angin. Foto: Egyptian Ministry of Tourism and Antiquities
Tim arkeolog menemukan sebuah benteng militer berusia 3.500 tahun di Gurun Sinai bagian utara, Mesir, tak jauh dari pesisir Laut Tengah.
Benteng ini punya bentuk dinding zigzag yang unik, dan masih terawat dengan sangat baik. Di dalamnya, para peneliti bahkan menemukan sisa-sisa tungku serta adonan roti yang telah membatu peninggalan yang kemungkinan besar tak sempat disentuh para prajuritnya.
Menurut Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir, artefak dari benteng seluas sekitar 0,8 hektare ini menunjukkan bahwa bangunan tersebut mungkin dibangun pada masa pemerintahan Firaun Thutmose I (sekitar 1504 - 1492 SM). Thutmose I dikenal sebagai penguasa yang memperluas wilayah Mesir hingga wilayah yang kini menjadi Suriah, dan hal itu menjelaskan mengapa benteng ini berada di lokasi strategis tersebut.
Benteng ini ditemukan di Tell el-Kharouba, sebuah situs arkeologi yang terletak di dekat jalur militer kuno bernama Jalan Horus atau Horus Military Road, dinamai dari dewa Mesir berkepala elang yang melambangkan langit dan peperangan. Jalur ini membentang di Gurun Sinai bagian utara, menghubungkan delta Sungai Nil dengan kawasan timur Laut Tengah. Sebelumnya, beberapa benteng lain juga telah ditemukan di sepanjang jalur kuno ini.
Salah satu dinding di dalam benteng tersebut memiliki pola zigzag yang membentang dari utara ke selatan dan memisahkan bagian barat yang digunakan sebagai area tempat tinggal. Menurut Hesham Hussein, Wakil Sekretaris Arkeologi Mesir Hilir dan Sinai yang memimpin penggalian, desain zigzag ini membantu memperkuat struktur dinding sekaligus mengurangi dampak angin dan erosi pasir.
Hieroglif mencantumkan nama Thutmose I, seorang firaun yang memerintah Mesir sekitar 3.500 tahun yang lalu. Foto: Egyptian Ministry of Tourism and Antiquities
Di bagian luar, tim arkeolog menemukan tungku-tungku kecil yang kemungkinan digunakan untuk kegiatan sehari-hari para penghuni benteng. Di dekat salah satu tungku inilah mereka menemukan adonan roti yang telah membatu selama ribuan tahun.
Benteng ini juga dilengkapi dengan sistem pertahanan yang kuat. Hingga kini, para arkeolog telah menemukan 11 menara penjaga, dan sebagian di antaranya memiliki fondasi persembahan berupa potongan tembikar yang dikubur saat pembangunan dimulai. Beberapa tembikar tersebut bahkan memiliki cap nama Thutmose I, memperkuat dugaan bahwa benteng ini dibangun atas perintahnya.
Dengan ukuran sebesar itu, benteng ini diperkirakan menampung antara 400 hingga 700 prajurit, dengan rata-rata sekitar 500 orang. Di dalamnya, ditemukan pula tempat tinggal para tentara serta batuan vulkanik dari Kepulauan Aegea yang diduga digunakan dalam proses konstruksi. Tim peneliti kini tengah mencari kemungkinan adanya pelabuhan di dekat lokasi, yang mungkin dulunya berfungsi untuk memasok kebutuhan benteng.
β€œPenemuan benteng ini sangat luar biasa,” ujar James Hoffmeier, arkeolog dan profesor di Trinity International University yang sebelumnya pernah menggali benteng lain di Gurun Sinai, meski tidak terlibat dalam penelitian kali ini.
Bagian tembok benteng dengan pola zig-zag. Foto: Egyptian Ministry of Tourism and Antiquities
Menurut Hoffmeier, benteng baru ini dan benteng di Tell el-Borg merupakan bagian dari jaringan pertahanan Mesir di jalur militer menuju Kanaan, wilayah yang kini mencakup sebagian Israel dan Palestina.
β€œBenteng-benteng ini memungkinkan Mesir mengontrol pesisir timur Laut Tengah selama hampir empat abad,” katanya sebagaimana dikutip Live Science.
Temuan bahwa benteng ini dibangun pada masa Thutmose I juga memperkuat pandangan bahwa sang firaun adalah bapak pendiri kekaisaran Mesir di Asia Barat. Ia diyakini menjadi tokoh utama dalam pembangunan sistem pertahanan yang kemudian diperluas oleh para penerusnya.
Sementara itu, Gregory Mumford, profesor antropologi dan ahli Mesir Kuno dari University of Alabama di Birmingham, mengatakan bahwa penelitian di situs ini akan sangat memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana Mesir pada masa awal Kerajaan Baru memperkuat pertahanan di timur laut Sinai melalui Jalan Horus.
Proses penggalian dan analisis terhadap sisa-sisa benteng ini masih terus berlanjut, membuka lembaran baru tentang strategi militer Mesir kuno dan kehidupan para prajurit yang menjaganya ribuan tahun lalu.
Trending Now