Bumi Dikelilingi 1,2 Juta Sampah Luar Angkasa, Beratnya Melebihi Menara Eiffel

11 November 2025 10:12 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bumi Dikelilingi 1,2 Juta Sampah Luar Angkasa, Beratnya Melebihi Menara Eiffel
Bumi dikelilingi 1,2 juta sampah luar angkasa. Laporan ESA ungkap beratnya melebihi Menara Eiffel, jadi ancaman serius bagi satelit & astronaut di orbit.
kumparanSAINS
Ilustrasi sampah luar angkasa. Foto: Dabarti CGI/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sampah luar angkasa. Foto: Dabarti CGI/Shutterstock
Orbit di sekeliling planet kita kini semakin padat akibat jutaan keping sampah antariksa buatan manusia. Laporan terbaru dari Badan Antariksa Eropa (ESA) yang dirilis pada 21 Oktober 2025 mengungkap data yang mengkhawatirkan: Luar angkasa di sekitar Bumi telah menjadi tempat pembuangan sampah raksasa.
Laporan Space Environment Report menyebutkan total massa objek buatan manusia yang mengorbit Bumi kini telah mencapai lebih dari 13.500 metrik ton. Sebagai perbandingan, berat ini jauh melampaui berat struktur besi Menara Eiffel di Paris, Prancis, sekitar 7.300 ton.
Tumpukan sampah kosmik ini melaju dengan kecepatan puluhan ribu kilometer per jam, menciptakan ancaman nyata bagi satelit aktif, astronaut, dan masa depan eksplorasi luar angkasa.
Bahkan, salah satu dampak bahayanya telah menyebabkan insiden yang menimpa pesawat luar angkasa Shenzhou-20 milik China. Kepulangan tiga astronaut mereka terpaksa ditunda setelah pesawat luar angkasa mereka disebut bertabrakan dengan serpihan kecil sampah antariksa.
"Pesawat luar angkasa berawak Shenzhou-20 diduga terkena serpihan kecil sampah antariksa, dan analisis dampak serta penilaian risiko sedang berlangsung," demikian pernyataan resmi dari CMSA (Badan Antariksa China) pada media sosial China, Weibo.

Apa itu Sampah Luar Angkasa?

Berdasarkan definisi ESA, sampah luar angkasa (space debris) adalah semua objek buatan manusia, termasuk fragmen dan elemennya, yang berada di orbit Bumi atau memasuki kembali atmosfer namun sudah tidak lagi fungsional. Sampah ini mencakup satelit mati yang sudah habis masa pakainya, sisa roket yang ditinggalkan setelah peluncuran, serpihan kecil akibat ledakan atau tabrakan antar objek di angkasa, serta benda terkait misi, seperti penutup lensa, baut, hingga alat yang terlepas dari astronaut.
Benda misterius yang menghantam sebuah rumah di Florida. Foto: Alejandro Otero/X
Meskipun objek yang terlacak secara resmi berjumlah sekitar 39.246 hingga akhir 2024, model ESA memperkirakan jumlah sebenarnya jauh lebih besar dan mengerikan:
Meskipun terdengar kecil, benda-benda ini melesat dengan kecepatan hipersonik --akibat tak ada hambatan udara, benda-benda ini tak akan melambat dari kecepatan awalnya. Tabrakan dengan serpihan 1 cm saja dapat menghasilkan energi setara ledakan granat, yang lebih dari cukup untuk menghancurkan sebuah satelit aktif.

Situasi Semakin Memburuk

Laporan ESA juga menyoroti situasi ini terus memburuk. Pada 2024, meskipun pertumbuhan jumlah satelit baru sedikit melambat, jumlah peluncuran justru terus meningkat, menambah rekor massa dan ukuran objek yang dikirim ke Orbit Rendah Bumi (LEO).
Selain itu, peristiwa fragmentasi (pecahnya objek menjadi serpihan) tetap menjadi masalah serius. Laporan tersebut mencatat beberapa peristiwa fragmentasi signifikan terjadi sepanjang 2024 yang menghasilkan lebih dari 3.000 serpihan baru yang dapat dilacak. Selama dua dekade terakhir, rata-rata terjadi 10,5 insiden fragmentasi non-deliberat setiap tahunnya.
Bekas tabrakan sampah antariksa di Stasiun Luar Angkasa (ISS). Foto: NASA/Canadian Space Agency
Para ahli di ESA pun memperingatkan tingkat kepatuhan terhadap pedoman mitigasi sampah antariksa saat ini masih belum cukup untuk menjamin lingkungan luar angkasa yang aman dan berkelanjutan.
Bahkan jika semua peluncuran dihentikan hari ini, jumlah sampah di LEO kemungkinan besar akan terus bertambah akibat tabrakan berantai antar objek yang sudah ada, sebuah skenario yang dikenal sebagai 'Sindrom Kessler'. Skenario terburuknya, orbit Bumi bisa menjadi terlalu berbahaya untuk digunakan oleh generasi mendatang.
Berdasarkan tren saat ini, laporan tersebut memprediksi tingkat risiko tabrakan dan fragmentasi di masa depan bisa menjadi empat kali lebih tinggi dari ambang batas yang dianggap aman untuk keberlanjutan jangka panjang.
Untuk mengatasi ini, standar yang lebih ketat mulai diusulkan, termasuk kebijakan baru ESA yang mewajibkan satelit untuk keluar dari orbit dalam waktu 5 tahun setelah misi berakhir, jauh lebih singkat dari pedoman sebelumnya yaitu 25 tahun.
Trending Now