Dulu Dianggap Bawa Kutukan Maut, Jamur dari Makam Firaun Kini Jadi Obat Kanker

3 Juli 2025 10:17 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dulu Dianggap Bawa Kutukan Maut, Jamur dari Makam Firaun Kini Jadi Obat Kanker
Jamur beracun yang dulu dituding sebagai penyebab infeksi paru-paru mematikan pada para penjelajah makam kuno.
kumparanSAINS
Ilustrasi patogen jamur. Foto: Kateryna Kon/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi patogen jamur. Foto: Kateryna Kon/Shutterstock
Jamur beracun yang dulu dituding sebagai penyebab infeksi paru-paru mematikan pada para penjelajah makam kuno, kini justru dianggap berpotensi menjadi kunci pengobatan kanker revolusioner.
Temuan baru ini dibuat di jurnal Nature Chemical Biology. Semua bermula dari kisah legendaris penemuan makam Firaun Tutankhamun pada tahun 1922. Hanya beberapa bulan setelah makam itu dibuka, Earl of Carnarvon, bangsawan yang mendanai penggalian, meninggal dunia.
Hal ini memicu rumor soal kutukan mumi yang konon bisa menimpa siapa pun yang masuk ke dalam makam firaun. Kisah serupa terulang di Polandia pada tahun 1970-an, di mana 10 dari 12 arkeolog yang menggali makam Raja Casimir IV dari abad ke-15 juga meninggal secara misterius.
Setelah dianalisis, ditemukan bahwa makam Casimir IV dipenuhi oleh spora jamur berbahaya bernama Aspergillus flavus, yang toksinnya memang dikenal dapat memicu infeksi paru-paru yang mematikan.
Namun kini, jamur yang sama justru menawarkan harapan baru bagi pengobatan leukemia, kanker darah yang mematikan. Tim peneliti berhasil mengidentifikasi dan merekayasa kelas molekul dalam jamur ini, yang diberi nama Asperigimycin, dan terbukti mampu membunuh sel leukemia dalam uji laboratorium.
“Ini adalah ironi alam Berbeda dengan kemoterapi konvensional yang menyerang semua jenis sel–termasuk sel sehat– Asperigimycin tampaknya bekerja sangat spesifik pada sel leukemia, dan tidak merusak jaringan sehat. Uji awal juga menunjukkan bahwa senyawa ini minim efek pada sel kanker payudara, hati, dan paru-paru. Para peneliti menyebut selektivitas ini penting untuk mengurangi efek samping yang tidak diinginkan.
Pekerjaan lapangan berlangsung di dekat lokasi tempat makam raja Mesir kuno yang tidak dikenal, yang berasal dari sekitar 3.600 tahun lalu, ditemukan selama penggalian oleh Penn Museum dan arkeolog Mesir di Abydos, Mesir. Foto: Josef Wegner/Penn Museum/HO via REUTERS
Lebih dari sekadar Asperigimycin, para ilmuwan yakin bahwa senyawa penyelamat nyawa lainnya juga mungkin tersembunyi dalam spesies jamur lain. Saat ini, tim tengah merencanakan uji coba pada hewan sebelum masuk ke tahap uji klinis pada manusia.
Dengan memindai genom jamur dan menjelajahi lebih banyak varian Aspergillus, mereka berharap bisa menemukan berbagai pengobatan baru di masa depan.
“Dunia kuno masih menyimpan alat untuk pengobatan modern,” tutur Gao. “Makam-makam yang dulu ditakuti karena kutukannya, kini bisa menjadi sumber penyembuhan.”
Dari legenda kutukan mumi hingga laboratorium modern, jamur yang dulu dianggap pembawa kematian kini justru menjadi harapan hidup. Ini membuktikan, bahwa di balik kisah menyeramkan sejarah, alam masih menyimpan kejutan yang bisa menyelamatkan dunia.
yang luar biasa,” ujar Sherry Gao, penulis senior studi dan profesor teknik kimia serta biomolekuler di University of Pennsylvania. “Jamur yang dulu ditakuti karena menyebabkan kematian, kini mungkin bisa menyelamatkan nyawa.”

Dari Kutukan Makam ke Harapan Hidup

Jamur Aspergillus flavus menghasilkan spora yang bisa bertahan dalam keadaan dorman (tidak aktif) selama berabad-abad, termasuk di dalam makam yang tersegel rapat. Ketika lingkungan makam terganggu, spora ini dapat menjadi aktif dan menginfeksi paru-paru, terutama pada orang dengan daya tahan tubuh lemah.
Dalam studi terbaru, para ilmuwan menyelidiki senyawa kimia unik yang dihasilkan oleh jamur ini dan menemukan kelompok senyawa alami bernama RiPPs (ribosomally synthesized and post-translationally modified peptides). Molekul ini sangat langka ditemukan pada jamur, sulit diisolasi, namun memiliki struktur kompleks dan aktivitas biologis tinggi. Ini sangat menjanjikan untuk pengobatan karena dapat secara spesifik berinteraksi dengan sel-sel tubuh, termasuk membunuh sel kanker.
Seorang arkeolog merestorasi peti mati berlapis emas Raja Muda Firaun. Foto: REUTERS/Khaled Desouki
“Kami menemukan empat jenis Asperigimycin baru dengan struktur cincin saling mengunci yang sangat tidak biasa,” kata penulis utama studi Qiuyue Nie, peneliti teknik kimia dan biomolekuler di University of Pennsylvania. “Dua di antaranya menunjukkan efek antileukemia yang kuat bahkan tanpa modifikasi.”
Untuk meningkatkan efektivitas obatnya, para peneliti kemudian menambahkan molekul lipid yang mirip dengan komponen yang terdapat dalam royal jelly, yakni cairan bergizi tinggi yang menjadi makanan utama ratu lebah. Lipid ini berfungsi membantu molekul obat menembus membran sel kanker lebih efektif, karena membran sel tersusun atas lemak.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa gen bernama SLC46A3 berperan sebagai semacam gerbang molekuler, memungkinkan Asperigimycin lolos dari bagian dalam sel dan langsung menyerang sel leukemia. Penemuan ini bisa membuka jalan bagi pengiriman obat-obatan lain yang selama ini sulit diserap tubuh.
Berbeda dengan kemoterapi konvensional yang menyerang semua jenis sel–termasuk sel sehat– Asperigimycin tampaknya bekerja sangat spesifik pada sel leukemia, dan tidak merusak jaringan sehat. Uji awal juga menunjukkan bahwa senyawa ini minim efek pada sel kanker payudara, hati, dan paru-paru. Para peneliti menyebut selektivitas ini penting untuk mengurangi efek samping yang tidak diinginkan.
Lebih dari sekadar Asperigimycin, para ilmuwan yakin bahwa senyawa penyelamat nyawa lainnya juga mungkin tersembunyi dalam spesies jamur lain. Saat ini, tim tengah merencanakan uji coba pada hewan sebelum masuk ke tahap uji klinis pada manusia.
Dengan memindai genom jamur dan menjelajahi lebih banyak varian Aspergillus, mereka berharap bisa menemukan berbagai pengobatan baru di masa depan.
“Dunia kuno masih menyimpan alat untuk pengobatan modern,” tutur Gao. “Makam-makam yang dulu ditakuti karena kutukannya, kini bisa menjadi sumber penyembuhan.”
Dari legenda kutukan mumi hingga laboratorium modern, jamur yang dulu dianggap pembawa kematian kini justru menjadi harapan hidup. Ini membuktikan, bahwa di balik kisah menyeramkan sejarah, alam masih menyimpan kejutan yang bisa menyelamatkan dunia.
Trending Now