Ilmuwan: Cara Makan T. Rex dan Dinosaurus Karnivora Lain Berbeda
19 Agustus 2025 15:27 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Ilmuwan: Cara Makan T. Rex dan Dinosaurus Karnivora Lain Berbeda
Sebuah studi biomekanika terbaru yang diterbitkan di Current Biology mengungkap bahwa dinosaurus karnivora raksasa memiliki cara berbeda dalam menaklukkan mangsa.kumparanSAINS

Dalam studi biomekanika terbaru, para ilmuwan mengungkapkan beragam cara makan dinosaurus karnivora. Mereka menganalisis desain tengkorak dan kekuatan gigitan 17 spesies dari zaman dinosaurus.
Tyrannosaurus atau T-rexmenaklukkan mangsanya dengan menggunakan gigitan yang mampu menghancurkan tulang. Namun, dinosaurus karnivora lain yang ukurannya menyaingi T-rex menggunakan cara yang berbeda.
Seperti Giganotosaurus yang lebih mengandalkan teknik menebas dan merobek daging. Spinosaurus mengandalkan moncong panjang untuk menangkap ikan
Studi yang diterbitkan di jurnal Current Biology, menemukan bahwa Tyrannosaurus atau T-rex memiliki perkiraan kekuatan gigitan tertinggi, dengan tengkorak yang diperkuat dan otot rahang yang besar. Namun, studi ini menunjukkan dinosaurus predator lain juga berhasil dalam memangsa makanannya dengan pendekatan yang berbeda dari T-rex.
"Kami menemukan bahwa dinosaurus predator besar tidak semuanya berevolusi dengan jenis tengkorak yang sama untuk mengatasi tantangan makan pada ukuran yang sangat besar," kata Andre Rowe, ahli paleontology vertebrata dari Universitas Bristol di Inggris, mengutip Reuters.
T-rex memperkuat tengkoraknya untuk menoleransi kekuatan gigitan yang sangat tinggi dan tekanan tengkorak yang menyertainya. Sedangkan yang lain, seperti Allosaurus dan Spinosaurus, memiliki tubuh yang lebih ringan atau mungkin fleksibel yang menyebarkan tekanan dengan cara berbeda. Hal ini menyimpulkan tidak ada satu cara untuk menjadi pemakan daging raksasa.
Studi ini berfokus pada spesies dalam kelompok yang disebut theropoda, yang mencakup dinosaurus karnivora. Spesies ini beragam, mulai dari Herrerasaurus yang hidup di Argentina sekitar 230 juta tahun yang lalu, hingga T-rex yang hidup di Amerika Utara.
Para peneliti menggunakan model 3D tengkorak 17 spesies, termasuk dua spesimen Tyrannosaurus yang berbeda dan menerapkan metode untuk keperluan simulasi bagaimana struktur merespons tekanan fisik.
Peneliti memperkirakan gaya otot menggunakan rekonstruksi otot digital berdasarkan kerabat dinosaurus yang masih hidup, seperti burung dan buaya. Lalu menerapkan gaya tersebut pada model tengkorak untuk mensimulasikan gigitan.
"Fokus kami bukanlah kekuatan gigitan mentah. Kami menguji bagaimana tengkorak mendistribusikan kekuatan tersebut di Bawah beban, dan bagaimana distribusi ini bervariasi pada setiap garis keturunan karnivora," ujar Rowe.
Rowe mengatakan, pada T-rex, terjadi peningkatan kekuatan tengkorak dan mekanisme gigitan yang signifikan, bertepatan dengan tengkorak yang lebih dalam, arsitektur tulang yang lebih kokoh, dan perubahan pelekatan otot rahang.
Tyrannosaurus, Giganotosaurus, dan Spinosaurus adalah tiga theropoda terbesar, tetapi tengkorak mereka sangat berbeda. Tyrannosaurus terbesar yang diketahui adalah spesimen bernama Sue di Field Museum di Chicago, dengan panjang 12,3 meter. Giganotosaurus dan Spinosaurus menyaingi T. rex dalam hal ukuran.
Giganotosaurus memang besar, namun tengkoraknya tidak dirancang untuk menerima makanan berkekuatan tinggi seperti T-rex. Spinosaurus memiliki moncong yang panjang dan sempit, sesuai dengan pola makannya yang berfokus pada memancing.
"Beberapa hewan menang dengan kekuatan murni, yang lain dengan menyerang dengan cepat atau berulang kali. Yang kita lihat di sini adalah spektrum adaptasi ekologi. Hewan-hewan ini tidak semuanya berusaha menjadi klon T-rex, mereka memecahkan masalah yang sama dengan cara yang berbeda," ungkap Rowe.
