Ilmuwan Klaim Sukses Ciptakan Ginjal yang Bisa Diterima Semua Golongan Darah
19 Oktober 2025 10:30 WIB
·
waktu baca 3 menit
Ilmuwan Klaim Sukses Ciptakan Ginjal yang Bisa Diterima Semua Golongan Darah
Tim peneliti dari Kanada dan China berhasil menciptakan apa yang mereka sebut sebagai universal kidney atau ginjal universal.kumparanSAINS

Para ilmuwan akhirnya semakin dekat dengan terobosan besar dalam dunia transplantasi ginjal, yakni mentransfer ginjal dari donor dengan golongan darah berbeda kepada penerima. Jika berhasil diterapkan secara luas, teknologi ini bisa memangkas waktu tunggu dan menyelamatkan banyak nyawa.
Tim peneliti dari Kanada dan China mengaku berhasil menciptakan universal kidney, atau ginjal universal, yang secara teori bisa diterima oleh pasien dengan golongan darah apa pun.
Dalam uji coba, organ hasil rekayasa ini berhasil berfungsi selama beberapa hari di tubuh seorang penerima yang telah dinyatakan mati otak, dengan persetujuan keluarga.
“Pertama kalinya kami melihat proses ini benar-benar berhasil pada model manusia,” kata Stephen Withers, ahli biokimia dari University of British Columbia, Kanada. “Temuan ini memberi kami pemahaman berharga untuk meningkatkan hasil jangka panjang di masa depan.”
Saat ini, pasien bergolongan darah O yang membutuhkan ginjal harus menunggu donor dengan golongan darah O juga. Masalahnya, golongan darah O merupakan yang paling banyak dibutuhkan, di mana lebih dari separuh pasien di daftar tunggu masuk dalam kategori ini, sementara ginjal dari donor O bisa digunakan untuk semua golongan darah, jumlahnya sangat terbatas.
Secara teknis, transplantasi antara golongan darah berbeda memang sudah bisa dilakukan. Namun, prosesnya jauh dari kata sempurna, karena memerlukan biaya mahal, berisiko tinggi, dan hanya bisa dilakukan jika donor masih hidup, karena penerima membutuhkan waktu untuk mempersiapkan tubuh agar tidak menolak organ baru.
Dalam penelitian terbaru yang terbit di jurnal Nature Biomedical Engineering, para ilmuwan sukses mengubah ginjal bergolongan darah A menjadi ginjal golongan O. Caranya dengan menggunakan enzim khusus yang mampu menghapus molekul gula (antigen) yang menandai golongan darah A pada permukaan sel.
Enzim tersebut diibaratkan seperti gunting mikroskopis yang memotong rantai antigen darah A hingga organ tersebut kehilangan “penanda” golongan darahnya.
“Bayangkan seperti menghapus cat merah dari mobil dan menyisakan warna dasar yang netral,” ujar Withers. “Begitu lapisan itu hilang, sistem imun tidak lagi melihat organ tersebut sebagai benda asing.”
Meski hasil awalnya menjanjikan, penelitian ini masih jauh dari tahap uji coba pada manusia hidup. Pada hari ketiga setelah transplantasi, ginjal yang sudah diubah mulai menunjukkan tanda-tanda kembali ke golongan darah A, yang memicu respons imun. Namun, reaksi tersebut jauh lebih ringan dari biasanya, dan bahkan ada tanda-tanda bahwa tubuh penerima mencoba beradaptasi.
Data global menunjukkan betapa mendesaknya kebutuhan ginjal donor. Di Amerika Serikat saja, 11 orang meninggal setiap hari saat menunggu transplantasi ginjal, dan sebagian besar dari mereka membutuhkan ginjal bergolongan darah O.
Untuk itu, para ilmuwan kini mengembangkan berbagai pendekatan lain, mulai dari penggunaan ginjal babi hingga menciptakan antibodi baru guna memperluas jangkauan organ yang cocok untuk pasien.
“Inilah bentuk nyata ketika penelitian dasar selama bertahun-tahun akhirnya terhubung langsung ke perawatan pasien,” ujar Withers. “Melihat penemuan kami semakin dekat dengan dampak di dunia nyata adalah hal yang membuat kami terus melangkah maju.”
