Ini Bagian Penting Tubuh Manusia yang Tetap Hidup setelah Meninggal Dunia

3 Oktober 2023 7:04 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ini Bagian Penting Tubuh Manusia yang Tetap Hidup setelah Meninggal Dunia
Bagian penting dari tubuh ini akan tetap hidup meski kita sudah meninggal dunia.
kumparanSAINS
Ilustrasi mayat anak-anak. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mayat anak-anak. Foto: Shutterstock
Setiap tubuh manusia mengandung sekelompok makhluk hidup terdiri dari triliunan mikroorganisme yang penting bagi kesehatan selama mereka hidup.
Simbion mikroba ini membantu kamu mencerna makanan, memproduksi vitamin esensial, melindungi dari infeksi, dan melakukan banyak fungsi penting lainnya. Pada gilirannya, mikroba yang sebagian besar berada di usus, bisa hidup di lingkungan relatif stabil dan hangat dengan cadangan makanan yang stabil.
Tapi apa yang terjadi pada kelompok simbiosis ini saat seseorang meninggal dunia?
Jennifer DeBruyn, Profesor Mikrobiologi Lingkungan di Tennessee University, mengatakan bahwa mikroba dalam tubuh tidak akan hilang meski kita sudah meninggal. Alih-alih mati, mereka justru berperan penting dalam mendaur ulang tubuh sehingga kehidupan baru terus tercipta.

Kehidupan mikroba setelah kematian

Saat kita meninggal, jantung akan berhenti memompa darah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Sel-sel yang kekurangan oksigen mulai mencerna dirinya sendiri dalam proses yang disebut autolisis. Enzim dalam sel–yang biasanya mencerna karbohidrat, protein, dan lemak untuk energi atau pertumbuhan– mulai bekerja pada membran, protein, DNA, dan komponen lain yang membentuk sel.
Sel yang rusak ini jadi makanan yang sangat baik buat bakteri dalam tubuh. Tanpa sistem kekebalan yang menjaganya, ditambah tidak adanya pasokan makanan yang stabil dari sistem pencernaan, bakteri akan beralih ke sumber nutrisi lain. Bakteri usus, terutama mikrobiologi yang disebut Clostridia, menyebar melalui organ-organ tubuh lain dan memakan tubuh dari dalam dan luar dengan proses yang disebut pembusukan.
Pemakaman Pondok Ranggon di Jakarta. Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Tanpa oksigen dalam tubuh, bakteri anaerobik akan menciptakan tanda-tanda gas yang sangat bau pada proses penguraian. Dari sudut pandang evolusi, mikroba ini akan berevolusi untuk beradaptasi dengan tubuh yang sekarat. Seperti tikus di kapal yang tenggelam, bakteri akan segera meninggalkan inangnya dan bertahan hidup cukup lama untuk menemukan inang baru sebagai tempat tinggal baru.
Memanfaatkan karbon dan nutrisi tubuh, memungkinkan mereka meningkatkan populasi. Jumlah yang lebih besar membuat mereka bisa bertahan hidup di lingkungan lebih keras dan menemukan tubuh baru.

Invasi Mikroba

DeBruyn menjelaskan, saat seseorang dikubur di dalam tanah, mikroba akan dibuang ke dalam tanah bersama dengan cairan pengurai tubuh. Mereka memasuki lingkungan yang benar-benar baru dan bertemu dengan komunitas mikroba asing di sana.
Bersatunya dua komunitas mikroba yang berbeda adalah hal yang umum di alam liar. Hasil penggabungan bergantung pada banyak faktor, seperti seberapa besar perubahan lingkungan yang dialami mikroba dan siapa yang pertama kali berada di sana.
Mikroba dalam tubuh beradaptasi dengan lingkungan yang stabil dan hangat dalam tubuh tempat mereka menerima pasokan makanan. Sebaliknya, tanah adalah tempat yang sangat keras untuk ditinggali, tanah merupakan lingkungan yang sangat bervariasi dengan gradien kimia serta perubahan suhu, kelembapan, dan nutrisi berbeda.
Selain itu, tanah juga telah menjadi rumah bagi komunitas mikroba yang sangat beragam dan penuh dengan pengurai yang mampu beradaptasi dengan baik di lingkungan tersebut, bahkan mungkin bisa mengalahkan pendatang baru.
Mudah bagi kita beranggapan mikroba tubuh akan mati begitu mereka berada di dalam liang lahat. Namun, penelitian DeBruyn menunjukkan bahwa tanda DNA mikroba terkait dengan inang dapat dideteksi di tanah, di bawah tubuh yang membusuk, di permukaan tanah, dan di kuburan selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun setelah jaringan lunak tubuh membusuk.
Ilustrasi mikroba Foto: Pixabay/mmmccc
Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah mikroba tubuh masih hidup beberapa bulan setelah kita meninggal? Atau ada dalam keadaan tidak aktif sampai menemukan inang baru?
Studi baru DeBruyn yang terbit di The Conversation, menunjukkan mikroba tubuh tidak hanya hidup di dalam tanah, tapi juga bekerja sama dengan mikroba tanah–penghuni asli– untuk membantu menguraikan jasad.
Di laboratorium, hasil penelitian menunjukkan campuran tanah dengan cairan dekomposisi berisi mikroba yang bergabung dengan inang meningkatkan laju pembusukan. Mereka juga menemukan, mikroba yang bergabung dengan tubuh meningkatkan siklus nitrogen. Nitrogen merupakan nutrisi penting bagi kehidupan, tapi sebagian besar nitrogen di Bumi terkait sebagai gas atmosfer yang tidak dapat digunakan oleh organisme.
Pengurai memainkan peran penting dalam mendaur ulang nitrogen organik seperti protein menjadi bentuk anorganik seperti amonium dan nitrat yang dapat digunakan oleh mikroba dan tanaman.
“Temuan baru kami menunjukkan bahwa mikroba kita kemungkinan berperan dalam proses daur ulang ini dengan mengubah molekul besar yang mengandung nitrogen seperti protein dan asam nukleat menjadi amonium. Mikroba nitrifikasi di dalam tanah kemudian dapat mengubah amonium menjadi nitrat,” ujar DeBruyn.

Generasi penerus kehidupan

Daur ulang nutrisi dari detritus atau bahan anorganik tak hidup merupakan proses inti di semua ekosistem. Di ekosistem darat, pembusukan hewan mati atau bangkai memicu keanekaragaman hayati dan merupakan mata rantai penting dalam jaring makanan.
Hewan hidup merupakan penghambat siklus karbon dan nutrisi suatu ekosistem. Mereka perlahan-lahan mengumpulkan nutrisi dan karbon dari lingkungan sepanjang hidupnya, lalu menyimpan secara sekaligus di tempat kecil dan terisolasi ketika mereka mati.
Seekor hewan yang mati dapat mendukung seluruh jaringan makanan mikroba, fauna tanah, dan arthropoda yang mencari makanan dari bangkai. Serangga dan hewan pemulung membantu mendistribusikan kembali nutrisi dalam ekosistem.
Mikroba pengurai mengubah kumpulan molekul organik kaya nutrisi yang terkonsentrasi dari tubuh kita menjadi bentuk yang lebih kecil dan lebih kaya secara hayati sehingga dapat digunakan organisme lain untuk kehidupan baru.
“Bukan hal aneh untuk melihat tanaman tumbuh subur di dekat hewan yang membusuk. Ini merupakan bukti nyata bahwa nutrisi dalam tubuh didaur ulang kembali ke ekosistem. Mikroba kita memainkan peran penting dalam siklus ini adalah salah satu cara mikrokopis kita hidup setelah kematian,” kata DeBruyn.
Trending Now