Kabar Buruk! Populasi Spix’s Macaw Liar Terakhir Terinfeksi Virus Mematikan
1 Desember 2025 10:06 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kabar Buruk! Populasi Spix’s Macaw Liar Terakhir Terinfeksi Virus Mematikan
Nasib buruk kembali menimpa satu-satunya populasi burung Spix’s macaw yang tersisa di alam liar. kumparanSAINS

Nasib buruk kembali menimpa satu-satunya populasi burung Spix’s macaw yang tersisa di alam liar. Sebagian besar burung beo langka berwarna biru langit itu dinyatakan positif terinfeksi virus yang sangat menular dan mematikan. Kondisi ini menjadi pukulan telak bagi upaya pemulihan spesies yang sudah nyaris hilang dari muka bumi.
Burung-burung yang terinfeksi ini merupakan bagian dari Program Reintroduksi Spix's Macaw, sebuah inisiatif besar yang dipimpin oleh Chico Mendes Institute for Biodiversity Conservation (ICMBio). Program ini bertujuan mengembalikan burung cantik tersebut ke habitat alaminya di Curaçá, Brasil, setelah puluhan tahun punah di alam liar.
Spix’s macaw (Cyanopsitta spixii) adalah spesies beo berwarna biru cerah yang dulu hidup di hutan kering tropis Brasil bagian timur laut. Dengan bulu biru cerulean yang mencolok dan kepala biru keabu-abuan, burung karismatik ini dikenal luas sebagai inspirasi film animasi Rio pada 2011.
Sayangnya, spesies ini resmi dinyatakan punah di alam liar sekitar tahun 2018 - 2019, meski burung liar terakhir sebenarnya terlihat pada tahun 2000. Kabar baiknya, beberapa kebun binatang dan koleksi pribadi di berbagai negara masih memelihara Spix’s macaw yang bisa berkembang biak.
Sejak Juni 2022, puluhan Spix’s macaw hasil penangkaran yang kebanyakan dari Eropa telah diterbangkan ke Brasil untuk dilepasliarkan dalam program reintroduksi tersebut.
Namun harapan itu kembali goyah. Pada Mei 2025, tim ICMBio yang bekerja dengan burung-burung tersebut menemukan keberadaan Psittacine circovirus, penyakit virus yang menyerang berbagai spesies burung beo di dunia.
Penyakit yang juga dikenal sebagai Beak and Feather Disease Virus ini menyebabkan rontoknya bulu, pertumbuhan bulu abnormal, serta deformasi paruh. Tidak ada obat ampuh, dan sebagian besar burung yang terinfeksi tidak dapat diselamatkan.
Pada awal November, 11 ekor Spix’s macaw yang ditangkap kembali semuanya dinyatakan positif. Temuan ini menunjukkan bahwa circovirus telah menginfeksi populasi liar yang tersisa. Dilansir AFP, 21 burung lainnya dari sekitar 90 ekor yang masih berada di pusat penangkaran di Bahia juga positif.
ICMBio dan Kementerian Lingkungan Hidup Brasil sama sekali tidak puas dengan situasi ini. Mereka tampaknya menuding BlueSky, perusahaan yang mengelola fasilitas penangkaran berisi 103 ekor Spix’s macaw di Curaçá. Organisasi itu bahkan dijatuhi denda sebesar 340 ribu dolar AS karena dinilai tidak mematuhi protokol biosekuriti.
Fasilitas tersebut disebut dalam kondisi sangat kotor, dengan lantai penuh kotoran burung yang mengering. Para pekerja juga dilaporkan sering menangani burung tanpa alat pelindung yang semestinya, bahkan ada yang hanya mengenakan sandal jepit, celana pendek, dan kaus.
Kondisi seperti ini, kata pihak berwenang, bisa menjadi faktor penyebaran virus mematikan tersebut ke populasi burung liar dan semi-liar.
“Jika langkah-langkah biosekuriti diterapkan secara ketat dan benar, mungkin kita tidak akan melihat lonjakan dari satu ekor positif menjadi 11 burung positif circovirus,” ujar Cláudia Sacramento, koordinator Darurat Iklim dan Epizootik ICMBio yang memimpin respons terhadap kasus ini, seperti dikutip IFL Science.
“Kami berharap lingkungan sekitar tidak ikut terdampak, sehingga tidak membahayakan kesehatan spesies burung beo lainnya di alam.”
