Kebiasaan Belanja Online Bikin Sampah Plastik Menumpuk, Apa yang Bisa Dilakukan?
7 November 2025 16:28 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
Kebiasaan Belanja Online Bikin Sampah Plastik Menumpuk, Apa yang Bisa Dilakukan?
Kebiasaan belanja online ternyata berdampak serius ke tumpukan sampah di Indonesia. Nah, bagaimana cara mencegahnya? Cek selengkapnya, di sini!kumparanSAINS

Coba hitung berapa kali kamu belanja onlinedalam seminggu terakhir ini? Mungkin satu atau dua barang lewat e-commerce atau beberapa kali beli makanan melalui ojek online.
Ya, memang masyarakat Indonesia sudah sangat terbiasa dengan berbelanja online. Bahkan, untuk barang sekecil kopi susu, skincare, charger smartphone, atau seperti pulpen sekalipun.
Kemudahannya memang sangat membantu. Tapi di balik kebiasaan itu, ada hal lain yang ikut datang yaitu sampah plastik, bubble wrap bekas, karton tidak terpakai, hingga perekat usang. Semuanya kita lemparkan begitu saja ke tong sampah setelah melakukan unboxing paket.
Hal ini penting untuk dibicarakan. Pasalnya, berdasarkan data Bank Indonesia, nilai transaksi e-commercenasional mencapai Rp 44,4 triliun (year-on-year) pada Juli 2025.
Masalahnya, dari total transaksi itu, hampir semua paket dikemas dengan plastik demi melindungi barang yang kita beli. Lalu, ke mana sampah plastiknya berakhir jika pengelolaan sampah di Indonesia belum kian membaik?
Faktanya, semuanya hanya berakhir ke TPA tanpa berhasil diolah. Sebagian juga bisa berakhir di tanah atau laut dan berujung jadi cemaran mikroplastik. Belum lagi soal jejak karbon dari proses pengirimannya.
Eco-Conscious Lifestyle & Generation
Fakta-fakta ini tidak berarti membuat kita harus berhenti belanja online. Kita perlu lebih sadar dan bertanggung jawab terhadap pilihan dan konsumsi kita.
Nah, kumparan bersama Blibli ngobrol santai soal dampak lingkungan yang timbul dari kemudahan belanja online ini. Dalam Podcast Lab Special Edition βGreen Table Talksβ, Ignacia Chiara (Head of ESG Blibli), David Adiwijaya (CEO & Co-Founder of Life Cycle Indonesia), serta Sudono Salim (Chief Growth Officer/Co-Founder Jejakin) membahas tuntas masalah tersebut.
Tentunya tidak hanya bahas masalah, mereka juga memberikan cara terbaik bagi kita pengguna e-commerce untuk meminimalkan sampah hasil belanja.
Blibli sendiri sudah memulai langkah berkelanjutan di bawah payung bisnis Blibli Tiket Action yang menaungi berbagai inisiatif dan fitur ramah lingkungan. Mereka menghadirkan fitur Trade-In, Tanam Pohon, Layanan Green Delivery, hingga program Langkah Membumi Ecoground yang membawa semangat CollaborAction for the Earth dengan menggandeng karyawan, brand partner, mitra rantai, komunitas dan publik.
Konsep tersebut menekankan bahwa perubahan nyata hanya bisa tercipta jika semua pihak bergerak bersama (korporasi, ecopreneur, media massa, hingga publik luas) sebagai melting pot lintas sektor yang berkolaborasi memecahkan masalah lingkungan.
Inisiatif ini tidak hanya berhenti di ruang diskusi seperti Green Table Talks, tetapi juga mengubah gagasan menjadi aksi nyata (from table talks to real action) yang mendorong perubahan berkelanjutan.
Selain itu, sejak 2020, Blibli juga menjalankan Packaging Take Back Program agar pengguna bisa mengembalikan kardus atau kemasan bekas ke kurir untuk didaur ulang.
Kolaborasi ini membuktikan bahwa perubahan lingkungan tidak bisa dilakukan sendirian. Butuh kerja sama dari banyak pihak, termasuk anak muda yang berani bertindak.
Nah, seperti apa saran, masukan, dan langkah nyata yang kita bisa lakukan bersama? Lalu, apa saja yang dilakukan Blibli untuk mencegah produksi sampah plastik hasil bisnis mereka?
Semuanya terjawab di Podcast Lab Special Edition βGreen Table Talksβ. Kamu bisa tonton selengkapnya melalui YouTube kumparan!
