Kenapa Buang Air Besar Terasa Begitu Nikmat dan Melegakan?
28 Oktober 2025 10:50 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kenapa Buang Air Besar Terasa Begitu Nikmat dan Melegakan?
Kamu mungkin pernah mengalami tiba-tiba pengin buang air besar (BAB) padahal lagi enak menikmati kopi pagi-pagi. kumparanSAINS

Kamu mungkin pernah mengalami tiba-tiba hendak buang air besar (BAB) padahal lagi enak menikmati kopi pagi-pagi. Setelah selesai BAB, tubuh terasa ringan dan lega.
Pernah nggak sih kamu berpikir, kenapa setelah BAB tubuh terasa nikmat, lega, dan puas? Mood kembali membaik dan semangat buat jalanin aktivitas.
Menurut dr. Hannibal Person, dokter spesialis gastroenterologi anak di Seattle Children’s Hospital, meski perasaan lega dan puas adalah hal paling umum dialami manusia setelah BAB, tapi kita masih belum sepenuhnya memahami bagaimana proses buang air besar bekerja dan mengapa hal itu memberikan rasa lega.
Menurutnya, semua ini kemungkinan ada kaitannya dengan sejumlah faktor, termasuk fisik, perilaku, dan psikologis yang berperan dalam sensasi tersebut. Ketika usus mulai penuh, ujung saraf akan mengirim sinyal ke otak bahwa ada peregangan yang tidak nyaman di dalam tubuh. Peregangan ini kemudian memicu otot sfingter bagian dalam anus untuk terbuka secara otomatis. Namun berkat otot sfingter luar, kita bisa menahan diri agar tidak langsung buang air besar.
“Kita bisa mengencangkan anus, menegangkan otot dasar panggul, bahkan menahan dengan otot lain seperti hamstring untuk mencegah keluarnya kotoran,” ujar Person.
Namun, sensasi tekanan yang meningkat itulah yang memberi sinyal bahwa sudah waktunya ke toilet. Begitu kotoran dikeluarkan, tekanan itu pun hilang, dan rasa lega muncul.
Hal ini terbukti dalam beberapa penelitian menggunakan pemindaian otak fungsional (fMRI), kata Dr. Lucinda Harris, dokter spesialis gastroenterologi dari Mayo Clinic Alix School of Medicine di Arizona.
“Saat tekanan di dalam usus berkurang, area otak seperti anterior cingulate gyrus dan insula menunjukkan respons yang mirip dengan rasa ‘hadiah’ atau kepuasan,” jelasnya.
Dua bagian otak ini memang berperan dalam merespons rasa sakit dan kelegaan setelah rasa sakit itu hilang. Hubungan antara usus dan otak terjadi lewat saraf vagus, salah satu saraf utama di tubuh manusia.
Saat buang air besar, saraf vagus terstimulasi, sehingga dapat menurunkan tekanan darah dan detak jantung, menciptakan sensasi rileks, kata Person. Rasa lega setelahnya juga memperkuat kebiasaan ini secara positif dalam otak kita.
Selain itu, proses buang air besar mungkin juga memengaruhi saraf pudendal, tambah Person. Saraf utama di area panggul ini mengontrol ketegangan otot dasar panggul. Menahan buang air besar terlalu lama membuat otot dasar panggul menjadi tegang.
“Kalau orang terus menahan, area itu justru akan terasa lebih sakit dan tegang,” kata Harris. “Itulah mengapa melatih orang untuk bisa merilekskan otot tersebut sangat penting.”
Jadi, rasa lega setelah buang air besar ternyata bukan sekadar soal fisik, tapi juga hasil dari interaksi kompleks antara otot, saraf, dan otak yang bersama-sama membuat kita merasa “akhirnya plong”.
