Kisah Singa Gurun Terpaksa Berburu hingga ke Pantai demi Bertahan Hidup
19 November 2025 10:07 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Kisah Singa Gurun Terpaksa Berburu hingga ke Pantai demi Bertahan Hidup
Perubahan iklim memaksa singa gurun Namibia beradaptasi. Mereka kini turun ke pantai untuk berburu anjing laut demi bertahan hidup di habitat yang semakin ekstrem.kumparanSAINS

Sebuah pemandangan tak lazim terabadikan oleh lensa milik Griet Van Malderen, fotografer asal Belgia yang memotret seekor singa betina dengan latar deburan ombak di Skeleton Coast, Namibia. Singa itu bernama Gamma. Dia sedang menjaga anjing laut hasil buruannya yang tersembunyi dari pandangan Malderen.
"Ia menjaga anjing laut itu sepanjang hari," kata Van Malderen, mengutip BBC.
Fotonya yang dramatis ini mendapat pujian dalam ajang Wildlife Photographer of the Year yang diselenggarakan oleh Museum Sejarah Alam di London.
Gamma adalah bagian dari populasi kecil singa gurun Namibia. Ia dan sekitar 12 ekor lainnya adalah generasi pertama yang kembali beradaptasi dengan kehidupan pesisir, sebuah respons langsung terhadap perubahan iklim yang ekstrem.
Gurun Namibia yang tandus adalah habitat asli para singa itu. Sejak 2015, mangsa favorit mereka seperti burung unta, oryx, dan jerapah semakin sulit ditemukan akibat hilangnya vegetasi.
Kondisi ini memaksa mereka bermigrasi ke kawasan pesisir Samudra Atlantik dan beralih ke sumber makanan yang tak lazim kita dengar sebagai mangsa seekor singa, yakni burung kormoran, flamingo, dan terutama anjing laut.
Sejak pertama kali bertemu Gamma di usiaya yang baru 3 bulan, Van Malderen mencatat Gamma yang kini berusia 3,5 tahun telah menjadi pemburu yang ulung. Ia berhasil menangkap 40 ekor anjing laut dalam semalam.
"Perubahan iklim telah mendorong singa-singa gurun ini ke batas kemampuan mereka, memaksa mereka beradaptasi dengan cara luar biasa untuk bertahan hidup di pantai Atlantik," jelasnya.
Meski terdengar baru, perilaku ini sebenarnya adalah sebuah kembalinya kebiasaan lama.
Menurut ahli konservasi Philip Stander yang telah melacak singa gurun Namibia sejak 1980, populasi singa memang pernah hidup di Skeleton Coast pada era 1980-an sebelum terdesak ke pedalaman akibat kekeringan dan konflik dengan manusia.
"Generasi Gamma seperti menemukan jalan kembali ke pantai," kata Stander, pendiri Desert Lion Conservation Trust. Ia bahkan menjuluki mereka "singa maritim" karena kemampuan unik mereka memahami ekosistem laut untuk mencari makan.
Kini, evolusi itu berlanjut.
"Ada dua anak singa lahir di pantai pada Maret 2025 lalu," kata Van Malderen. "Akan sangat menarik mengikuti evolusi ini."
Mengenal Singa Gurun Namibia
Singa gurun Namibia secara fisik mirip dengan singa sabana. Namun, gaya hidup mereka telah membentuk mereka menjadi penjelajah hebat.
Mereka memiliki wilayah jelajah terluas di antara semua singa, mencapai 12.000 km persegi, sangat kontras dengan singa sabana yang hanya sekitar 100 km persegi.
"Mereka sangat bugar, atlet top," terang Stander. Mereka bahkan bisa bertahan hidup tanpa minum air, karena sebagian besar cairan mereka berasal dari daging yang dimakan.
Menurut peneliti senior di Museum Sejarah Alam London, Natalie Cooper, adaptasi ini juga memengaruhi struktur sosial mereka.
"Di wilayah ini, mereka bergerak dalam kelompok kecil melintasi jarak yang luas untuk mendapatkan cukup makanan," katanya.
Adaptasi luar biasa ini bukannya tanpa tantangan. Kedekatan singa dengan wilayah manusia memicu potensi konflik terulang kembali seperti tahun 80-an. Foto Van Malderen pun menjadi bukti yang krusial untuk mempelajarinya.
Kini, para penjaga menggunakan kembang api untuk menakut-nakuti singa yang terlalu dekat dengan pemukiman. Begitupun, sistem pagar virtual yang dipasang untuk memberi peringatan jika singa melewati batas tertentu, demi melindungi warga dan wisatawan di kawasan Skeleton Coast.
