Menkes Budi Mau Latih AI, Bantu Dokter Deteksi Stroke hingga Kanker

23 Oktober 2025 18:11 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menkes Budi Mau Latih AI, Bantu Dokter Deteksi Stroke hingga Kanker
Kemenkes latih AI canggih untuk bantu dokter di Indonesia. Menkes Budi Gunadi Sadikin ungkap rencana penggunaan AI untuk deteksi TBC dari X-ray, stroke dari CT scan, hingga kanker.
kumparanSAINS
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberikan keynote speech pada acara kumparan AI for Indonesia 2025 di The Ballroom at Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberikan keynote speech pada acara kumparan AI for Indonesia 2025 di The Ballroom at Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, tengah membangun sebuah ekosistem Kecerdasan Buatan (AI) yang akan dilatih secara masif menggunakan data kesehatan nasional. Tujuannya, untuk menciptakan alat bantu canggih bagi para dokter dalam mendeteksi penyakit-penyakit kritis seperti TBC, stroke, hingga kanker secara lebih cepat dan akurat.
Inisiatif ini merupakan bagian dari pilar transformasi teknologi kesehatan yang sedang digalakkan pemerintah.
"Digitalisasi, konektivitas, robotik, dan bioteknologi, nanti akan berdampak sangat besar terhadap perkembangan AI di kesehatan, yang nanti akan berdampak sangat besar terhadap layanan kesehatan di Indonesia," ujar Menkes Budi dalam acara kumparan AI for Indonesia 2025 di Djakarta Theatre, Jakarta.
Menkes Budi, yang memiliki latar belakang di bidang teknologi dan perbankan, menjelaskan langkah pertama adalah mengatasi masalah data kesehatan yang ia sebut "sangat kuno." Berbeda dengan data perbankan yang terstandarisasi dan terintegrasi secara global, data kesehatan di Indonesia masih terfragmentasi dan manual.
Untuk mengatasinya, Kemenkes telah mewajibkan 38.000 fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit, puskesmas, dan laboratorium, untuk terhubung dan menggunakan format data digital yang standar.Fondasi data ini diperkuat oleh program Cek Kesehatan Gratis yang telah menjaring data dari 44 juta orang sejak diluncurkan.
"Kita sekarang seharinya sudah 620.000 health data masuk ke cloud-nya Kemenkes. Ini nanti akan jadi masukan untuk melatih AI," jelasnya.
Dengan basis data yang masif, Kemenkes mulai melatih model-model AI untuk tugas-tugas spesifik yang membutuhkan keahlian tinggi. Beberapa program yang sudah berjalan antara lain:

Analisis X-Ray untuk TBC

Kemenkes melatih AI untuk membaca hasil rontgen paru-paru. Jika sebelumnya AI hanya mampu mendeteksi 31 jenis kelainan (readings), kini model tersebut sedang dilatih untuk mengenali hingga 124 readings.
"Di Indonesia AI-nya jadi pintar, karena segala macam penyakit (paru) ada di kita," kata Menkes.

Deteksi Stroke dari CT Scan

Di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON), AI sudah mulai dilatih untuk menganalisis hasil CT scan otak. Mengingat tingginya kasus stroke di Indonesia, AI diharapkan dapat membantu identifikasi dini dan penanganan yang lebih cepat.

Analisis Patologi Anatomi Kanker

Menkes menyoroti masalah kurangnya dokter spesialis patologi anatomi di Indonesia, yang membuat banyak pasien harus mengirim sampel biopsi ke luar negeri. Untuk mengatasi ini, AI dilatih untuk menganalisis sampel jaringan dan menentukan jenis kanker secara presisi.
"Nanti kita akan latih (AI) how to read, 'Oh ini kankernya non-Hodgkin lymphoma B, kemoterapinya cocoknya ini'. Kedokteran akan jadi jauh lebih saintifik, tidak empiris," paparnya.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberikan keynote speech pada acara kumparan AI for Indonesia 2025 di The Ballroom at Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Untuk mempercepat pengembangan, Kemenkes juga berkolaborasi dengan raksasa teknologi seperti Google untuk melatih model AI khusus kesehatan, Med-PaLM, menggunakan data-data medis dari Indonesia.
Menkes Budi menegaskan tujuan akhir dari semua inisiatif ini adalah menjadikan layanan kesehatan di Indonesia jauh lebih ilmiah dan berbasis data, di mana AI berperan sebagai asisten cerdas bagi para tenaga medis.
Trending Now