Niat Konsultasi Diet dengan ChatGPT, Pria Ini Malah Keracunan Bromida

12 Agustus 2025 10:35 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Niat Konsultasi Diet dengan ChatGPT, Pria Ini Malah Keracunan Bromida
Seorang pria berkonslutasi dengan ChatGPT mengenai perubahan pola makannya. Namun, tiga bulan kemudian ia keracunan bromida.
kumparanSAINS
Ilustrasi AI ChatGPT. Foto: Alex Photo Stock/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi AI ChatGPT. Foto: Alex Photo Stock/Shutterstock
Seorang pria melakukan konsultasi dengan ChatGPT sebelum mengubah pola makannya. Selama tiga bulan, ia konsisten menjalani perubahan pola makan yang disarankan oleh ChatGPT tersebut.
Namun, ia akhirnya harus dirawat di unit gawat darurat dengan gejala gangguan kejiwaan baru yang mengkhawatirkan, termasuk paranoia dan halusinasi.
Dalam laporan kasus yang dipublikasi di jurnal Annals of Internal Medicine Clinical Cases, ternyata pria berusia 60 tahun itu menderita bromisme, suatu sindrom yang disebabkan oleh paparan kronis yang berlebihan terhadap senyawa kimia bromide atau senyawa sejenisnya, bromin.
Pada kasus ini, pria tersebut telah mengkonsumsi natrium bromide yang dibelinya secara online.
Dilansir Live Science, Open AI selaku pengembang ChatGPT telah dihubungi terkait adanya kasus ini. Seorang juru bicara mengarahkan ke ketentuan layanan perusahaan, yang menyatakan bahwa layanannya tidak ditujukan untuk diagnosis atau pengobatan kondisi Kesehatan apa pun.
"Anda tidak boleh mengandalkan layanan kami sebagai satu-satunya sumber kebenaran atau informasi faktual, atau sebagai pengganti nasihat professional," ujar juru bicara OpenAI.
Ia menambahkan bahwa tim keamanan OpenAI bertujuan untuk mengurangi risiko penggunaan layanan perusahaan dan melatih produk agar mendorong pengguna untuk mencari nasihat professional.

Bahaya Bromida

Pada abad ke-19 dan ke-20, bromide banyak digunakan dalam obat resep dan obat bebas (OTC), termasuk obat penenang, antikonvulsan, dan obat tidur. Namun, penyalahgunaan obat-obatan ini menyebabkan bromisme.
Tahun 1970-an dan 1980-an, regulator AS menghapus beberapa bentuk bromide dari obat bebas, termasuk natrium bromida. Tingkat bromisme menurun secara signifikan setelahnya, dan kondisi ini masih relatif jarang terjadi hingga saat ini.
Namun, beberapa kasus bromisme masih terjadi, dengan beberapa kasus terbaru dikaitkan dengan suplemen makanan yang mengandung bromida yang dibeli secara online.
Pasien berkonsultasi dengan ChatGPT, penulis laporan tidak mendapatkan akses ke log percakapan pasien, sehingga susunan kata yang dihasilkan oleh model Bahasa besar (LLM) tidak diketahui.
Tetapi, pria tersebut melaporkan bahwa ChatGPT menyatakan klorida dapat ditukar dengan bromida, sehingga ia mengganti semua natrium klorida (garam dapur) dalam makanan dengan natrium bromida.
Ilustrasi Makanan tinggi garam. Foto: Motortion Films/Shutterstock
Dalam upaya mensimulasikan apa yang mungkin terjadi pada pasien, seorang dokter mencoba bertanya kepada ChatGPT 3.5 tentang klorida bisa diganti dengan apa, dan mereka mendapat respons yang menyertakan bromida.

Pulih dari Bromisme

Setelah tiga bulan mengkonsumsi natrium bromida, pria tersebut melaporkan diri ke unit gawat darurat dengan kekhawatiran bahwa tetangganya telah meracuninya.
Hasil laboratoriumnya saat itu menunjukkan penumpukan karbondioksida dalam darahnya, serta peningkatan alkalinitas (kebalikan dari keasaman).
Ia juga tampak memiliki kadar klorida yang tinggi dalam darahnya, kendati demikian, kadar natriumnya normal. Setelah diselidiki, ternyata ini adalah kasus "pseudohiperkloremia", yang berarti tes laboratorium untuk klorida memberikan hasil yang salah karena adanya bromida dalam darah sehingga mengganggu pengukuran.
Kondisi vital pasien stabil setelah diberikan cairan dan elektrolit, seiring membaiknya kondisi mentalnya setelah mengkonsumsi antipsikotik, ia dapat memberi tahu dokter tentang penggunaan ChatGPT.
Meskipun AI merupakan alat yang sangat potensial untuk menjembatani antara ilmuwan dan komunitas non-akademis, AI juga berisiko menyebarkan informasi yang tidak sesuai konteks.
Dalam simpulan laporan tersebut, menekankan bahwa seiring meningkatnya penggunaan alat AI, penyedia layanan kesehatan perlu mempertimbangkan faktor risiko ini. Saat pasien berobat, tenaga kesehatan perlu menelusuri lebih dalam apakah ada riwayat sebelumnya yang menunjukkan pasien mencari solusi medis, di luar konsultasi dengan dokter.
Trending Now